Jamaah Umrah DKI Ditahan

Anggota Polri ini ditahan aparat bandara setelah tas di ranselnya terdeteksi adanya peluru oleh mesin x-Ray.

Jamaah Umrah DKI Ditahan
ist./HR
Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin bersama keluarga RS.

Terkait

Hidayatullah.com– Seorang jamaah umrah asal Indonesia, yang berinisial RS, ditahan oleh pihak keamanan Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, Arab Saudi, Ahad malam, 13 Mei 2018 setelah di tasnya terselip tiga butir peluru.

Jamaah asal DKI Jakarta yang berprofesi sebagai anggota Polri ini ditahan aparat bandara setelah tas di ranselnya terdeteksi oleh mesin x-ray.

Semula jamaah tersebut menyangkal kalau dirinya membawa barang terlarang itu. Namun saat membuka dan memeriksa tasnya, petugas menemukan tiga butir peluru terselip di tas itu.

RS telah mencoba meyakinkan petugas bahwa tidak ada unsur kesengajaan karena niatnya mau beribadah.

Permasalahan yang dialami RS diketahui oleh seorang petugas protokol KJRI Jeddah yang tengah bertugas malam itu. Petugas itu segera melaporkan kasus tersebut kepada pimpinan di KJRI Jeddah.

Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin, segera memerintahkan Rahmat Aming, Pelaksana Fungsi (PF) Konsuler-3 merangkap Kepala Kanselerai dan Majedi Sarbaini, staf KJRI, segera mendatangi kantor penyidik untuk memberikan pendampingan kepada RS.

Atas jaminan KJRI Jeddah, RS akhirnya berhasil dikeluarkan dari tahanan dan diinapkan sementara di kantor KJRI Jeddah bersama isteri.
Anggota yang sudah 14 tahun bertugas di satuan Bhayangkara ini menuturkan, dirinya teringat sekitar dua bulan lalu saat bertugas. Dia mengisi senjatanya dengan enam butir peluru dan tiga lagi sebagai cadangan ia selipkan di tas ransel tersebut.

“Yang enam sudah di silinder, tiga saya taruh di tas,” tutur RS kepada petugas KJRI.

Usai bertugas, sambung RS, tas gendong yang digunakan saat bertugas itu ia taruh tanpa memeriksa dan mengeluarkan isinya. Tas itu pula yang ia bawa saat berangkat ke Arab Saudi bersama isteri untuk menunaikan ibadah umrah.

“Saya juga kadang-kadang orangnya enggak open (perhatian), Pak, yah,” ujar RS.

Saat berangkat tas ransel itu kosong dan hendak digunakan untuk menaruh oleh-oleh. Karena kosong tas itu ditaruh di koper dan dimasukkan ke bagasi sehingga lolos saat pemeriksaan di Bandara Madinah.

Namun, saat hendak pulang melalui Bandara Jeddah, dalam tas gendong tadi tidak hanya telah penuh dengan oleh-oleh, melainkan juga terselip benda terlarang yang terdeteksi mesin x-ray.

Rahmat Aming meminta RS dan isti agar bersabar atas ujian yang menimpa mereka. Pasalnya, penyelesaian kasusnya akan memakan waktu karena harus menunggu jawaban terhadap surat dari KJRI Jeddah yang berisi permohonan penghentian penyidikan dari kantor pusat di Riyadh.

“Pengurusannya makan waktu paling cepat seminggu. Bisa dua minggu, sebulan, atau bahkan dua bulan,” terang Rahmat Aming.

Ayah dari dua anak, kelahiran Banyumas 1979, ini bersama isteri segera memberitahukan pimpinan di kantor tempat ia bekerja, sambil menunggu penuntasan kasusnya.* Fauzy (Jeddah)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !