Dompet Dakwah Media

FEBI UIN Ar-Raniry Gandeng BI Kupas Perjalanan Perbankan Syariah

FEBI UIN Ar-Raniry Gandeng BI Kupas Perjalanan Perbankan Syariah

Terkait

Hidayatullah.com–Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry menggandeng Bank Indonesia (BI) untk mengupas perjalanan Bank Syariah di Indonesia, Kamis (1/22/2016).

Pelaksanaan acara yang berbentuk seminar tersebut di didahului dengan launching buku berjudul “Perjalanan Perbankan Syariah di Indonesia Kelembagaan, dan Kebijakan serta Tantangan ke Depan” yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

Seminar dan launching buku tersebut dibuka oleh Andang Setyobudi Direktur Departemen Riset Kebanksentralan BI, dan turut diberi sambutan oleh Rektor UIN Ar-Raniry yang diwakili oleh Wakil Rektor II, Drs. Luthfi Aunie, MA, serta dihadiri para jajaran OJK Aceh, kepala Dinas Syariat Islam Aceh Prof Syahrizal Abbas, Direktur Syariah Bank Aceh Haizir Sulaiman, para pimpinan Bank Syariah dalam wilayah kota Banda Aceh, perwakilan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), para dosen UIN, Unsyiah dan seribuan mahasiswa dari berbagai jurusan.

Dekan FEBI, Prof. Dr. Nazaruddin Aw, MA mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan BI pusat menyelenggarakan seminar dan launching buku tersebut karena berkaitan langsung fokus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang dipimpinnya.

“Dengan acara ini kita ingin melihat sejauh mana capaian peran Perbankan Syariah di Indonesia dalam kurun waktu satu desawarsa ini. Baik pencapaian SDM, jumlah aset yang dimiliki, maupun pencapaian market share perputaran uang di Indonesia, ,” ujar Prof Nazaruddin

Menurut Nazaruddin, pihaknya sangat berkepentingan untuk mengatahui perkembangan dan persentase masyarakat Indonesia yang telah menggunakan sistem syariah dalam transaksi keuangannya.

“Oleh sebab itu, kita ingin mendekatkan Bank Syariah dengan nasabah atau calon nasabah di satu sisi, sementara di sisi lainnya kita juga berharap agar Bank Syariah memiliki komitmen yang konkrit terhadap akad yang sudah disepakati, ” ujar Prof Nazaruddin.

Prof Nazaruddin juga berharap agar Bank Syariah terus berinovasi dalam melahirkan produk-produk pelayanannya kepada masyarakat.

Sementara itu, Andang Setyobudi dalam sambutannya mengatakan, lembaga keuangan atau perbankan syaraiah di Indonesia memiliki prospek semakin baik di masa yang akan datang.

“Jika mampu mengoptimalkan peluang, merespon kebijakan dengan tepat, serta mengatasi sejumlah tantangan, maka perbankan syariah diyakini mampu berkiprah lebih optimal terutama dalam menggerakkan perekonomian bangsa” ungkap Andang Setyobudi

Sementara itu,  Ali Sakti, M.Ec yang berbicara dalam seminar ini mengatakan, BI telah dan akan terus menyusun buku seri tentang keuangan dan moneter Syariah di Indonesia dan topik-topik lainnya yang diharapkan menjadi referensi bagi dunia akademik khususnya serta masyarakat muslim Indonesia umumnya.

Dalam pemaparannya, Ali Sakti juga membedah filosofi ekonomi Syariah serta bahaya riba bagi umat Islam. Disebutkan Mukti Ali, konsep dan sistem riba bisa merusak aliran dan distribusi kekayaan sehingga memperparah indeks kemiskinan.

“Sementara ekonomi Islam yang dijalankan Perbankan Syariah berlandaskan pada Aqidah, Akhlak dan Syariah yang menggunakan instrumen iman, zuhud, silaturrahmi, Ziswaf, dengan transaksi yang non ribawi yang kemudian dialirkan melalui sektor sosial dan komersial yang tujuannya adalah untuk pemerataan distribusi kekayaan dan pendapatan, ” ujar Ali Sakti yang didampingi moderator Dr Hafas Furqani yang juga pakar ekonomi Islam di Aceh.

Ali Sakti juga mengatakan, perkembangan keuangan dan perbankan syariah di Indonesia menjadikan negara-negara lain di Asia belajar dan melakukan perbandingan dengan pengelolaan keuangan syariah di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan keuangan mikro syariah.

“Indonesia kini dianggap sebagai laboratorium raksasa keuangan mikro syariah dan mulai dilirik oleh negara-negara lain” ujar Ali Sakti.

Hal itu disebabkan oleh aplikasi keuangan syariah di Indonesia yang dinilai cukup komprehensif, mulai dari industri yang paling kecil hingga yang paling besar. Bahkan tidak hanya lembaga keuangan bermotifkan profit, di Indonesia juga ada banyak lembaga keuangan sosial seperti Dompet Dhuafa dan ACT yang memiliki peranan sangat besar dalam membantu masyarakat.

“Indonesia kini menjadi kiblat lembaga keuangan mikro syariah” papar analis bank sentral ini, dihadapan peserta diskusi yang terdiri dari akademisi, praktisi perbankan, pihak swasta, dan mahasiswa.*/T Zulhairi (Aceh)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !