Jum'at, 12 Februari 2021 / 29 Jumadil Akhir 1442 H

Internasional

Pemilu Iraq Terlaksana, tapi Konflik Masih Panjang

Bagikan:

Hidayatullah.com–Sebanyak 72% pemilih Iraq dikabarkan telah memberikan suara mereka dalam Pemilu pertama di negeri itu setelah dijajah Amerika Serikat (AS). Tentu saja, informasi ini bersumber dari media dan pejabat Amerika Serikat (AS). Sumber-sumber lain dari rakyat Iraq sendiri belum banyak diperoleh. Sementara itu, pada saat yang sama, serangkaian serangan bom bunuh diri, roket, dan mortir terus menyalak dan menewaskan sedikitnya 37 orang. Bom-bom dan mortir itu sebagai tanda ketidak setujuan rakyat Iraq atas Pemilu yang diselenggarakan atas prakarsa AS.

Meski berbagai media masa mengabarkan rakyat Iraq telah melaksanakan Pemilihan Umum untuk pertama kalinya semenjak dijajah AS dan sekutunya, gelombang serangan oleh pejuang Iraq yang bertekad mengacaukan pemilihan itu terus berlangsung.

Perdana Menteri Iyad Allawi, yang memilih di daerah Zona Hijau di Baghdad yang dikawal sangat ketat, mengatakan pemilihan itu adalah awal sebuah era baru di Iraq. Presiden Ghazi al-Yawar, termasuk orang pertama yang memilih, dan dia mendorong seluruh warga Iraq untuk mendatangi tempat tempat pemungutan suara. Para pejabat menyatakan lebih dari 5000 tempat pemungutan suara dibuka di seluruh Iraq bagi 14 juta warga Iraq yang berhak memilih.

Sebagian besar pemilih di wilayah selatan Iraq yang didominasi etnis Syi’ah tampak antusias mengikuti Pemilu. Misalnya, Taha Lufta. Lelaki tua itu sudah menunggu di luar TPS di sekolah Al Amaali, Basra, saat tempat itu dibuka pukul 07.00 (pukul 11.00 WIB) waktu setempat.

“Saya ingin menjadi yang pertama datang ke sini dan mendorong orang-orang untuk memilih. Saya orang tua dan ingin menjadi contoh bagi yang lain,” ujarnya.

Antrian panjang dilaporkan terjadi di Kota Sadr, di Baghdad, tempat tinggal lebih dari 2,5 juta warga Syi’ah, dan juga di daerah warga Kurdi di Iraq utara. Tapi hampir tidak ada pemilihan dilakukan di Fallujah, Ramadi dan Samarra, di sebelah barat dan utara Baghdad, yang berpenduduk mayoritas warga Muslim Sunni. Di kota Mosul di Iraq utara yang berpenduduk campuran warga Sunni dan warga Kurdi, jalan jalan tampak lengang dan tempat tempat pemungutan suara kosong.

Tingkat kehadiran pemilih dari kalangan kaum muslim Sunni tampak rendah. Mengomentari hal itu, Kepala Dewan Pemerintahan Kota Samarra Taha Hussein mengatakan, situasi keamanan yang buruk menyebabkan kaum Sunni enggan mendatangi TPS. Di kota itu, tidak ada pemilih yang menggunakan haknya. Di kota Sunni lainnya, seperti Falluja, Ramadi, dan Mosul, TPS-TPS terlihat lengang. TPS di kawasan Segi Tiga Kematian, yakni Latifiyah, Mahmudiyah, dan Yusufiyah, malah tidak dibuka.

Sebaliknya, kaum muslim Syi’ah antusias memberikan suara. Mereka berharap kandidat dari kaum Syi’ah bisa memenangi pemilu pertama pascatumbangnya Presiden Saddam Hussein April 2003 itu. Warga Kurdi juga terlihat banyak yang mendatangi TPS-TPS.

Protes Pemilu

Meski media Barat menyebut Pemilu itu sukses, sejumlah ledakan bom dan serangan roket serta mortir tetap terjadi hampir di seluruh Iraq, termasuk di Baquba. Militer AS mengatakan, sedikitnya terjadi sembilan serangan bunuh diri di sekitar Bagdad. Sementara itu, kelompok Abu Mussab al-Zarqawi dalam satu situs internet menyatakan bertanggung jawab atas 13 serangan bom bunuh diri di hari pencoblosan itu.

Pemilu Ahad kemarin sedikitnya menewaskan lebih dari 20 orang, sebagian besar tewas dalam serentetan pemboman bunuh diri yang ditujukan ke tempat tempat pemungutan suara di sekitar Baghdad. Beberapa ledakan juga terjadi di kota kota lain, termasuk di kota Baquba dan di kota Basra.

Kementerian Dalam Negeri Iraq menyatakan, serangan di hari pemungutan suara itu menewaskan sedikitnya 30 warga, enam polisi Iraq, dan seorang serdadu AS. Warga yang tewas meliputi tiga perempuan dan seorang bocah. Korban tewas itu belum termasuk pelaku pengeboman bunuh diri. Sedikitnya 26 warga Iraq dan tiga warga Mesir tersangka anggota kelompok perlawanan telah ditangkap.

Di Hilla, sebuah bom meledak di bus yang membawa para pemilih Sunni. Lima orang tewas dan 14 luka-luka dalam serangan itu. Sementara itu, seorang pengebom yang menggunakan ikat pinggang penuh bahan peledak beraksi dan menewaskan tujuh orang dan dua polisi di luar sebuah TPS.

Seorang pengebom berusaha masuk ke kediaman Menteri Kehakiman Malik Douhan al-Hassan di Bagdad. Seorang penjaga tewas ketika dia meledakkan bomnya di luar gerbang penjagaan. Dalam serangan bom bunuh diri di sebuah pasar di Distrik Mansur, seorang warga tewas dan empat lainnya luka-luka.

Selain bom bunuh diri, sejumlah TPS dihajar serangan mortir. Satu mortir mendarat di sebuah TPS di Sadr City, yang mayoritas warganya penganut Syiah. Empat pemilih tewas dan tujuh luka-luka akibat serangan itu. Serangan serupa juga terjadi di Balad, Bagdad utara, dan membunuh seorang wanita dan seorang bocah. Serangan lainnya di Balad menewaskan seorang pemilih. Dalam serangan lainnya terhadap pasukan AS, di al-Anbar, seorang serdadu AS tewas.

Malam menjelang pemilu tersebut, dua warga AS tewas dan empat lainnya terluka dalam serangan bom ke kompleks Kedutaan Besar AS di Zona Hijau, Bagdad.

Pemilu Iraq hari Ahad kemarin menurut rencana akan memilih 275 anggota Majelis Nasional yang akan menyusun konstitusi untuk pembentukan pemerintahan permanen yang akan dipilih nanti.

Sebelumnya, rakyat Iraq berharap ingin menentukan nasib negara sendiri tanpa di bawah pengaruh Amerika Serikat (AS), warga Iraq lain berharap agar Iraq di bawah konstusi Islam. Namun nampaknya, Amerika tak mau melepaskan kepentingannya di Iraq. Peristiwa ini kemudian membuat beberapa kelompok melakukan bentuk protes diantaranya melakukan boikot karena merasa Pemilu kali ini hanya untuk kepentingan Amerika Serikat (AS) semata.

Beberapa pengamat mengatakan, meski AS berhasil memaksakan Pemilu –yang menurut AS dianggap demokratis—konflik antar kepentingan pasca Pemilu masih bakal lama. Mantan Dubes RI di Iraq Dahlan Abdul Hamid misalnya, mengatakan, pasca Pemilu dimungkinkan konflik antar kelompok bakal terjadi. Apalagi, sudah banyak orang tau, sejak awal sudah ada bau AS. “Bagi banyak orang Iraq AS itu bukan akhi (saudara), “ujarnya seperti dukutip Elshinta Ahad (30/1) kemarin.(el/ap/rtr/afp/voa/hid/cha)

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Joe Biden Resmi Jadi Capres dari Demokrat Dalam Pilpres AS November 2020

Joe Biden Resmi Jadi Capres dari Demokrat Dalam Pilpres AS November 2020

Akhirnya Annan Akui Gagal Selesaikan Krisis Suriah

Akhirnya Annan Akui Gagal Selesaikan Krisis Suriah

Katedral Cologne Nyatakan Perang Kepada Burung Perdamaian

Katedral Cologne Nyatakan Perang Kepada Burung Perdamaian

Pasukan Iran Bunuh Gadis Ahwazi Saat Menangkap Ayahnya

Pasukan Iran Bunuh Gadis Ahwazi Saat Menangkap Ayahnya

Protes Harga Anjlok, Petani di Sardinia Buang Susu

Protes Harga Anjlok, Petani di Sardinia Buang Susu

Baca Juga

Berita Lainnya