Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Australia Razia Mahasiswa Berwajah Indonesia

Bagikan:

Hidayatullah.com–Semenjak peristiwa Mariott minggu lalu, Aparat keamanan Australia secara serentak melakukan pemeriksaan di beberapa stasiun-stasiun kereta api. Beberapa stasiun yang digeledah adalah stasiun pusat kota, Petersham, Macdonald town dan Summer Hill, di mana selama ini dikenal sebagai stasiun sibuk yang selama ini dipenuhi penumpang asal Asia.

Yang mengejutkan, pemeriksaannya aparat federal Asutralia justru difokuskan kepada warga, terutama pelajar dan mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Banyak ras Asia memprotes perlakuan aparat Australia ini.

Tapi, Dennis Richardson, Direktur Jendral Organisasi Intelijan Keamanan Australia pada hari Rabu 13 Agustus 2003 mengungkapkan, bahwa serangan lebih mengerikan dari peristiwa 11 November sangat mungkin terjadi di Australia dan hal ini hanya menunggu waktu.

Dengan alasan itu, aparat keamanan Autralia dengan seenaknya melakukan penggeledahan terhadap orang-orang, terutama berwajah Indonesia meski telah diprotes berbagai kalangan.

Rabu, 13 Agustus, dan hari-hari berikutnya dengan alasan adanya laporan dari masyarakat bahwa kemungkinan besar ada empat orang yang dicurigai (disinyalir ber-ras micronesia) berencana akan meletakkan ‘paket yang mencurigakan’ (fihak intelijen tidak mau menyebutkan apa isi paket tersebut) di atas salah satu kereta api di Sydney train Network, Sydney.

Alih-alih meredam masyarakat, Asisten Komisaris Polisi Dick Adams menekankan kepada wartawan setempat bahwa, ia ingin keadaan aman, dan ancaman tidak akan secara normal hingga polisi Austria bertindak mempertinggi siaga dan keamanan.

“Keamanan menakutkan tidaklah dihubungkan dengan terrorisme,” ujarnya meyakinkan wartawan 14 Agustus lalu.

PM Australia, John Howard sendiri pada berbagai media massa mengungkapkan, dirinya tidak bisa menolak pendapat petinggi intelijen itu dan menyatakan dengan tegas.

“Kita (masyarakat Australia) perlu menyiapkan diri kita akan kemungkinan terjadinya serangan teroris di Australia, dan kita akan melakukan semampu kita untuk mencegah hal itu terjadi, namun saya tidak bisa menjanjikan dan menjamin hal itu tidak akan terjadi,” ujarnya

Seorang mahasiswa asal Indonesia yang terkena razia dan sempat diperiksa ditanyai beberapa hal. Diantaranya, nama dan alamat. Aparat bahkan mencatat alamat mahasiswa asal Indonesia itu untuk dilacak lebih lanjut. Tak uruang peristiwa ini makin membuat mahasiswa asal Indonesia makin gelisah.

“Saya rasanya tidak lagi merasa nyaman menuntut ilmu disini. Masak setelah stress dikampus, harus ditambah lagi dengan stress karena dicurigai sebagai teroris,” kata mahasiswa yang tak mau disebut namanya. “kalau begini, rasanya kita-kita jadi pingin cepat pulang…,” tambah mahasiswa lain.

Walaupun ada keluhan dari kelompok masyarakat tertentu, tetapi perlakuan diskriminasi dengan melakukan razia dan pengawasan terhadap orang-orang ber-ras Asia dan Micronesia kelihatannya akan terus berlanjut.

Diskriminasi

Sebelumnya, Oktober tahun lalu, petugas agen Intelijen ASIO melakukan penggeledahan terhadap rumah-rumah warga Indonesia di negeri Kanguru itu dengan mengkait-kaitkan dengan Jamaah Islamiyah, lembaga yang hingga kini belum jelas bentuknya.

ASIO (Australian Security Intelligence Organisation), secara mendadak menggeledah warga negara Australia asal Indonesia di Perth dan di beberapa kota.

Aparat bahkan menggunakan senapan otomatis, penutup wajah, dan peralatan mirip perang. Beberapa orang saksi di tempat itu mengatakan merasa ngeri dan sangat shock melihat peralatan perang dan senjata yang dikenakan para petugas tersebut. Salah seorang yang rumahnya telah digeledah pihak polisi Feredal dan ASIO di kawasan Perth, Jan Herbert, mengatakan sangat shock.

Australia adalah tetangga negara Indonesia yang selama ini mengalami sedikit hambatan hubungan karena pernyataan berbagai pejabatnya yang selalu membuah panas telinga warga Indonesia. Meski secara geografis masuk wilayah Asia, namun secara politis Australia berkiblat dan tunduk pada kepentingan Amerika Serikat. (cha berbagai sumber)

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Qatar Bangun Stadion 100 M untuk Israel

Qatar Bangun Stadion 100 M untuk Israel

Takut Diretas, Belanda Hitung Surat Suara Pakai Tangan

Takut Diretas, Belanda Hitung Surat Suara Pakai Tangan

Pakistan Mengatakan Serangan India Bunuh Tiga Warga Sipil

Pakistan Mengatakan Serangan India Bunuh Tiga Warga Sipil

Mubarak akan Disidang Ulang, Pendukungnya Bersorak

Mubarak akan Disidang Ulang, Pendukungnya Bersorak

Mufti Saudi Ajak Kaum Muda Hentikan Kebut-kebutan

Mufti Saudi Ajak Kaum Muda Hentikan Kebut-kebutan

Baca Juga

Berita Lainnya