Kisah Perjalanan ke Baitullah [1]

Madinah, Kota yang Selalu Dirindukan

Madinah. Kota yang menetramkan hati, kota yang diberkahi, sampai debu-nya saja bisa menjadi obat. Kota yang bakal selalu kita rindukan

Madinah, Kota yang Selalu Dirindukan
Lutfi Subagyo
Setelah tinggal beberapa saat di Madinah, banyak jamaah yang tidak mau beranjak pulang. Ya... Hommy istilahnya, seperti rumah sendiri

Terkait

Hidayatullah.com—Perjalanan haji ke Baitullah (Rumah Allah) adalah perjalanan istimewa, yang sering disebut satu-satunya perjalanan karena ‘undangan Allah Subhanahu Wata’ala’. Perjalan spiritual ini selalu diimpikan oleh semua Muslim seluruh dunia.

Kali ini, hidayatullah.com menurunkan kisah perjalanan haji ke Baitullah dalam tulisan (empat tulisan). Kisahnya dibuat dalam bentulis tulisan bertutu, merupakan kisah perjalanan Lutfi Subagyo,  mantan wartawan grup Jawapos. Inilah kisahnya.

‘BERTEMU NABI’

Kami meninggalkan Madinah dengan tangis masih tesisa. Madinah, tiada kata yang bisa disandarkan dan disejajar dengan kota ini. Kota yang menetramkan hati, kota yang bakal selalu kita rindukan. Tidak ada rasa cuaca panas, meski derajat cuaca menunjuk angka diatas 40 derajat, dia cuma ‘hangat’ saja. Inilah kota yang diberkahi, sampai debu-nya saja bisa menjadi obat dan kota inilah yang terakhir akan digulung Allah saat kehidupan dunia berakhir.

Setelah tinggal beberapa saat di Madinah, banyak jamaah yang tidak mau beranjak pulang. Ya… Hommy istilahnya, seperti rumah sendiri, kerasan banget. Seperti anak kecil menemukan mainan, seperti orang dewasa yang menemui kesenangan Penduduknya lebih ramah ramah dibanding Makkah, lebih familiar dibanding Makkah yang ‘metropolis’.

Di Madinah, saya seperti bertamu di rumah Rasullulah, saya jadi ingat kisah-kisah Ash-Shuffah, tempat pendidikan yang didirikan Rasulullah disekitar masjid Nabawi. Inilah yang kemudian jadi cikal bakal sekolah. Di tenda-tenda Ash-Syuffah ini para sahabat menginap, bertahan berbulan-bulan menuntut ilmu, berdiskusi sekaligus menyerap semua akhlaq nabi lewat kehidupan sehari-hari

Madinah memang beda, bukan karena masjid Nabawi yang sangat dingin AC-nya, namun karena hati kita menjadi lebih tenteram. Satu hal yang penting, harus bisa menangis.

“Jika tidak bisa menangis, mintalah ganti hati sama Allah,” kata Ustad Rasyidin, pembimbing haji kami selama haji.

Dan bertambah lega jika sudah menangis di Raudhah (taman surga), tempat berkarpet hijau membentang antara rumah dan mimbar nabi. Inilah kunci agar bisa menikmati Madinah, bertamu ke rumah Nabi, yang dulu terletak berdampingan dengan rumah Rasulullah.

‘Bertamu’ ke Masjid Nabawi, doa, harapan, tangis menjadi satu. Di tengah keheningan masjid, di sela ingatan, tergambar dan kita terlempar ke masa lalu, seakan Rasulullah benar-benar nyata. Karena Rasulullah seolah akan menjawab semua salam kita, bahkan dalam dunia imajiner kita, Rasullullah hidup dan menyambut kedatangan kita, melambaikan tangan, bahkan menyapa kita.

“Hai Hajj…. dari Jakarta ya..” duh rontoklah hati bila itu terjadi. Namun di Tanah Haram ini semua bisa terjadi. Ada saja cerita jamaah yang mengaku-ngaku bertemu dengan Rasulullah.

Dalam Sirah (sejarah) Nabi, Sosok Nabi Muhammad tinggginya rata-rata orang, tidak pendek dan tidak juga tinggi. Secara fisik Nabi digambarkan sangat sempurna, sampai ulama mengatakan jika Nabi Yusuf sepertiga kegagahan dunia, maka Rasulullah diberikan  semua kegagahan dunia.

Anas bin Malik ra berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bukan orang yang tinggi sekali, dan tidak pula pendek. Tidak juga putih sekali, dan tidak berwarna coklat. Rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak terlalu lurus. Beliau diutus Allah ketika berusia empat puluh tahun dan menetap di Makkah selama sepuluh tahun dan di Madinah selama sepuluh tahun. Beliau wafat ketika berusia enam puluh tahun sementara di rambut kepala dan janggut beliau tidak lebih dari dua puluh helai uban.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shalallallahu ‘Alaihi Wassallam juga berkulit putih bersih.

Anas Ibn Malik RA berkata: “Warna kulit Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam putih bersih, bukan putih pucat atau hitam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Hasan Ibn Ali RA , saya bertanya kepada pamanku, Hind ibn Abi Halah tentang hidung Rasulullah Shalallallahu ‘Alaihi Wassallam. Beliau menjawab : “Rasulullah Shalallallahu ‘Alaihi Wassallam memiliki hidung yang mancung namun kecil tulang hidungnya.” (HR. Ibn Sa’ad)

Diriwayatkan Al-Barra, dia Berkata : “Rasulullah adalah orang yang paling tampan wajahnya, sosoknya paling sempurna,beliau tidaklah tinggi menjulang dan tidaklah pendek.” (HR.Bukhari).

Ibn Abbas meriwayatkan : “Gigi depan Rasulullah Shalallallahu ‘Alaihi Wassallam tampak renggang. Ketika berbicara, diantara gigi depan beliau itu seperti keluar cahaya.” (HR. al-Tirmidzi dan al-Darimi).

Saya membayangkan semua itu, betapa sempurnya beliau.

***

Sinar matahari mulai tampak memerah di timur, ujung-ujung payung raksasa di pelataran Masjid Nabawi itu mulai memerah terkena sinar matahari. Saya dengan keras melambaikan tangan berkali-kali ke kubah hijau, kubah yang tepat diatas peristirahatan Rasulullah. Mata saya hanya melihat bangunan hijau itu, mata saya penuh airmata, namun rasa hati merasa Rasullulah di ujung sana, tengah melambaikan tangannya. Jadilah kami menangis sejadinya. “Ya Allah, beri kesempatan lagi, kami kembali bersama Rasullullah.” Air mata itu terus menerus menetes.

“Ya Rasullullah, kenalilah kami nanti saat di Padang Mahsyar, panggil kami nanti saat dalam kebingungan.” Hati ini seperti direngkuh dengan kuat oleh perasaan yang justru tak mau meninggalkan Masjid Nabawi,

“Entah mengapa kami merasa dekat dan merasa beliau masih hidup,” ujar seorang sahabat haji yang terus menerus mengelap air matanya.

Saya memeluk istri, meminta maaf untuk membersihkan hati sebelum menginjak Makkah. Lalu kami diberi sesi telepon ke tanah air, untuk berpamitan dan minta maaf. Tangis pecah lagi. Kami meninggalkan Madinah dengan tangis haru, air mata tidak juga kering meskipun kami sudah melintasi batas gerbang besar di luar Kota Madinah.

Jarak kota Madinah dan Makkah sekitar 550 km, biasanya ditempuh enam samai tujuh jam jam perjalanan dengan bus yang nyaman.

Perjalanan selama itu seperti sebentar, karena jalanan highway Route 15 itu hampir mulus banget. Nanti, perjalanan sejauh itu akan lebih cepat karena kita bisa naik Kereta api Haramain, yang tahun lalu diuji coba oleh Pemerintah Arab Saudi.

Hajilutfi2a

Madinah memang beda, bukan karena masjid Nabawi yang sangat dingin AC-nya, namun karena hati kita menjadi lebih tenteram [Foto: LS]

Dengan Kereta Haramain ini, jarak Makkah dan Madinah dapat ditempuh hanya dalam tempo 90 menit. Kereta itu ditargetkan mampu mengangkut sekitar 19.600 penumpang setiap jamnya.

Perjalanan ke Makkah sudah kita lakukan dengan memakai kain ihram untuk langsung mengambil miqat di Masjid Bir Ali yang jaraknya hanya 15 menit dari Madinah tepatnya 11 km dari Masjid Nabawi.

Namun perjalanan ke Makkah ini mengkhawatirkan, karena di depan langit hitam pekat menggantung .

“Wah sepertinya di depan hujan,” kata sopir bus dengan logat sunda. Benar, tak begitu lama kemudian pandangan di depan coklat pekat, jarak pandang hanya satu meter.

“Ini badai pasir,” katanya. Bus yang besar itu mau tak mau harus memilih menepi dan berjalan pelan-pelan. Saya merasa bus digoyang pelan angin yang membawa pasir itu. Saking halusnya pasir yang terbang, meski pasir menabrak kaca jendela, tak menimbulkan bunyi berisik.

Sesaat setelah lolos dari badai pasir itu, kami masuk dalam suasana yang tak terduga. Hujan turun dengan lebat, sesekali kilatan dan suara petir menyambar.

Di horizon yang hitam terlihat jelas bagaimana kilat merambat yang mengkhawatirkan. Cuaca yang tak menentu membuat kami makin kenceng berdoa dan mohon ampun, karena situasi seperti ini amat jarang terjadi di dua kota suci ini, Madinah dan Makkah. Kami berhaji pada musim panas, saat cuaca benar-benar ekstrim. Madinah memang lebih dingin empat atau lima derajat, Katakanlah waktun siang Madinah 45 derajat, Makkah bisa dipastikan tembus 50 derajat.

Namun banyak mobil justru yang memilih minggir dan penumpangnya turun hujan-hujan.

“Jarang hujan, jadi mereka hujan-hujan,“ kata sopir bis kami. Hujan deras itu menyulap kanan kiri jalan menjadi kubangan air seperti rawa-rawa.

Bus melaju lagi, saya lebih sering melayangkan pandangan keluar, melihat gunung-gunung batu dan padang pasir yang luas. Di hati saya hanya mengira-ngira, “Bagaimana dulu Rasullullah berjuang menegakkan agama Allah, di medan yang maha sulit seperti ini? Dan bagaimana saat hijrah dari Makkah ke Madinah?”

Dari berbagai sirah, Rasulullah saat siang berhenti dan baru berjalan kala malam tiba. Banyak pertanyaan tidak terjawab, kecuali syukur berkali-kali atas semua perjuangan Rasullullah, sehingga hati kami punya ketetapan Islam.* (bersambung)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !