Buku Biografi Buya Hamka Dibedah di Jakarta

Buku Biografi Buya Hamka Dibedah di Jakarta
Syeikh Ahmad Shohibul wafa Tajul 'Arifin ( Abah Anom ) memberikan jubah dan tongkat kepada Prof. Dr. Buya Hamka saat jadi Ketua MUI

Terkait

Hidayatullah.com–Pribadi dan karya ulama asal Sumatera Barat Buya Hamka sampai sekarang terus diperbincangkan orang. Tak terkecuali dalam bedah buku berjudul “Buya Hamka: Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama” karya Yanuardi Syukur dan Arlen Acara Guci.

Buku yang diterbitkan Tinta Medina (imprint Penerbit Tiga Serangkai, Solo) tersebut akan dibedah bersamaan dengan peluncuran Sekolah Menulis Nasional yang digerakkan oleh Muliansyah A. Ways lewat Lingkar Penulis Indonesia (LPI), di Kedai Kopi Perjoeangan, Jl. Proklamasi, Jakarta (16/02/2019).

Buku Buya Hamka tersebut ditulis oleh Yanuardi dan Arlen bersumber dari berbagai referensi, dan kunjungan ke Maninjau.

“Waktu menghadiri Temu Karya Sastra Islam Melayu di Padang, saya sempatkan untuk berkunjung ke Rumah Kelahiran Buya Hamka serta bertemu keluarga beliau di Rumah Haji Rasul, ayahnya Buya Hamka,” kata Yanuardi yang juga keturunan Minang suku Piliang di Maninjau yang saat ini juga memberikan ceramah singkat untuk santri Pesantren Buya Prof. Dr. Hamka di Maninjau.

Dalam buku yang diberi pengantar oleh salah seorang putra Buya Hamka, H. Afif Hamka tersebut, kedua penulis membahas figur Buya Hamka pra-penjara, ketika di penjara, dan setelah bebas dari penjara.

“Tiga periodisasi itu sengaja dibuat sebagai salah satu kekhasan buku tentang Hamka dibanding buku lainnya,” lanjut Yanuardi.

Saat ini, buku karya Hamka termasuk buku karya penulis Indonesia yang masih terus diterbitkan dan terus menjadi inspirasi serta teladan bagi banyak orang Indonesia dan sekitarnya.

“Nama Hamka dipakai oleh banyak orang sebagai nama anak, nama kampus, nama gedung, dan lain sebagainya,” kata Yanuardi lagi. Menurutnya, itu menjadi tanda bahwa Hamka adalah pribadi yang tidak hanya diteladani dalam karya, akan tetapi juga dalam pribadinya.

Buku yang akan dibedah tersebut memiliki beberapa sub-bab seperti kisah masa kecil Hamka, migrasi ke Jawa, berhaji ke Makkah, menikah di usia muda, relasi Hamka dengan Bung Karno, Mohammad Yamin, dan Pramudya Ananta Toer, pengalaman melawat ke Amerika dan kiprahnya sebagai anggota Konstituante.

Selain itu, juga dibahas soal mengapa Hamka dipenjara, Tafsir Al-Azhar yang ditulis selama di penjara, pikiran-pikirannya ketika di penjara, dan pengalaman yang ia alami ketika mendekam di terali besi tersebut.

“Pada 27 Januari 1964, Hamka dijebloskan ke penjara dengan tuduhan menggelar rapat gelap di Tangerang untuk rencana pembunuhan kepada Menteri Agama dan Presiden Bung Karno, serta dianggap akan melakukan kudeta kepada pemerintah dengan sokongan dana dari Perdana Menteri Malaysia Tengku Abdul Rahman,” lanjut kandidat doktor dari UI tersebut.

Akan tetapi, lanjutnya, tuduhan subversif itu tidak terbukti. Tapi, tetap Hamka mendekam di penjara selama 2 tahun 4 bulan.

“Berkahnya ketika di penjara itu adalah Buya Hamka dapat menulis Tafsir Al-Azhar,” kata Yanuardi yang terinspirasi dari Hamka ketika membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck pada 1997.

Pada bagian pasca-penjara, buku ini bercerita kisah Hamka yang ingin membahagiakan istrinya, menerima Doktor Honoris Causa, kiprahnya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, mendirikan Masjid Al-Azhar di Kebayoran Baru Jakarta, serta pesan-pesan terakhirnya sebelum wafat.

Tentang buku ini, ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) periode 2013-2017 yang juga novelis, Sinta Yudisia menulis, “..berdebar hati ini membaca halaman demi halaman karena cahaya beliau sebagai ulama dan negarawan tetap menghiasi umat hingga saat ini.”

Pengajar Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim, Semarang, Ma’as Shobirin, berkomentar, “..buku ini tersaji secara apik dan memudahkan pembaca untuk memahaminya…buku ini juga mampu memberikan teladan berharga dan inspirasi terutama kepada anak muda yang memiliki rasa kepedulian terhadap bangsa.”

Komentar lainnya berasal dari pensiunan polisi yang kini menjadi penulis, Kombes (purn.) Thamrin Dahlan.

“Buya Hamka memberikan semangat menulis kepada kita dan saya telah merasakan bahwa menulis itu mengangkat marwah dan derajat kehidupan sang penulis,” kata Thamrin yang pernah menjadi ketua Ikatan Alumni UI (ILUNI) Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI. *

Rep: Ahmad

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !