Jum'at, 12 Februari 2021 / 29 Jumadil Akhir 1442 H

Ekonomi Syariah

Mendahulukan Allah, Bisnis pun Berkembang

Bagikan:

Lika-liku bisnis konveksi dan busana Muslim. Dari kemalingan bahan produksi senilai hampir 1 miliiar rupiah hingga tak balik modal

Hidayatullah.com–Muhammad Edirman baru saja memborong berbagai jenis kain senilai hampir 1 miliar rupiah. Kain itu ia siapkan untuk produksi jelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri, momen spesial bagi seorang produsen busana Muslim seperti dirinya.

Sebetulnya, ketika itu ia berniat ingin melunasi pembayaran cicilan rumah. Tapi ia berpikir, “Lebih baik membeli kain dulu. Utang rumah bisa dibayar nanti. Toh momentum istimewa Ramadhan di depan mata.”

 Untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Kain ratusan roll yang disimpan di tempat usahanya itu ternyata hilang. Tembok belakang gudang produksinya dijebol maling menjelang dini hari.

“Itu cukup berat. Tapi saya tidak down, karena kita punya Allah,” kata Edirman, sapaan akrabnya.

Meski harus menanggung banyak kerugian, ia tak menyerah apalagi putus asa. Jatuh sekali, langsung bangkit. Jangan jatuh langsung terpuruk. Itu prinsip yang ia pegang. Kejadian itu semakin meneguhkan langkahnya berwirausaha, sambil memetik hikmahnya.

“Mungkin karena tidak mendahulukan niat baik melunasi utang rumah, justru mendahulukan yang lain. Niat baik memang jangan ditunda-tunda,” pesannya.

 Banyak Belajar Saat Jadi Distributor

Sejak kecil Edirman sudah rajin berjualan apapun yang penting halal. Berbagai peluang selalu dimanfaatkan. Dalam menjalankan usahanya, laki-laki kelahiran Bima, 38 tahun silam ini mengaku sangat menghindari riba.

Tahun 2015, ia memulai usahanya dengan modal 500 ribu rupiah. Suami dari Imroatus Sholihatin ini pun jadi distributor salah satu merek busana Muslim di tanah air. Ia kulakan ‘pakaian jadi’ di Pasar Tanah Abang-Jakarta, dengan harga 60 ribu rupiah per pcs. Lalu ia jual kembali seharga 90 ribu rupiah via facebook.

Bersama istri, produk itu ia tawarkan hingga menjangkau pasar yang lumayan luas. Dari situ, ia kemudian banyak belajar, lalu memilih memproduksi busana Muslim sendiri.

Keuntungannya pun terus ia ‘putar’ dan secara bertahap modalnya meningkat. Bahkan, pada tahun 2016 omzetnya mencapai 20 juta rupiah per bulan.

Sejak itu, kata Edirman, tak sedikit dari pihak bank yang menawarkan pinjaman modal, tentu disertai dengan bunganya. Tapi semua ia tolak. “Tidak ada pinjam ke bank, untuk menghindari riba,” tegasnya.

Sambil jualan via media sosial itu, ia sempat bekerja sebagai sopir pribadi serta menjadi salah satu tenaga staf di MPR RI. Di waktu rehat, ia “memburu” bahan pakaian di Tanah Abang. Saat itu, ia sudah memberdayakan 2 orang karyawan.

Untuk merawat loyalitas pelanggan, ia selalu berupaya agar produk-produknya selalu tersedia. “Tahun 2016 akhir, Allah pun menjawab doa saya bisa membeli satu mesin jahit obras.”

Untuk kali pertama, ia bersama istri belajar menjahit sendiri. Hingga kemudian ia merekrut penjahit yang memiliki skil bagus, berdedikasi serta loyalitas tinggi.

Dengan merek Ummu Maryam Collection (UMC), ia kini sudah punya lebih 100 agen. Bahkan tersebar hingga luar negeri seperti Hongkong, Taiwan, Malaysia, Arab Saudi, dan Singapura. Sejumlah pelanggan pun menyatakan siap menjadi agen. Dengan didukung 32 karyawan, UMC bisa menghabiskan 1.400-1.600 set atau 4.000 potong produk setiap bulannya.

Sampai Oktober 2020, pria ramah ini mengaku omzetnya mencapai Rp 800 juta per bulan. Labanya? “Berapalah…,” ujarnya seraya tersenyum.

 Nilai Spiritual dan Kekeluargaan

 Sebagai pebisnis Muslim, Edirman membangun nilai-nilai spiritualitas di dalam menjalankan usahanya, antara lain mendahulukan Allah Subhanahu Wata’ala. “Setelah mendahulukan Allah, (lalu) orangtua dan sudah berinfak, baru untuk kita terakhir. Jangan dibalik,” terang pria yang pernah mondok di Pesantren Hidayatullah Depok ini.

Setiap mendapatkan ujian, seperti kehilangan atau tak balik modal, ia langsung melakukan muhassabah. Apa kesalahan yang telah dilakukan hingga pupusnya keuntungan dari niaga yang diharapkan. Ia mencontohkan, mungkin bisa sebab ada orang yang lebih membutuhkan.

“Saya selalu meyakini, apa pun yang hilang dari kita karena ada orang lain yang lebih butuh dari kita,” ujar magister pendidikan Universitas Indraprasta Jakarta ini.

Selain itu, banyak guru, tokoh, dan ustadz yang dijadikannya sebagai mentor, yang semakin menumbuhkan kepercayaan diri.

Dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM), anak pasangan Muhammad Asrih dan Siti Atiah ini memiliki prinsip, “maju bersama, sukses dunia Akhirat”.

Hubungan dengan karyawannya bukan ikatan kerja (profesionalitas) saja, tapi juga jalinan keluarga.

“Kita tempatkan karyawan sesuai kapasitas masing-masing. Kami perlakukan bukan sekadar sebagai karyawan, tetapi sebuah keluarga besar. Jadi karyawan tidak mau berhenti karena senang,” sebutnya.

Untuk modal dan kekuatan, ia memegang teguh keyakinan kepada Allah SWT. Di samping itu, “menanggung” kebutuhan hidup sekian banyak karyawan, pun menjadi pemecut. Sebab, ia merasa tak cuma menafkahi keluarganya, tapi juga keluarga para pegawainya.

“Dengan usaha ini, saya harus menanggung sekian banyak orang dengan anak anaknya. Inilah yang selalu jadi saya semangat,” imbuh ayah dari Muhammad Ibrahim Ihyaulhaq, Maryam Zulfatul Nafisah, dan Fatimah Nurmaulina Zahrah ini.

Edirman juga menekankan pentingnya melibatkan Allah SWT di setiap aktivitas hidupnya. Di antara amalan yang ia akui rutin dijaga yaitu shalat Dhuha, karena selalu menenangkan dan menenteramkan hati.

Selain kepada pribadi, ia juga melakukan pembinaan spiritual rutin untuk para karyawan. Sebelum bekerja, mereka mengikuti kegiatan halaqah. Ada program khusus hafalan al-Qur’an setiap Sabtu mulai pukul 8 sampai zuhur. Pengajian digelar sebulan 2 kali khusus bagi karyawan dan sepekan sekali bagi karyawati.

Lebih jauh, alumnus MTs al-Jihad Depok (2000) ini membuka pintu lebar bagi seluruh karyawannya yang ingin membangun usaha sendiri.

“Kita dorong karyawan untuk maju serta terus mengembangkan diri agar kelak mereka juga bisa memulai usaha sendiri tanpa perlu khawatir tersaingi. Rezeki kita semua sudah diatur oleh Allah,” ujar Edirman yang mengaku jika usahanya terdampak akibat pandemi meski tetap eksis bergeliat.*Ainuddin Chalik, Muh. Abdus Syakur/Hidayatullah.com

 

Rep: Ainudin dan Syakur
Editor: Muhammad

Bagikan:

Berita Terkait

10 Tips Hidup Hemat di Luar Negeri

10 Tips Hidup Hemat di Luar Negeri

Forum Studi Ekonomi Islam Minta Kasus Penertiban Dinar-Dirham Dikaji Ulang

Forum Studi Ekonomi Islam Minta Kasus Penertiban Dinar-Dirham Dikaji Ulang

Mukmin Kuat dari Andalusia, Spanyol

Mukmin Kuat dari Andalusia, Spanyol

Wapres: Wakaf Uang Bukan untuk Pemerintah, tapi Dana Abadi Umat

Wapres: Wakaf Uang Bukan untuk Pemerintah, tapi Dana Abadi Umat

Ary Ginanjar Ajak Umat Bangun Ekonomi dengan Wakaf

Ary Ginanjar Ajak Umat Bangun Ekonomi dengan Wakaf

Baca Juga

Berita Lainnya