Selasa, 26 Oktober 2021 / 20 Rabiul Awwal 1443 H

Internasional

Bendera Palestina Berkibar di Gaza

Bagikan:

Senin, 12 September 2005

Hidayatullah.com–Bendera Palestina dikibarkan di seluruh permukiman Jalur Gaza, Senin sementara pasukan keamanan mengambil alih kekuasaan dari tentara Israel yang menduduki daerah itu selama empat dasawarsa.  Rezim Zionis Yahudi hari ini akan mengakhiri keberadaan pasukan militernya di
seluruh wilayah Jalur Gaza.

Seperti dilaporkan Kantor Berita AFP,
sumber-sumber pemberitaan Yahudi menyatakan, penarikan mundur pasukan
Yahudi dari Jalur Gaza akan dimulai hari ini . Secara
terpisah, sumber-sumber militer Yahudi menyebutkan, acara penyerahan
resmi wilayah Jalur Gaza kepada pemerintah Palestina akan dilaksanakan
dalam dua tahap.

Tahap pertama dilaksanakan di pintu gerbang Eriz dan
tahap berikutnya di pangkalan Militer Israel di Jalur Gaza selatan.

Gemuruh suara tembakan dan cahaya peluru  menerangi langit pada malam hari sementara konvoi-konvoi pasukan Israel menuju perbatasan, yang menandakan akan segera berakhirnya kehadiran militer yang telah memicu konflik dan pertumpahan darah itu.

Pasukan terakhir Israel menurut jadwal akan meninggalkan daerah kecil Mediterania itu sekitar
Senin subuh, yang meninggalkan setumpuk puing dan 24 gereja Yahudi yang akan dibongkar oleh Palestina
setelah Israel menolak tugas itu.

Ribuan personil keamanan Palestina mulai memasuki permukiman-permukiman sekitar pukul 01:00 waktu
setempat (05:WIB) Senin, menguasai seluruh blok permukiman Gush Katif di selatan pada saat itu.

Mereka menari dan bergembira dalam permukiman yang sangat terlarang bagi warga Palestina selama 38 tahun.

"Bendera-bendera Palestina dikibarkan di masing-masing permukiman" termasuk bekas ibukota tidak resmi Neve Dekalim, kata jurubicara Kementerian Dalam Negeri Palestina Tawfiq Abu Khussa kepada AFP.

Penarikan pasukan Israel menyusul pengevakuasian semua pemukim dari Gaza tiga pekan lalu, satu tindakan politik oleh PM Ariel Sharon yang untuk pertama kali Israel memindahkan warga Yahudi dari daerah Palestina yang diduduki.

Keberangkatan pasukan Israel dilakukan pada hari yang gelap hampir seperti yang terjadi pada penarikan
pasukan Israel dari Lebanon selatan lebih dari lima tahun lalu tapi sangat berbeda dengan citra para
pemukim yang ditendang dan diusir secara paksa dari rumah mereka dan gereja -gereja Yahudi bulan lalu.

Seorang jurubicara tentara Israel membenarkan bahwa konvoi-konvoi itu menuju dua perlintasan perbatasan
sementara seorang jurubicara Kementerian Pertahanan mengatakan pasukan terakhir diperkirakan akan
berangkat antara pukul 06:00 waktu setempat dan pukul 07:00 (10:00 dan 11:00 WIB).

Suasana permusuhan terakhir masih juga terjadi pada saat terakhir, dengan kepala staf Angkatan Darat
memperingatkan bahwa Israel tidak akan mentolerir serangan pada masa mendatang setelah penarikan itu.

"Kami tidak akan membiarkan anda lari dari tanggungjawab anda. Kami tidak akan mentolerir
terorisme dan tujuan utama adalah menjaga perbatasan ," kata Dan Halutz, Ahad pada acara penurunan bendera di permukiman Neve Dekalim.

Menteri Pertahanan Shaul Mofaz, Halutz dan kepala kepolisian Moshe Karadi menurut rencana akan bertemu
dengan tentara di Israel selatan sekitar pukul 08:30 waktu setempat (12:30 WIB).

Tahap terakhir pengunduran diri itu, satu operasi yang kontroversial yang membuat terpecahnya Israel tapi
disambut baik oleh masyarakat internasional, memberikan lampu hijau ketika kabinet setuju
gereja-gereja Yahudi ditinggalkan secara utuh

Kesal dengan keputusan Israel itu, para pemimpin Palestina mengatakan pihaknya akan membongkar
gereja-gereja itu setelah beberapa jam menguasai daerah-daerah yang telah ditinggalkan.

"Jika ia menghormati agama, Israel harus memindahkan gereja-gereja ini kembali ke wilayahnya," kata Menteri Urusan Sipil Palestina Mohammed Dahlan.

Selain dari gereja-gereja itu hampir semua 21 bekas permukiman telah dibongkar dalam tiga pekan sejak para pemukim Yahudi dievakuasi oleh tentara dan polisi.

Kedua pihak mengaku bahwa rumah-rumah para pemukim tidak memadai untuk memenuhi perumahan bagi 1.3 juta warga Palestina yang miskin, yang tinggal di salah satu dari tempat-tempat yang paling padat di dunia. (atn/irib)

 

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Al-Qaida Bantah Punya Hubungan dengan ISIL

Al-Qaida Bantah Punya Hubungan dengan ISIL

Iran Vonis Mati Pemukim Swedia Terdakwa Mata-Mata Israel

Iran Vonis Mati Pemukim Swedia Terdakwa Mata-Mata Israel

Polisi Pembunuh Anggota Al-Ikhwan Mesir Ditahan

Polisi Pembunuh Anggota Al-Ikhwan Mesir Ditahan

Prancis Bersikukuh Kirim Dubes Gay ke Vatikan

Prancis Bersikukuh Kirim Dubes Gay ke Vatikan

Larangan Baru Donald Trump Picu Demonstrasi, Sejumlah Orang Shalat di Bandara Amerika

Larangan Baru Donald Trump Picu Demonstrasi, Sejumlah Orang Shalat di Bandara Amerika

Baca Juga

Berita Lainnya