Dakwah Berliku Anak Kepala Suku

Status sebagai anak kepala suku tak menjamin mulus dalam berdakwah. Selain tradisi masyarakat yang masih melekat kuat, juga kondisi alam yang senantiasa menantang

Dakwah Berliku Anak Kepala Suku
Dakwah di Papua/ Foto Ali Atwa, hidayatullah

Terkait

BAGI sebagian juru dakwah,  Papua masih menjadi kawasan yang menakutkan. Bukan semata tantangan alamnya yang ganas dengan malarianya yang  mematikan. Medan Papua juga dikenal berat, dengan biaya hidup yang tinggi. Belum cukup dengan itu, di sana masih dijumpai sebagian  penduduk yang kehidupannya sedikit di atas masa prasejarah, khususnya di kawasan-kawasan pedalaman, di lereng-lereng gunung, serta di pinggir sungai nun jauh di pelosok bumi Cendrawasih tersebut. Sudah barang tentu ini menjadi tantangan yang tidak ringan bagi seorang dai.

Tidak mengherankan jika sejumlah dai yang semula datang dengan penuh antusias, pelan-pelan pergi meninggalkan medan dakwah Papua, setelah berhadapan dengan aneka persoalan di lapangan.  

Said Ahmad bin Muhammad Husen Tafalas (36) termasuk di antara sedikit dai yang memilih bertahan untuk terus mencerahkan masyarakat Papua. Apalagi, Said adalah putra daerah. Lelaki tinggi besar ini kelahiran Waigama, Papua 25 Mei 1971.

Sekalipun putra daerah, dia menyadari, mengubah kultur masyarakat Papua dibutuhkan intensitas tarbiyah (pendidikan) dan dakwah. Dan itu, membutuhkan waktu yang panjang serta kesabaran ekstra.

Maka, sejak tahun 1991,  dia bergabung dan nyantri di Pondok Pesantren Hidayatullah Cabang Sorong. Setelah empat tahun menimba ilmu, pimpinannnya menugaskan untuk berdakwah di salah satu daerah terpencil di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Di sinilah awal ujian sebagai seorang dai dimulai.  Anak sulungnya, Shabrina Said (3 bulan) meningal dunia. Kala itu, usia pernikahannya dengan Suharti Hasan baru berjalan satu tahun.

“Mental saya hampir-hampir jatuh, ketika mendapati  kenyataan ini. Untunglah, sejak awal pernikahan, kami sudah mendeklarasikannya sebagai biduk jihad,” Said mengenang.

Sebenarnya, kata Said, peristiwa itu bisa dicegah, kalau saja ada kendaraan yang mengangkut anaknya berobat ke kota. Namun perjalanan takdir menghendaki lain. Transportasi ke kota Bolaang sangat sulit. Ada memang kendaraan, tapi satu-satunya adalah sejenis jip, itupun jadwalnya satu minggu sekali. “Waktu itu saya benar-benar bingung. Akhirnya, buah hati  saya meninggal dalam pangkuan saya, di medan yang terpencil. Inna lillahi wa inna ilaihi  raajiun…”  kenangnya.

Rintangan di Kampung Halaman

Usai peristiwa itu, dia memilih pulang kampung di Misool Raja Ampat, Papua.  Bukannya ingin pensiun, karena baginya berdakwah itu tak mengenal kata pensiun. Dia ingin terus berdakwah hingga akhir hayatnya. Di Raja Ampat dia ingin mendapat semangat baru.

Raja Ampat dulu bernama Kalanafat. Sekarang, daerah ini dijuluki negeri seribu pulau. Sebab, kawasan ini terdiri dari pulau-pulau yang menyebar satu sama lain dengan jarak cukup berjauhan. Gugusan kepulauan ini terletak di bagian selatan Kabupaten Sorong, Irian Jaya Barat.

Sejak tahun 2005, daerah ini diresmikan menjadi kabupaten baru dengan nama Kabupaten Raja Ampat.  Kawasan ini  terdiri dari empat pulau besar: Batanta, Salawati, Waigeo dan Misool. Raja Ampat beribukota di Waisai, salah satu pulau di daerah Waigeo Selatan.

Penduduk di masing–masing pulau (sekarang sudah menjadi kecamatan) beragama Islam dan Katolik.  Prosentasi penduduknya, Islam 86 persen (dulu 95 persen) dan Katolik 14 persen. Di antara daerah yang mayoritas Muslim adalah Kecamatan Misool dan Salawati.

Dalam sejarahnya,  penyebaran Islam ke Papua melalui kedua daerah itu. Sayangnya, ajaran Islam tidak dijalankan secara utuh. Yang berkembang justru  kepercayaan tariqat, yang ajarannya cenderung bersifat nafsi-nafsi. ”Maka, sungguh menyedihkan. Kita mendapati masjid dan mushalla yang ada di sini, sepi dari jamaah. Masjid baru terlihat ramai pada saat hari Jumat saja,” terang pria yang pernah aktif di PII dan IPM ini.

Said optimis, dakwahnya di Raja Ampat bakal berjalan lancar. Dalam benaknya, berdakwah di kampung halaman, tempat dirinya dilahirkan, tentu akan lebih mudah. Apalagi, dia putra Kepala Suku Misool, Muhammad Husen Tafalas. Jelas, statusnya itu punya pengaruh cukup besar di tengah-tengah masyarakatnya. Dia juga sudah mengenal kultur masyarakatnya. Jadi, apa susahnya?

Nyatanya tidak demikian. Mula-mula, Said harus berhadapan dengan beratnya medan. Kapal yang melayari daerah ini cuma satu, yaitu kapal perintis dari Seram (Maluku) yang jangka waktunya sebulan sekali. Itu artinya, komunikasi dan hubungan dengan dunia luar sangat terbatas. Sementara kalau ingin mengisi dakwah di kampung (desa) lain, yang berada di pesisir dan pelosok  yang merupakan kantong–kantong Islam seperti kampung  Atkari, Folle, Gamta, Lilinta, Yellu, Fafanlap, Kaerepop, dan Harapan Jaya, harus menggunakan long boat yang biaya sewanya sangat mahal, antara Rp 10 juta – Rp 25 juta sekali pakai!

Belum lagi kendala cuaca. Ombak dan angin cukup kencang. Sehingga wajar, kalau di daerah–daerah Muslim itu, justru yang lebih sering datang adalah para misionaris.

Mereka pergi pulang dengan pesawat Cesna setiap saat. Bahkan  kantong utama Muslim di Misool telah dijadikan  sebagai pusatnya di Raja Ampat. Padahal dulu, daerah ini merupakan kantong umat Islam terbesar setelah Salawati dan Waigeo. Bahkan dakwah Islam di semenanjung Papua bermula dari sini.

Kesempatan Berharga

Sekalipun tantangan alamnya berat, Said bertekad suatu saat akan mengunjungi penduduk yang tinggal di pulau-pulau terpencil.

Allah Maha Mendengar! Satu hari, Bupati Raja Ampat, Drs. Marcus Wanma, M.Si,  mengadakan kunjungan ke daerah-daerah pesisir.

Tanpa buang waktu, Said mendatangi Bupati. “Pak Bupati, saya mau numpang ke Sorong, bisa tidak,“ kata ayah empat anak ini.

Di luar perkiraannya, Bupati yang beragama Nashara itu mengabulkan permintaan Said. Tidak saja  ke Sorong, bahkan mempersilakannya ikut keliling dari pulau ke pulau, selama beberapa hari. Kesempatan itu dimanfaatkan secara baik oleh Said untuk  mengunjungi kampung-kampung Muslim di Yellu, Harapan Jaya, dan Folle.

Said menaruh harapan besar, kelak dia punya alat tranportasi sendiri, sehingga setiap saat bisa menyambangi umatnya itu. Dengan begitu dia yakin, kelak Islam bisa jaya kembali di daerah ini.  “Seperti pada masa lalu,” katanya optimis.

Said menyadari, semua kerja dan cobaan di atas tidak luput dari pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). “Allah sungguh-sungguh bersama para pembela agamanya di manapun. Maka, insya Allah, ke depan, di samping akan melanjutkan kegiatan yang sudah ada, kami upayakan menembus kawasan-kawasan terisolir dimana kaum Muslimin tinggal,“ ungkap pria yang saat ini diberi amanah sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Hidayatullah Irian Jaya barat yang membawahi sejumlah daerah seperti Fak-Fak, Manokwari, Sorong, Sorong Selatan, Bintuni, Kaimana dan Kabupaten Raja Ampat ini. Semoga. *Ali Athwa, Suara Hidayatullah

Bagi yang ingin membantu dakwah di pedalaman, Pos Dai Hidayatullah 0811 3545 286 atau Bank Syariah Mandiri 733-30-3330-7, Bank BNI 0254-5369-72

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !