Selasa, 26 Oktober 2021 / 19 Rabiul Awwal 1443 H

Ekonomi Syariah

DPR Usulkan RUU Ekonomi Syariah, Harapan Keadilan Nasional

Bagikan:

Hidayatullah.com — Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekonomi Syariah telah diusulkan menjadi Prolegnas (Program Legislasi Nasional) Prioritas Tahun 2022 oleh Fraksi PKS dan juga Komisi XI DPR RI. Masuknya RUU Ekonomi Syariah dapat menjadi udara segar di tengah gencarnya isu tentang ketidakadilan ekonomi yang muncul dari RUU KUP.

Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati mengatakan perjuangan panjang RUU Ekonomi Syariah diharapkan dapat menjadi payung atas undang-undang bernafaskan Syariah yang sudah dikeluarkan seperti UU Perbankan Syariah, UU Wakaf, UU Zakat dan UU Jaminan Produk Halal.

“Selain menjadi payung, RUU Ekonomi Syariah ini juga berfungsi untuk memunculkan undang-undang lain yang dapat mengharmoniskan fungsi sosial keuangan Islam lainnya,” kata Anis dalam keterangan rilisnya, Selasa (05/10/2021).

Politisi Fraksi PKS tersebut mengatakan bahwa undang-undang ini dapat mengubah makna ekonomi syariah dan bukan lagi didominasi dengan narasi potensi aset keuangan syariah, potensi ziswaf, perbankan syariah, dan lainnya, seolah-olah masyarakat muslim hanya dijadikan sebagai target pasar.

“Dengan RUU Ekonomi Syariah kita ingin lebih dari hanya masyarakat yang sering dijadikan potensi market saja, namun secara makro dan lebih komprehensif dapat menjadi solusi akan keadilan ekonomi nasional,” ungkap Anis.

Menurut Wakil Ketua BAKN DPR RI ini, perekonomian Indonesia sekarang sangat rentan dari ketidakadilan, seperti penguasaan ekonomi didominasi oleh segelintir orang dari pada masyarakat yang lebih banyak. “Kita harus memberikan catatan bahwa ekonomi Syariah yang dimaksud adalah ekonomi yang bernafaskan spirit islam yang memastikan tidak adanya penumpukan kesejahteraan pada satu golongan saja,” ujarnya.

Lebih jauh, Anis menjelaskan dengan adanya UU Ekonomi Syariah mampu menciptakan comparative dan competitive advantage dengan memanfaatkan SDA-SDM yang berkualitas dan menciptakan industri yang berbasis sosial enterprise. Di mana, asas kebermanfaatan bagi seluruh yang terlibat di dalam aktivitas ekonomi.

“Yang menjadi pembeda ekonomi Syariah yakni kebermanfaatan dan suistanablity, karena orientasi kepada keadilan bukan hitung-hitungan keuntungan semata. Karena RUU ini tidak menciptakan industri kapitalistik yang melupakan fungsi sosialnya,” imbuhnya.

Anis berharap dukungan dari masyarakat ke depan sehingga dalam penyusunan RUU tersebut nanti benar-benar sesuai dengan cita-cita besar yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. “Mohon doa dan dukungannya, kawal proses ini sehingga apa yang telah kita harapkan dari lama dengan lahirnya RUU Ekonomi Syariah dapat terwujud,” pungkasnya.*

Rep: Azim Arrasyid
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Gerakan Literasi Ekonomi Syariah Harus Sistematis-Berkelanjutan

Gerakan Literasi Ekonomi Syariah Harus Sistematis-Berkelanjutan

Mardani: Pemerintah Harus Memperkuat Bank Muamalat

Mardani: Pemerintah Harus Memperkuat Bank Muamalat

Anies: Saatnya Indonesia jadi Pemain Utama Ekonomi Syariah

Anies: Saatnya Indonesia jadi Pemain Utama Ekonomi Syariah

KNKS: Peta Jalan Fintech Syariah Ditargetkan Selesai 2020

KNKS: Peta Jalan Fintech Syariah Ditargetkan Selesai 2020

BWI Ajak Sosialisasi Pentingnya Wakaf Secara Masif

BWI Ajak Sosialisasi Pentingnya Wakaf Secara Masif

Baca Juga

Berita Lainnya