Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Negara-Negara Barat Penyandang Dana Aktivitas Al-Qaidah

Bagikan:

Rabu, 12 Oktober 2005

Hidayatullah.com—Amerika Serikat (AS), Inggris, dan sejumlah negara Barat lainnya diyakini memiliki peran sangat signifikan dalam pembentukan kelompok Al-Qaidah dan Taliban, kelompok yang hari ini oleh Amerika selalu dipersalahkan. Demikian disampaikan oleh Nazhar Ariayi, seorang pengamat politik Afghanistan dan juga direktur Lembaga Riset Ilmu Politik Ariana, saat diwawancarai oleh Radio Iran.

Menurut Ariayi, berbagai indikasi yang ada menunjukkan bahwa secara organisatoris, Taliban dan Al-Qaidah memiliki keterkaitan dengan Dinas Rahasia Inggris.

Menurutnya pula, AS dan sejumlah negara Barat lainnya adalah penyandang dana utama untuk membiayai berbagai kegiatan kedua lembaga itu.

Ditambahkan oleh Ariayi, tujuan utama negara-negara Barat dalam menciptakan sekaligus membiayai kegiatan Al-Qaidah dan Taliban adalah dalam rangka merusak citra Islam di mata masyarakat.

Perihal hubungan gelap lembaga-lembaga intelijen AS juga pernah disampaikan penulis Jerman, Andreas Broeckers. Dalam bukunya, “Verschwoerungen, Verschwoerungstheorien und Geheimnisse des 11.9.” [Konspirasi, Teori Konspirasi dan Rahasia 11 September]. Terbit awal September 2002,  pernah mengungkap rahasia hubungan Usamah bin Ladin dengan CIA.

Usamah, demikian ujar Broeckers, adalah produk intelijen AS yang didukung penuh sebagai kelompok teror melawan Uni Soviet.

Pada Januari 2001, pemerintahan Bush yang baru dibentuk melarang FBI dan CIA menghentikan menyidikan terhadap klan Bin Laden.

Menurut harian Perancis Le Figaro, pada Juli 2001, seorang utusan CIA menjenguk Bin Laden yang dirawat di rumah sakit AS di Dubai.

 Hubungan gelap orang-orang yang kini sangat diburu Amerika sebenarnya tak hanya dalam kasus Usamah.

Jenderal Mahmud Ahmed, Kepala Dinas Intelijen Pakistan [ISI], juga berkolaborasi erat dengan CIA. Juli 2001, Mahmud dikabarkan mentransfer uang sebesar 100 ribu dollar AS kepada pilot teroris Muhammad Atta. Selain itu, dari tanggal 4 hingga 19 September 2001, Jenderal Mahmud Ahmed melakukan kunjungan resmi ke AS dengan tujuan Pembicaraan tentang Taliban.

Tanggal 11 September 2001, ia bahkan bersantai makan pagi di Capitol Hill dengan dua orang ketua divisi intelijen AS. (irib/hid/cha)

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Ahmad Sadzali

Bagikan:

Berita Terkait

Vatikan Lakukan Tindakan Hukum Terkait Rekayasa Foto Ciuman

Vatikan Lakukan Tindakan Hukum Terkait Rekayasa Foto Ciuman

ISIS/ISIL Hancurkan Kuil Berusia 2.000 Tahun di Palmyra

ISIS/ISIL Hancurkan Kuil Berusia 2.000 Tahun di Palmyra

Saat Khutbah Idul Adha di Masjid, Gubernur Logar Dibom

Saat Khutbah Idul Adha di Masjid, Gubernur Logar Dibom

Taliban Ledakkan Truk Minyak AS

Taliban Ledakkan Truk Minyak AS

Fatah dan Liga Arab Tolak Perundingan Langsung Palestina-Israel

Fatah dan Liga Arab Tolak Perundingan Langsung Palestina-Israel

Baca Juga

Berita Lainnya