Senin, 15 Februari 2021 / 3 Rajab 1442 H

Internasional

Bir Dan Rok Mini Mulai Bebas di Kabul

Bagikan:

Hidayatullah.com–Para pelayan China dengan mengenakan rok mini menyajikan bir Tsing Tao untuk pelanggan yang bersantai mengikuti irama karaoke. Ini merupakan suatu pengalaman terbaru makan malam di Kabul setelah jatuhnya Taliban. Tempat sederhana yang diberi nama Chinese Restaurant telah merintis keberhasilan sejak membuka pintu dan meluncurkan operasinya di ibukota Afghanistan tersebut. Pesan tempat, kata manager restoran itu Wang Wentian, adalah keharusan. Tak perlu dikatakan lagi, kebanyakan warga Kabul akan menghadapi segelintir kursi kosong di restoran sebelum ambruknya rejim garis keras Taliban tahun lalu orang memandang staf restoran akan cukup untuk mengundang hukuman. Tetapi, kata Wang, restoran tersebut berdiri di barisan depan gelombang baru dan berani yang dilakukan penanam modal China untuk memasuki pasar yang sangat menjanjikan kendati gaya pakaian stafnya telah membuat orang terheran-heran. “Saya harus mengubah pakaian itu. Anda harus berfikir mengenai semua ini dari sudut pandang budaya Muslim, tapi mereka tidak menulisnya dalam peraturan,” kata Wang yang duduk di lantai dasar tempat dia menanam modal dengan harga 160.000 dolar AS. “Saat ini kami sangat sibuk, tapi saya telah mengirim surat ke China untuk memesan pakaian yang lebih panjang,” katanya. Wang, yang berasal dari kota Hangzhou China Timur, tak ingin menyinggung perasaan orang Afghanistan, terutama karena 25 persen restorannya dimiliki oleh sektor eksport-import milik pemerintah. Kompromi, katanya, layak dilakukan. “Dua puluh tiga tahun perang tidak memberi negeri ini kontak dengan dunia luar. Saya kira, ini akan menjadi peluang usaha yang sangat besar. Akan banyak uang dapat dihasilkan di sini,” katanya. Penanam modal lain Kendati Wang menghadapi kesulitan untuk membujuk delapan pegawainya, termasuk tiga jurumasak, tiga pelayan dan dua pembantu jurumasak, bahwa cukup aman untuk datang ke Kabul, dia sudah memiliki rencana untuk memperluas usahanya dan berharap kehadirannya akan menarik penanam modal lain dari China. “Saya ingin membawa lebih banyak orang guna melakukan usaha di sini,” katanya menambahkan. Meskipun Afghanistan baru saja mengubah peraturannya guna melicinkan jalan bagi pengusaha asing untuk memasuki pasarnya, China seperti Wang jelas sangat ingin mendirikan toko di negara tetangganya di Asia tengah yang diporak-porandakan perang tersebut. “Saya memperoleh banyak bantuan dari kedutaan besar China. Tanpa mereka, saya kira saya tak dapat datang ke sini,” kata Wang yang tampaknya telah mengimport seluruh isi restorannya dari negerinya. Pengaruh China kian terlihat di Kabul. Barang elektronik murah dari China menggeser barang-barang pesaingnya dari Jepang dan Pakistan dari rak, sementara sepeda buatan Shanghai memenuhi jalan ibukota Afghanistan tersebut. Dalam isyarat yang ditujukan untuk menjembatani kedua negara itu dan membersihkan jalan bagi peningkatan perdagangan, Cina bulan lalu setuju untuk menghapuskan utang Afghanistan yang bernilai beberapa juta dolar AS dari tahun 1960-an. Awal tahun ini Beijing juga melancarkan upaya guna meraih hati di Kabul dengan menyumbangkan paket bantuan hewan bagi kebun binatang kota tersebut yang kekurangan aset: sumbangan hewan liar yang meliputi singa, beruang, srigala dan babi. Menurut jurubicara kedutaan besar China di Kabul, Beijing dengan giat mendorong warganya untuk datang ke Afghanistan saat masih banyak negara menasehati warga mereka agar tidak datang. “Kedutaan besar China di sini menyarankan rakyat dari negeri kami untuk menanam modal di Afghanistan,” kata jurubicara kedutaan itu Ji Tao. Sejak Kabul dan Taliban jatuh, rok mini, film, minuman keras mulai bisa ditemukan secara bebas di Afghanistan. Sebelumnya, kebebasan cara Barat seperti itu tak pernah ditemukan. Bahkan pencurian saja jarang ditemukan karena takut sanksi hukumnya. Kini, setelah AS masuk, semuanya menjadi lain. (wp/ap/cha)

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Merananya Kaisar Jepang, Ingin Meletakkan Tahta Tak Bisa karena Terhalang Konstitusi

Merananya Kaisar Jepang, Ingin Meletakkan Tahta Tak Bisa karena Terhalang Konstitusi

Pengadilan Bebaskan Majikan Sumiati

Pengadilan Bebaskan Majikan Sumiati

Kamp Pengungsi Suriah di Libanon dibakar, 75 Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal

Kamp Pengungsi Suriah di Libanon dibakar, 75 Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal

Rohingya Bukan Satu-Satunya Kelompok Teraniaya di Myanmar

Rohingya Bukan Satu-Satunya Kelompok Teraniaya di Myanmar

Jerman akan Tarik Pasukannya dari Afghanistan

Jerman akan Tarik Pasukannya dari Afghanistan

Baca Juga

Berita Lainnya