Berfilsafat untuk Mengatakan dan Mengamalkan Kebenaran

Tujuan puncak berfilsafat itu mengamalkan kebenaran. Bukan tahu supaya tahu. Bukan ragu-ragu terhadap kebenaran

Berfilsafat untuk Mengatakan dan Mengamalkan Kebenaran

Terkait

Hidayatullah.com–Ilmu filsafat termasuk ilmu yang banyak menuai perdebatan. Baik dari sisi asal-usul, istilah, tujuan dan hukum mempelajarinya.

Demikian di antara yang dibahas peneliti senior Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr. Syamsuddin Arif, MA dalam InPAS Special Lecturer bertajuk “Mengenal Filsafat; Sejarah dan Para Tokohnya” pada Sabtu (02/06/2018) lalu.

“Dahulu para cendekiawan Muslim menggunakan kata hikmah untuk menyebut ilmu filsafat. Di dalam al-Qur’an kita banyak dapatkan lafadz “hikmah”. Kata ini sering digunakan Allah dalam firman-Nya. Kata ini kemudian diambil oleh cendekiawan Muslim Banghdad untuk menerjemahkan falsafah. Dua kata, falsafah dan hikmah selama 300 tahun dipakai bersandingan. Hikmah itu filsafat dan fislafat itu hikmah”, jelas Dr. Syam dalam kuliah yang diadakan di Hotel Sahid Surabaya itu.

Ia menambahkan bahwa,  kata hikmah untuk filsafat itu telah digunakan banyak sarjana Muslim. Seperti Abu Hasan al-‘Amiri, al-Kindi, Ikhwanus Shofa, al-Farabi dan bahkan Taftazani ahli kalam tidak mempermasalahkan penggunaan hikmah.

“Tentu saja ini mendapatkan kritik, terutama dari para ulama’ ahli tafsir, ahli hadis dan ahli bahasa. Termasuk imam al-Ghazali”, tambah pria yang baru saja melakukan riset ilmiah di Universitas Oxford, sebuah universitas tertua dan terbaik di Inggris ini.

Baca: Belajar Filsafat untuk Mengokohkan Akidah

Menurutnya, tentu saja para ulama yang tidak menyetujui itu memiliki alasan. Dalam al-Qur’an hikmah itu artinya syariah. Sehingga tidak bisa diganti dengan falsafah.

“Walau  bagaimanapun kata hikmah dengan arti filsafat digunakan secara meluas tertulis. Maka Abu Hasan al-‘Amiri pegiat filsafat di Baghdada abad ke-8 menyebut para filosof Yunani seperti sebagai Hukamau as-Sab’ah”.

Lalu apa itu hikmah yang dimaksud para filosof Muslim?

Maka, di sini kata beliau, untuk mendudukkan polemik ini perlu pemahaman. Mengutip pendapat al-Kindi, filsafat yaitu hubbul hikmah (cinta kebijkasanaan). Ini hampir persis terjemahan dari the philosophia.

Baca: Syarat Belajar Filsafat Harus Miliki Pemahaman al-Quran dan Hadits

Tokoh lain yang menggunakan filsafat dengan hikmah adalah al-Farabi. Yang dimaksudkan filsafat adalah memprioritaskan hikmah.

“Dahulu para ahli hikmah disebut hakim. Nah, karena filsafat itu diterjemahkan sebagai sains, maka santis juga disebut al-hakim. Khususnya ahli kedokteran disebut hakim (al-hukama). Mereka ahli filsafat yang pandai mengobati”, jelas mantan dosen di International Islamic University (IIU), Malaysia ini.

Sementara menurut Ikhwanus Shofa ada tiga level untuk jadi saintis (filosof), yaitu pertamanya adalah cinta ilmu, kedua mengenal hakikat kebenaran, ketiga yaitu puncak falsafah itu mengatakan dan mengamalkan  kebenaran.

“Jadi, tujuan puncak berfilsafat itu mengamalkan kebenaran. Bukan tahu supaya tahu. Bukan ragu-ragu terhadap kebenaran. Jadi salah itu jika berfilsafat itu kebenaran itu hanya bisa dicari dan yang tahu kebenaran hanyaa Tuhan. Padahal, berfilsafat itu untuk mengenal dan mengamalkan kebenaran’, tegasnya.

Bahkwan, menurut Dr. Syam, tujuan filsafat adalah untuk menyempurnakan jiwa manusia. Maka Filsafat itu sebenarnya pendidikan. Karena pendidikan itu mengembangkan menyempurnakan jiwa manusia. Mengharamkan filsafat seperti mengharamkan pendidikan.

Dengan pemahaman ini katanya, kita tidak mudah menyesat-sesatkan para filsuf Muslim. Inilah pentingnya mendalami sebelum menghukumi.*/kiriman AK.Hasib (Surabaya)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !