Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Berita dari Anda

Pendiri SPI: Perang Pemikiran Butuh Keseriusan & Persiapan

istimewa
Pertemuan kedua SPI Angkatan ke-10 bertema “Ghazwul Fikri” di Kantor INSISTS, Kalibata Utara, Jakarta, Rabu (04/09/2019).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Akmal Sjafril, pendiri Sekolah Pemikiran Islam (SPI), menyebutkan bahwa parameter kebaikan seorang Mukmin adalah sikapnya ketika menyaksikan kemunkaran. Yang terbaik adalah mereka yang mencegahnya dengan tangan.

”Perang pemikiran adalah perang juga. Namanya juga perang. Dalam perang, kita harus berpikir untuk balas menyerang, bukan hanya bertahan,” ungkapnya pada pertemuan kedua SPI Angkatan ke-10 yang bertema “Ghazwul Fikri” di Kantor INSISTS, Kalibata Utara, Jakarta, Rabu (04/09/2019).

“Iya, Rasulullah memaafkan musuh-musuhnya dalam Perang Tha’if. Mendoakan malah. Tapi kalau mau adil membaca sejarah, yang harus kita ingat adalah Rasulullah pernah melakukan hal sebaliknya, yaitu mendoakan azab kepada musuh-musuhnya, dalam peristiwa lain. Jadi konteks Tha’if engga bisa kita pakai untuk semua musuh Islam,” kata pria yang menulis buku “Buya Hamka, Antara Kelurusan ‘Akidah dan Pluralisme” tersebut.

Baca: Peran Konkret Pemuda dalam Perang Pemikiran

Pada kesempatan itu, Akmal memaparkan pengertian ghazwah (perang) yang bermakna ‘konfrontasi terencana yang memiliki tujuan penaklukan dan memanfaatkan sumber daya yang dimiki’. Sementara fikrah (pemikiran) adalah sesuatu yang mengendalikan tubuh dan seluruh potensinya.

“Manusia bukan makhluk yang random. Manusia bergerak berdasarkan akal. Salah satu yang menjadi tujuan dari ghazwul fikri adalah ketundukan pikiran. Yang kalah harus mengikuti aturan yang menang. Pikiran yang dikendalikan menyebabkan manusia tidak bisa mengeksplorasi potensi yang dimilikinya,” jelasnya.

Dalam penjabarannya, Akmal menyebutkan tiga modus yang digunakan musuh-musuh Islam dalam melancarkan perang pemikiran pada masa kini, yaitu melalui media massa, pendidikan, dan hiburan.

Baca: SPI sebagai Respons Intelektual Hadapi Tantangan Pemikiran

Pria yang juga aktif sebagai peneliti di INSISTS ini pun menuturkan dilema yang dihadapi umat Islam terhadap pemberitaan media.

“Media membicarakan segala hal, sementara kita tidak mengerti segalanya. Karena itu, untuk persoalan-persoalan yang tidak kita kuasai, mungkin karena memang bukan bidangnya, kita terbiasa untuk percaya pada media,” tandasnya lagi.

“Perang pemikiran dimenangkan dengan ilmu. Oleh karenanya, dibutuhkan keseriusan dan persiapan,” pungkasnya.* Ilham Fazrom

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Mengenal Komunitas Muslim Aborigin

Mengenal Komunitas Muslim Aborigin

Ketua MUI Apresiasi Gerakan Nasional Ayo Ke Masjid

Ketua MUI Apresiasi Gerakan Nasional Ayo Ke Masjid

Empat Santriwati Indonesia Juara 1 Lomba Debat Internasional di Qatar

Empat Santriwati Indonesia Juara 1 Lomba Debat Internasional di Qatar

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta Dibuka, Kelas Pertama Bahas Ghazwul Fikri

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta Dibuka, Kelas Pertama Bahas Ghazwul Fikri

Hak Pengasuhan Anak Satu Kebaikan yang Dimiliki Syari’ah Islam Perhatikan Hak Manusia

Hak Pengasuhan Anak Satu Kebaikan yang Dimiliki Syari’ah Islam Perhatikan Hak Manusia

Baca Juga

Berita Lainnya