Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Berita dari Anda

SPI Paparkan Empat Makna Din Menurut Prof. Naquib Al-Attas

Direktur PIMPIN Bandung Dr. Wendi Zarman, M.Si
Bagikan:

Hidayatullah.com–Pada kesempatan kelas daring Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta, Rabu (10/03/2021) malam, Dr. Wendi Zarman, M.Si membawakan materi Konsep Din. Ia menyampaikan bahwa keberhutangan merupakan satu dari empat makna Din (agama) yang digagas oleh Syekh Muhammad Naquib Al-Attas. Wendi menjelaskan bahwa hutang yang dimaksud di sini adalah hutang budi manusia kepada Allah yang terdiri dari hutang eksistensi dan hutang pemeliharaan diri oleh Allah.

Wendi juga menjelaskan bahwa adanya keberhutangan dari umat manusia berlanjut kepada adanya otoritas dari Allah. Sehingga Allah mempunyai hak untuk memerintah seluruh umat manusia, menghukumi (benar-salah dan baik-buruk), dan memberi ganjaran berupa pahala atau siksa. “Sama halnya dengan kita dan orang tua. Kita memiliki keberhutangan yang besar terhadap orang tua yang telah memelihara kita. Akhirnya, muncullah otoritas dari orang tua terhadap kita,” ujar Wendi.

Dengan adanya keberhutangan dan otoritas inilah akan muncul manusia yang mengakui keberhutangan (syukur), dan ada sebagian manusia yang mengingkari keberhutangan (kufur), tambah dosen Universitas Komputer Indonesia tersebut.  Wendi kemudian melanjutkan pembahasan pada makna Din ketiga, yakni penyerahan diri.

Ia menyebutkan bahwa penyerahan diri adalah bentuk syukur yang sejati, sebagai cara terbaik untuk membalas keberhutangan kita kepada Allah. Penyerahan diri yang sejati bisa dilakukan dengan beberapa syarat, di antaranya dilakukan dengan penuh kerelaan dan mengikuti syariat yang ditetapkan oleh Allah.

“Menariknya, kata ‘Islam’ itu sendiri bermakna ‘menyerahkan diri’. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa Islam adalah nama sekaligus hakikat dari agama,” ungkap Direktur Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) Bandung itu.

Wendi lalu menjelaskan makna terakhir dari Din, yakni agama adalah fitrah bagi seluruh umat manusia. Ini merupakan konsekuensi dari penyerahan diri yang menghasilkan ketaatan manusia kepada Allah. Menurutnya, taat kepada Allah adalah fitrah bagi seluruh umat manusia, seperti yang disampaikan pada firman Allah dalam Surat Adz-Dzariyat ayat ke-56.

Abdur Rofi Hamas, salah satu peserta malam itu berpendapat bahwa materi yang dipaparkan malam ini sangat menambah wawasannya seputar makna dan konsep agama dalam Islam. “Intinya, kita sebagai manusia yang diciptakan harus patuh terhadap segala perintah dari Sang Pencipta,” tandas pria yang bekerja di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tersebut pada wawancara terpisah.*/M. Pasya Ftira Paligie

Baca juga tentang makna Din menurut Syekh Muhammad Naquib Al-Attas di sini: Ilmu dan Adab Sebagai Sarana Navigasi Guru

Rep: Ahmad
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

INI DALWA Buka Program Doktoral Pendidikan Agama Islam

INI DALWA Buka Program Doktoral Pendidikan Agama Islam

Kementerian Wakaf Qatar Buka Beasiswa di Tsanawiyah,  Aliyah dan Pendidikan Tinggi

Kementerian Wakaf Qatar Buka Beasiswa di Tsanawiyah, Aliyah dan Pendidikan Tinggi

Dengan Wahyu,  Kekuasaan Islam Terbentang di 3 Benua dan Lebih dari 35 Negara

Dengan Wahyu, Kekuasaan Islam Terbentang di 3 Benua dan Lebih dari 35 Negara

National Leadership Camp 2014 bahas  Idealisme Pemimpin Muda

National Leadership Camp 2014 bahas Idealisme Pemimpin Muda

OPICK dan Izzatul Islam Keliling Malaysia

OPICK dan Izzatul Islam Keliling Malaysia

Baca Juga

Berita Lainnya