Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Demokrasi Afghan, Antara Kecabulan dan Kesundalan

Bagikan:

Hidayatullah.com–Delapan tahun setelah invasi AS yang menjanjikan kemajuan dan kemerdekaan, warga Afghan melihat demokrasi ala Barat sebagai nama lain dari pencabulan dan perzinahan.

“Saya melihat tanda demokrasi pada pelanggan-pelanggan saya, yaitu terbukanya tangan dan leher mereka,” ujar Mansur Aslami, 21, pemilik toko kosmetik kepada AFP (4/8).

Ia juga mendefinisikan demokrasi sebagai anak lelaki dan perempuan jalan bersamaan di jalan, dan tidak dipertanyakan lebih lanjut.

Banyak warga Afghan yang telah beralih kepada budaya asing yang diimpor dari AS, negara yang telah memporakporandakan Afghan pada 2001 saat invasinya dengan alasan menggulingkan Taliban.

“Aku tidak tahu apa makna demokrasi,” ujar Noor Ali, penduduk Kabul yang kini berusia 81 tahun. “Aku hanya tahu bahwa ketika aku bertanya kepada seorang wanita. ‘kenapa kamu keluar dengan dandanan hampir telanjang,’ kemudian wanita itu menjawab, ‘Paman, inilah demokrasi.”

Sebagian besar dari 13 channel TV lokal di Afghanistan, terus memutar musik-musik dan film Barat dan mengabaikan kritik yanng mengingatkan bahwa program mereka telah jauh berlari dari nilai Islam.

“Demokrasi Barat adalah kebebasan dan persundalan (zina),” terang Wasim, seorang pelayan berumur 28 tahun yang bekerja di restoran kebab di Kabul.

Keburukan Demokrasi

Ali, seorang sesepuh di Kabul, menyatakan kritiknya terhadap budaya baru yang kini menyentuh hampir seluruh lapisan masyarakat di Afghan.

“Apakah ini demokrasi? Menari, mempertontonkan kulit, dan memperkosa?” celanya. “Jika ya, seharusnya budaya itu tak boleh masuk ke Afghan.”

Pendapat Ali tersebut diiyakan oleh Wasim. “Ini demokrasi menurut Amerika dan Eropa. Dan sekarang, hal itu juga berkembang di sini.”

Wahid Mujda, seorang analis, mengatakan bahwa trend yang berkembang di negara berbudaya Islam seperti Afghan, telah menyebabkan kebingungan.

“Ketika kami menanyakan apa itu demokrasi, masyarakat Afghan cenderung menganggapnya sebagai kurangnya kesopanan dan hidup tanpa agama.”

Namun, Muhammad Halim (25), percaya bahwa pemilihan presiden dan wali provinsi, akan menawarkan pencerahan baru kepada Afghan. Dan membawa Afghan ke alam demokrasi yang sebenarnya.

“Aku akan memberikan suaraku kepada orang yang akan melayani dan bersetia kepada Islam dan negara,” tegasnya,

“Kami berhak menentukan nasib kami.” [atj/iol/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Hanya Bertahan Setahun Charlie Hebdo Edisi Jerman Tutup

Hanya Bertahan Setahun Charlie Hebdo Edisi Jerman Tutup

Jutaan Demonstran akan Kumpul Di Kairo Hari ini

Jutaan Demonstran akan Kumpul Di Kairo Hari ini

Deportasi Kasygari Sisakan Polemik di Malaysia

Deportasi Kasygari Sisakan Polemik di Malaysia

April Adzan Pertama, Nopember Masjid di Fittja Dilempari Kaki Babi

April Adzan Pertama, Nopember Masjid di Fittja Dilempari Kaki Babi

Raja Arab Saudi Resmikan Universitas Khusus Perempuan

Raja Arab Saudi Resmikan Universitas Khusus Perempuan

Baca Juga

Berita Lainnya