Kisah Perjalanan ke Baitullah [4]

Tanpa Tulang di Arafah

Di Arafah, kita hanyalah tubuh tanpa tulang, dan bayi yang hanya mampu merengek dan menangis, karena ego dan kuasa kita benar-benar dilucuti Allah lewat perasaan tidak mampu

Tanpa Tulang di Arafah

Terkait

Sambungan artikel KETIGA

 

ARAFAH YANG AGUNG. Tepat tengah malam, hening dan penuh doa, bus kami yang besar bergerak pasti, kami merapal semua doa. Doa permohonan, ampunan, pujian, dan lain-lain, sampai habis dan terus berulang dan menyambung. Sesekali pembimbing kami mengucap talbiyah, kemudian kami susul bersahutan. Suara kencang itu seakan hilang tertelan malam. Hati kami seperti tergantung diantara langit dan bumi. Kami merinding, maklum kami segera masuk kawasan Arafah, tempat puncak ibadah haji dilakukan, Wukuf.

Sesekali bus berhenti. Hanphone muttowif dan sopir bergantian berdering, untuk menginformasikan jalanan mana yang dibuka. Jika mereka tidak awas, bisa terjebak macet dan akan terlambat masuk Arafah. Karena pemerintah Saudi melakukan pola buka tutup pada semua jalur menuju Arafah. Kami hanya bisa berdoa, semoga semuanya lancar. Hanya suara mesin yang terdengar keras. Bus yang berisi 30 orang itu senyap, mungkin sibuk menenangkan hatinya masing-masing.

Menjelang Wukuf. Berulang kali pembimbing haji kita selalu mengingatkan untuk menata hati, melepaskan semua beban, iklas dan menyerahkan kepada Allah, hanya Allah. Sehingga masuk Arafah lebih siap. Doa-doa dan semua keinginan kalau perlu ditulis, jangan ada yang lewat. Disini, di kawasan ini orang bisa tiba-tiba bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Kisah tentang jamaah haji yang tiba-tiba stress berat, atau kena heatstroke akibat tidak kuat menahan panas dan dehidrasi sudah sering kudengar. Haji memang benar-benar memerlukan fisik prima dan penataan psikis yang baik.

Tengah malam, masuklah kami ke area Arafah. “Sebelah kanan, itu tenda jamaah Indonesia yang ambruk, kena badai barusan,” kata Kang Uep. Saya hanya melirik saja, saya lebih cemas menata hati sendiri. Hati saya saat itu seperti tergantung tali tipis antara langit dan bumi. Kalau saya berhasil melewati Arafah, hati saya akan melayang menembus langit, kalau tidak, hati saya akan jatuh dan hancur berkeping-keping. Imajinasi saya seperti film.

Tengah malam kaki kami menjejak Arafah. Inilah pertama kali dalam hidup kami ada disini. Puncak semua ibadah, puncak semua permohonan. Kami semua melewati malam dengan kegelisahan, tak jenak untuk istirahat. Ustad dan Muttowif menyarankan agar kami istirahat, karena jangan sampai justru saat puncak wukuf siang hari sampai matahari terbenam kita terlibas kantuk. Nyamuk perdu ‘menyanyi’ menyambut kami di kemah Arafah. Namun kelelahan melelapkan kami semua. Dengan masih memakai kain ihrom, saya mengikat ujung-ujungnya agar tak terbuka saat tertidur.

Pagi dimulai dengan subuh yang hangat. Lalu kami mengambil sarapan berupa roti di pos-pos yang telah disipakan. Air putih dan Popmie menjadi primadona. Sampai kemudian pagi yang terik membuat kami keluar masuk tenda, karena AC di tenda berubah jadi kipas angin saja. Jalanan antar tenda jadi ramai. Saya melihat beberapa pejabat dari Jakarta ngopi dan antri ambil makanan.
Disini semua sama, tidak ada perbedaan. Hanya mengenakan dua lembar kain ihram dan melakukan prosesi yang sama. Jutaan orang berkumpul disini. Dengan satu harapan, memutihkan kembali catatan dosa, mencari ampunan Allah Subhanahu Wata’ala. Karena pada hari istimewa ini Allah sungguh membanggakan manusia di depan malaikat. Subhanallah…

Arafah adalah daerah terbuka dan luas di sebelah timur Kota Makkah, di padang yang luas inilah, inti ibadah haji dilaksanakan.

Nabi Muhammad pernah ditanya oleh sekelompok orang dari Nejed tentang haji, maka beliau menjawab: “Haji itu adalah Arafah”.

Di kawasan ini juga terletak Jabal Rahmah, sebuah tugu peringatan yang didirikan untuk mengenang tempat bertemunya nenek moyang manusia Nabi Adam dan Siti Hawa di muka bumi.

Arafah - Mihrab2a

Matahari dengan cepat naik di atas ubun-ubun, telepon sejak sebelum siang sudah tak bisa digunakan. Otoritas Saudi mematikan jaringan seluler sekitar di sekitar Arafah dengan alasan agar jamaah haji lebih khusuk. Kami yang kangen dengan anak-anak dan keluarga yang ada di rumah hanya bisa membayangkan wajah, tanpa bisa menelepon. Saya urutkan doa dan permintaan satu per satu. Nama-nama istimewa dalam hidup saya catat dengan baik, lalu saya beri catatan kecil. Surat-surat dari anak-anak yang hanya boleh di buka di Arafah juga saya siapkan.

Kami Masuk waktu dhuhur. Kami seakan masuk dalam mesin waktu maha besar yang akan ‘mempertemukan’ kami semua dengan Allah. Ya… benar, kita seakan bertemu Allah. Waktu luar biasa ini hanya terjadi di bulan Dzulhijjah, persisnya saat dhuhur sampai terbenam matahari. Saat matahari sudah tergelincir dari tengah hari, (pukul 12 siang) hitungan wukuf sudah dimulai. Kamis egera melakukan Dhuhur dan Ashar yang dilakukan secara ‘Jamak Taqdim‘, shalat Ashar dilakukan bersama shalat Dhuhur pada waktu Dhuhur dengan 1 X azan dan 2 X iqamat.

Setelah selesai, disunahkan seorang imam untuk mulai berkhutbah, menyeru kepada kebesaran Allah dan membimbing doa. Gang-gang disekitar tenda jadi sepi, tidak ada seorangpun yang hilir mudik. Suara khutbah bersahutan dari tenda satu ke tenda lain. Saya bayangkan, tiap pribadi punya dimensi lain dalam dirinya. Saya sendiri seperti masuk sebuah perpustakaan besar, tempat semua buku harian saya disimpan, tempat semua rahasia paling dalam pun mudah dicarinya. Buku dosa-dosa hidup inilah yang akan dihapus oleh Allah, agar hidup kita jadi lebih baik. Rabbannaaa…

Setiap mendengar Talbiyah, dan seruan Allah, hati dan mulut ini gemetar, air mata bersusulan berlinangan. Perasaan sungguh hina itu nyata ada, dan Allah yang maha baik melihat kita bersimpuh sujud di hadapannya, pada hari yang paling mulia.

“Tidak ada hari di mana Allah membebaskan hambanya dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Allah mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim)

Ya Allah…. jatuh hati ini terasa, lumat ditelan rasa bersalah, namun tanganmu begitu besar memeluk dan merangkul ku dengan kasih sayang maha dahsyat,…. Ya Allah…

Kami yang masing-masing berpasangan, kemudian mengambil tempat di Arafah yang sebenar-benarnya, tidak di bawah tenda, tetapi di bawah langit tanpa penghalang. Perasaan kami, seakan-akan Allah melihat kami, tangis makin menjadi. Memaafkan pasangan menjadi momen yang menimbulkan guratan-guratan hati, dari hati-hati yang lemah milik kami. Segala puji hanya bagimu Ya Allah, kini lautan ampunan kau sediakan untuk kami. Benar-benar hanya kepada Engkau kami berharap.

Lalu kami buka buku list catatan kami, yang tertulis si A mohon didoakan seperti ini, si B dan seterusnya. Kami mengejar ijabah Arafah. Yang berat adalah membuka surat anak-anak kami, tentang harapan mereka dan cita-cita mereka. Kami buka berdua, membaca sambil menagis tak henti, menagis dan menagis, mumpung Allah melihat, memuliakan dan menyaksikan. Kami pun meminta agar anak-anak selalu dalam lindungan Allah. Selang seling gambar anak-anak ada di depan mata. Kami lunglai tak berdaya.

Yang lebih membuat sedih adalah, mendokan ibu bapak yang sudah tiada maupun yang masih ada. Ingin rasanya merengkuh mereka dan berdoa bersama, namun semua hanya terwakili oleh tangis yang merentet tak beraturan. Bapak ibu yang membesarkan kami hingga membuat seperti ini. Sungguh Allah, berikan mereka kemulian yang paling mulia. “Hari ini kami meminta ya Allah, meminta yang terbaik untuk kami, anak-anak kami, keluarga dan bapak ibu kami. Tetapkankah rahmad Mu untuk kami Ya Allah… terus dan terus,” begitu kataku. Doa-doa berbahasa Arab sudah tandas, sekarang berganti menjadi keluhan, rengekan, permintaan, pokoknya semuanya …. benar-benar kami lungkai Ya Allah ya Rahman.

Menjelang matahari terbenam, waktu makin berlalu, hati menjadi kosong dan sepi. ‘perjuampaan’ dengan Allah ini membahagiakan sekaligus melelahkan hati kami, karena kami harus mengingat semua kejadian atau orang yang membuat kita berlilit dosa. Kini saatnya melepas semuanya. Astagfirullah…Hatiku mengaduh, Kasihanilah aku yan Allah. Sinari hidupku…

Tangis kami bukan makin reda, makin deras dan hati kami makin tak berdaya, tubuh kami lunglai, melihat matahari meluncur turun. Kami sungguh memohon ya Allah. Perasaan kami seperti anak kecil yang akan ditinggal pergi, hati kami mengerang, kalau bisa, selamanya perasaan nikmat ini. Ingin waktu membeku, waktu tidak berlalu. Sungguh Perjumpaan di hari yang nikmat. Kami tak bisa menggambarkan dengan kata-kata, meskopun Allah melucuti semua perasaan mampu kami.

Langit barat mulai semburat merah, seakan mewakili hati kami terhadap ‘perjumpaan’ ini. Kami benar-benar tidak rela berpisah. Tapi siapa yang bisa mencegah? “Baik Ya Allah, kami akan berjalan kembali,” kataku dalam hati. Saat itu aku ingat surat Al Fatihah, “Tunjukilah jalan yang lurus” kalau hari biasa kami baca, hati kami tak pernah ‘tersentuh’ karena bacaan itu. Tapi disini surah ini menggetarkan kami. Saya melepas magrib dengan selalu membaca surah itu. Dalam imajinasiku, Allah melepas kami berjuang kembali, seraya dia bilang, “Tidak akan lama di dunia sayangku, tetapkan hatimu…,” saya menangis lagi. Sungguh engkau dekat ya Allah. Dan kau tak akan membiarkanku sendiri. Allah mungkin hanya mengangguk dan tersenyum. Ampuni jiwa ini Ya Allah.

“Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para Nabi sebelumku ucapkan adalah La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir.” (HR. at-Tirmidzi)

“Ya Allah tiada tuhan selain Allah yang tiada sekutu bagi-Nya,bagi-Nya segala kerajaan dan segala puji.Dia yang menghidupkan dan mematikan. Ia hidup tidak mati. Di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia Maha kuasa.”

Matahari akhirnya tenggelam, wukuf berakhir. Kami kembali ke belantara dunia. Kami mengais-ngais sisa rasa ‘perjumpaan’ teramat manis itu. Hati kami bahagia, sungguh tak ada kata bisa menjelaskannya. Beban berat kehidupan kami itu didengar Allah, banyak janji terpetik dari sini, ingin lebih baik, ingin rendah hati, ingin banyak hal yang baik-baik saja.

Saya tahu, mengapa orang ngantri sekian tahun untuk berhaji dan ingin lagi dan lagi. Karena perasaan wukuf di arafah itu tidak ada tandingnya, padahal ini hanya rasa saja. Karena itulah kebahagian penghuni surga adalah bertemu Allah.

Kami semua meninggalkan Arafah dengan mata bengkak. Rombongan keluar agak malam untuk menghindari kemacetan. Suasana sudah agak sepi, saya mandi agar lebih segar setelah seharian dijemur panas dan debu. Mata saya awas melihat sekeliling. Saya ingat kata-kata seorang muthowif yang bilang begini; “ Setelah jamaah haji meninggalkan Arafah seringkali orang melihat di arafah tiba-tiba banyak hewan, mulai monyet sampai harimau,” katanya, saya tidak percaya, Ia kemudian melanjutkan “Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat, karena itu adalah dosa-dosa jamaah yang tertinggal disini .” Saya hanya mesem sambil naik ke bus. Perjalanan kami terhadang rombongan ambulans yang me-wukuf-kan jamaah yang sakit. Lalu kami melanjutkan perjalanan, air mata masih saja menetes. Saya seka dengan ihram yang semoga bisa menemani saya di liang kubur nanti.

Ah… Ya Allah, mau ngomong apa lagi? Kecuali bersyukur, bersyukur dan bersyukur yang tak ada habisnya.* [Habis]

|Artikel Pertama| |Artikel Kedua| |Artikel Ketiga|

Rep: Luthfi Subagyo

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !