Untuk Mencapai Cita-cita Bangsa, Indonesia Jangan Disapih dari Islam

Maka kata Din Syamsuddin, tidak mungkin Pancasila dijauhkan dari agama, khususnya Islam. Karena sila pertamanya saja, Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah tauhid.

Untuk Mencapai Cita-cita Bangsa, Indonesia Jangan Disapih dari Islam
rizky/pena
Ketua Wantim MUI Prof Din Syamsuddin pada acara halal bi halal Kapolri Tito Karnavian dengan ormas Islam di SMESCO Convention Hall, Jakarta Selatan, Kamis (20/07/2017) malam.

Terkait

Hidayatullah.com– Ada dua frasa untuk menilai problem bangsa Indonesia. Pertama, pemahaman cita-cita bangsa yang utuh. Seyogianya cita-cita ini menjadi kesadaran batin bagi seluruh keluarga besar bangsa, apapun agama, suku, bahasa dan budaya mereka.

Sayangnya, cita-cita ini belum dapat dipahami dan disadari bersama. Sehingga pencapaian tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara tidak akan bisa tercapai secara sempurna.

Kedua, tentang kebersamaan dan kemajemukan. Cita-cita bangsa Indonesia sudah jelas di Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang terangkum dalam istilah Empat Pilar. Di dalamnya ada Pancasila, ada penegasan tentang konstitusi UUD 1945, juga di pasal tertentu ada NKRI, dan tentang Bhinneka Tunggal Ika.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Pusat, Prof Din Syamsuddin, dalam sambutannya pada acara Halal Bi Halal Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Pol Tito Karnavian dengan ormas Islam yang mengangkat tema “Merajut Kebersamaan untuk Mencapai Cita Bangsa”.

Baca: Adian Husaini: Para Pendiri Bangsa Mencita-citakan Indonesia Negara Tauhid

Pada kesempatan itu, Din mengungkapkan, dua frasa di atas berimpitan dan bersesuaian dengan nilai-nilai dan ajaran Islam. Islam sangat menekankan kemajemukan, sebagaimana yang termuat dalam Bhinneka Tunggal Ika dan kandungan Pancasila. Banyak ayat dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang hal ini. Bahwa kedua pilar ini berimpitan bahkan bersesuaian dengan Islam, bukan justru beririsan.

“Maka umat Islam jangan mau untuk diperhadapkan dengan Pancasila. Dan umat Islam jangan mau untuk dipertentangkan dengan Pancasila,” ujarnya pada acara yang berlangsung semalam di SMESCO Convention Hall, Jakarta Selatan, Kamis (20/07/2017).

Di hadapan Kapolri Tito dan para hadirin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menerangkan perbedaan mendasar, bahwa Islam sebagai agama berdasarkan wahyu dan Pancasila sebagai ideologi buatan manusia. Tapi sesungguhnya kata dia nilai-nilai keduanya bersesuaian.

“Masih ada pertanyaan tersisa soal relasi negara Pancasila dengan ideologi Islam. (Maka) saya berpendapat negara Pancasila ini sudah yang bersesuaian dengan (nilai-nilai) Islam, tanpa harus menjadi negara Islam. Atau bisa dengan kata mengatakan bahwa bangsa yang berpredikat ‘negara Islami,” ucapnya yang disambut senyum Kapolri Tito.

Baca: Mosi Integral Natsir Dinilai Bukti Tokoh Islam Cinta Keutuhan NKRI

Terkait masalah Indonesia saat ini, harus ada kejernihan, klarifikasi hubungan/relasi negara Pancasila dengan agama Islam. Pada hematnya, masih kata Din, hubungan keduanya sangat dekat sekali. Maka pada ujungnya nanti, pemantapan kehidupan berislam itu akan memperkuat negara Pancasila.

“Sayangnya, ring relasi ini dimasuki oleh politik dan kemudian diperhadapkan. Dan dalam manifestasinya nanti itu terjadi proses dialectic, bukan dialogis. Dan itu tidak akan menguntungkan siapa-siapa. Tidak akan menguntungkan umat Islam, dan tidak akan menguntungkan negara bangsa kita sendiri,” ungkapnya.

Maka menurutnya tidak mungkin Pancasila dijauhkan dari agama, khususnya Islam. Karena sila pertamanya saja, Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah tauhid. Dan sila-sila yang lain sangat mengedepankan nilai-nilai Islam, apalagi yang terakhir, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pertanyaannya, Islam seperti apa yang dimaksud? Pastilah, ungkapnya, Islam washatiyah. Yaitu Islam yang rahmatan lil alamin, bukan Islam yang ekstrem dan radikalis yang ingin memotong akar tunggang dari sistem kehidupan bernegara. Islam yang ingin diwujudkan, itulah yang akan mendukung negara Pancasila.

Baca: Pimpinan MPR: Dari Dulu Umat Islam Selalu Berkorban Demi Keutuhan NKRI

Pada Pasal 29 ayat 1 UUD 1945 sangat jelas menerangkan bahwa negara berdasar atas ketuhanan. Artinya, papar Din, tidak mungkin meninggalkan agama dan Islam. Termasuk diperkuat dengan Dekrit Presiden Soekarno pada tahun 1957, bahwa Piagam Jakarta yang sudah disepakati oleh tokoh-tokoh bangsa dalam anggota Tim 9, menjiwai dari UUD 1945.

“Jadi saya mohon kepada semuanya, di dalam membangun kebersamaan kehidupan untuk jangan melupakan prinsip-prinsip ini. Saya khawatir kalau ada dari keluarga besar bangsa, termasuk dari umat Islam, (yang) menyapih negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dari Islam, kita tidak akan bisa mencapai tujuan dan cita-cita bersama,” pesannya.* Kiriman Rizky Kurnia Syah, pegiat komunitas menulis PENA

 

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !