Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Info Haji & Umrah

[Berita Foto] Benar-benar Haji Backpacker

zulfahmi/hidayatullah.com
Tanah dan bebatuan di sebuah bukit di Mina menjadi saksi ketaatan sekelompok jamaah Haji Backpacker.
Bagikan:

Hidayatullah.com- Selama ini, Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan kebijakan kepada warganya dan muqimin (WNA) yang tinggal di sana agar menggunakan tasrih (surat izin) dalam menunaikan ibadah haji.

Tasrih yang dikeluarkan oleh Kementerian Haji ini diperuntukkan bagi mereka yang akan berhaji untuk pertama kalinya (Haji Islam). Adapun yang telah tercatat pernah menunaikan haji sebelumnya, maka akan mendapatkan tasrih haji setelah lima tahun kemudian.

Kebijakan ini dikeluarkan agar terjadi keselarasan antara tempat-tempat pelaksanaan haji, seperti Masjidil Haram, Mina, Muzdalifah, dan Arafah, dengan jumlah jamaah haji yang datang tiap tahunnya. Sehingga kesempatan ibadah haji bisa dirasakan oleh umat Islam dari seluruh dunia, bukan hanya warga Saudi.

Tindak lanjut dari kebijakan ini adalah diberlakukannya razia di perbatasan-perbatasan Kota Makkah oleh pihak berwajib. Bagi yang tidak memiliki KTP Makkah ataupun tasrih haji, maka tidak boleh memasuki kota suci tersebut. Razia biasanya dimulai dua pekan menjelang tanggal 8 Dzulhijjah dan semakin ketat bila mendekati hari H pelaksanaan haji.

Bila ditinjau dari peraturan pemerintah Arab Saudi, jamaah haji yang berada di Makkah setidaknya terbagi dalam dua kelompok besar. Yaitu yang berhaji menggunakan tasrih resmi dan yang tidak menggunakan tasrih. Yang kedua masyhur disebut Haji Koboi atau Haji Backpacker.

Para jamaah Haji Backpacker itu berasal dari Makkah dan luar Makkah, seperti Madinah, Jeddah, dan Thaif. Mereka yang dari luar Makkah menggunakan berbagai cara untuk sampai ke Tanah Suci tersebut.

Ada yang menggunakan jasa angkutan mobil penduduk setempat, dengan cara melewati jalan-jalan khusus, untuk menghindari titik-titik razia di perbatasan Makkah. Ada pula yang berjalan kaki melewati padang pasir, bukit-bukit, dan pegunungan.

Beresiko, Tapiā€¦

Resiko yang mereka hadapi sebenarnya sangatlah besar, dari keselamatan jiwa sampai masalah hukum. Bila ditangkap oleh pihak berwajib, hukuman penjara dan denda menanti, bahkan sampai tingkat dideportasi.

Tetapi, bila sudah berhasil memasuki Makkah tanpa terkena razia, keadaan akan kembali aman bagi para jamaah backpacker itu, bahkan bisa dikatakan tidak ada razia setelahnya.

Setelah tiba di Makkah, para Haji Koboi itu akan melakukan rangkaian ibadah haji sebagaimana jamaah yang lain.

Jamaah Haji Backpacker ini sedang shalat Maghrib. [Foto: Zulfahmi]

Jamaah Haji Backpacker ini sedang shalat Maghrib. [Foto: Zulfahmi]

Tanah dan bebatuan di sebuah bukit di Mina pun menjadi saksi ketaatan sekelompok jamaah Haji Backpacker. Mereka berdiri, rukuk, dan sujud di hadapan Sang Pencipta alam semesta. Maghrib di kota Mina, Kamis (24/09/2015), 10 Dzulhijjah 1436 H.

Namun, pengamatan hidayatullah.com, para Haji Backpacker itu tidak mendapatkan fasilitas khusus layaknya pemilik tasrih, seperti tenda di Mina dan Arafah, transportasi bus, kereta listrik, dan makanan pokok.

Akan banyak ditemukan para jamaah Haji Backpacker berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain, seperti Arafah-Muzdalifah dan Mina-Masjidil Haram. Mereka juga mendirikan tenda-tenda darurat untuk peristirahatan. Atau hanya berteduh di bawah pepohonan. Bahkan ada yang hanya berlantaikan tanah dan beratapkan langit.

Di banyak titik Masyairil Haram terdapat fasilitas MCK umum, sehingga masalah buang hajat dan mandi bukanlah masalah.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan, di antara jamaah Haji Backpacker ada yang membawa bahan makanan dan alat untuk memasak.

Mereka juga terbantu dengan fasilitas gratis dari pemerintah Saudi berupa air bersih siap minum yang berada di pinggir-pinggir jalan. Ada juga makanan dan minuman gratis dari para muhsinin.

[Foto: Zulfahmi]

[Foto: Zulfahmi]

Jamaah haji asal Pakistan usai melaksanakan shalat Maghrib berjamaah di perbukitan Mina, 10 Dzulhijjah 1436 H.

[Foto: Zulfahmi]

[Foto: Zulfahmi]

Dengan berbekal alat masak, air mineral, dan bumbu seadanya, jamaah Haji Backpacker asal Pakistan ini memasak daging qurban untuk santap malam. Keberkahan Idul Adha di Mina, 10 Dzulhijjah 1436 H.

[Foto: Zulfahmi]

[Foto: Zulfahmi]

Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi kecuali bertasbih mengagungkan kebesaran Tuhannya. Alam ini menyiapkan dirinya dengan keramahan, untuk tamu-tamu Allah yang datang memenuhi panggilan-Nya. Cukuplah langit sebagai atap, dan bumi sebagai lantai, bagi mereka yang memiliki kekayaan hati. Keakraban alam Mina dengan jamaah haji asal Pakistan, 10 Dzulhijjah 1436 H.*/ Zulfahmi, Kontributor hidayatullah.com di Tanah Suci

Rep: Muhammad Abdus Syakur
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Jamaah Haji dan Umrah Melonjak,  Indonesia dan Saudi Bahas Penambahan Slot Penerbangan

Jamaah Haji dan Umrah Melonjak, Indonesia dan Saudi Bahas Penambahan Slot Penerbangan

Berkat Warisan di Makkah, Jamaah Embarkasi Aceh Dapat Tambahan 1.200 Riyal

Berkat Warisan di Makkah, Jamaah Embarkasi Aceh Dapat Tambahan 1.200 Riyal

Wakil Komisi 8: Visa Haji Terlambat Karena Kemenag Kurang Siap Pemberlakuan E-Hajj

Wakil Komisi 8: Visa Haji Terlambat Karena Kemenag Kurang Siap Pemberlakuan E-Hajj

Kemenag: Persiapan Haji Terus Berjalan, Keberangkatan Mulai 26 Juni

Kemenag: Persiapan Haji Terus Berjalan, Keberangkatan Mulai 26 Juni

128.074 Jamaah Haji Indonesia Sudah di Makkah, jamaah Wafat Bertambah

128.074 Jamaah Haji Indonesia Sudah di Makkah, jamaah Wafat Bertambah

Baca Juga

Berita Lainnya