Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Berita dari Anda

Ya Allah, Berkahi Pak Polisi yang Menembak Kami!

Bagikan:

Hidayatullah.com–Bukan tidak lelah, berhari-hari sebelumnya ratusan ribu umat melakukan persiapan, hingga akhirnya berjalan jauh, berdiri sepanjang hari, hingga kala senja tiba, sebagian mulai banyak yang memegang pingganngya, sebagian bibir mengucapkan, “Pinggangku terasa sudah ini.”

Saya termasuk dari satu orang dari sekitar satu juta lautan manusia yang berada di tengah-tengah aksi yang popular disebut Aksi Damai 411 ini. Bersama rombongan lain, saya datang sejak usai shalat Jumat dan bergerak ke tengah lautan manusia yang hanya ingin meminta keadilan ditegakkan. Setelah sejak siang dibangkitkan dengan orasi-orasi bersemangat, tanpa terasa waktu sudah mulai merembet malam.

Saat tiba waktu Maghrib, tanpa komando massa Aksi Damai Belas Islam langsung berinisiatif mengambil air wudhu dengan bekal air mineral yang mereka bawa. Sholat Maghrib pun dilakukan di jalan dengan alas yang bisa dimanfaatkan. Ada spanduk, koran bekas, kain sorban, dan jaket.

Usai mendirikan sholat Maghrib, Habib Riziq kembali menyampaikan orasinya dan suara dapat terdengar jelas bagi massa yang berada tepat di depan Gedung Mahkama Konstitusi (MK). Orasi itu memberikan asa yang kuat bahwa tidak mungkin polisi akan melukai massa, apalagi ini untuk membela Al-Qur’an.

Namun, setelah beberapa ulama naik ke panggung dan menyampaikan orasinya, tiba-tiba dentuman tembakan gas air mata diluncurkan. Sebelum tembakan itu terlepas, sempat ada provokasi entah dari mana.

Dari pengeras suara, massa yang berada di depan MK hanya bisa mendengar, “Yang sebelah kiri, tahan-tahan. Jangan lakukan tindakan apapun. Komando ada dari sini. Jangan ada suara lain. Ya Abdallah, jangan ada suara lain, selain di sini. Tahan-tahan, kita aksi damai, revolusi damai,” ucapnya.

Di tengah suara dentuman,  Habib Rizieq masih mengajak massa tenang. “Hati-hati, hati-hati, hati-hati provokasi!”

Namun saat tembakan itu tak berhenti-henti, dari pengeras suara juga terdengar, “Pak Polisi, jangan tembaki mahasiswa itu, jangan tembak, mereka saudaramu, sebangsamu.”

Tidak lama kemudian, massa yang berada di sepanjang jalan Gedung MK berkali-kali dibuat kaget dan panik, pasalnya dari depan mulai banyak korban berjatuhan. Ada yang dibopong, ditandu dan sebagian menggunakan ambulance.

“Kasih jalan-kasih jalan,” teriak mereka yang mengamankan peserta aksi damai yang terluka.

Massa di depan MK tetap berada di tempat. Kala itu, pengeras suara masih terdengar jelas. “Tahan, jangan maju, jangan mundur, tahan,” suara koordinator aksi, Munarman menegaskan.

Massa pun taat, tetap di tempat. Namun beberapa saat kemudian, teriakan, “Kasih jalan-kasih jalan” kian sering melintas yang kedatangannya tentu saja mengubah posisi berdiri massa, karena harus dengan cepat memberikan jalan.

Tidak lama kemudian, asap dari gas air mata sampai juga di Gedung MK. Peserta yang membawa pasta gigi langsung membagikan dan mengusapkannya di pipi sampai bawah kelopak mata dan mulai menggunakan masker. Tetapi, semua itu tidak berfungsi apa-apa.

Asap itu tetap menyergap mata dan hidung peserta aksi damai di depan Gedung MK. Mata mulai perih dan dada terasa sesak. Massa pun perlahan mundur, meski beberapa kali ada intruksi untuk bertahan. Namun, teriakan “Kasih jalan” yang menandakan semakin banyak korban dievakuasi, dan mata yang mulai tak mampu menahan perih, menjadikan sebagian massa perlahan mundur.

Seorang peserta muda tiba-tiba berkata, “Kenapa ya, polisi seperti ini, tega banget. Ulama-ulama kami ditembaki, beberapa menjadi korban. Ya Allah, kenapa mereka tidak punya empati kepada umat Islam,” ucapnya dengan nada kecewa dan tidak mengerti.

Dor! Pak Polisi, Jangan Tembaki Ulama Kami

Tembakan terus dilakukan, dor-dor-dor, sehingga sebagian berkata, “Ini belum seperti di Palestina, tapi dentuman itu sudah cukup mengerikan bagi kita. Ya Allah, lindungi kami-lindungi kami,” ucapnya.

Ternyata benar apa yang disampaikan seorang sahabat yang cukup mengenal masalah penanganan aksi dari kepolisian tepat pada pukul 15:30 WIB.

Tiba-tiba ada pesan whatsApp saya masuk, “Ini bukan hoax. Sy menyaksikan personel Brimob sdh mendekat dr gerbang timur Monas. Sdh mengenakan peralatan pengendali huru-hara. Antisipasi, hati2. Semoga Allah menentramkan hati para demonstran dan aparat keamanan.”

Sahabat saya itu kemudian kembali mengirim pesan dan mengingatkan bahwa batas waktu demonstrasi adalah pukul 18.00 WIB. Pesan ini membuatku lebih waspada.

Dan, terjadilah apa yang tidak kami harapkan. Kala itu konsentrasi massa terpecah dan berhasil dipukul mundur. Dengan banyak ambulance hilir mudik mengevakuasi korban tembakan gas air mata.

Aspirasi umat tidak disambut dengan selayaknya. Mungkin aparat sudah bekerja dengan lelah dan sesuai prosedur mereka harus menjalaninya. Hanya ada pertanyaan dalam hati saya, tidakkah komandan mereka mengerti bahwa yang datang adalam lautan manusia yang bisa panik dan banyak melahirkan resiko yang tak diinginkan.

Simpatik

Sejak Subuh hingga sholat Maghrib saya menyaksikan Aksi Damai Bela Islam ini sungguh sangat simpatik. Penyematan islah ‘damai’ dalam aksi sungguh sangaat tepat.

Sampai waktu yang diberikan pemerintah, acara  berjalan sangat tertib, damai dan penuh kesantunan. Selain itu dalam panggung utama, para ulama sudah setiap saat memberikan ‘permohonan’ agar pihak keamanan tidak melakukan apapun yang bisa melukai peserta Aksi Damai Bela Al-Quran ini. Tetapi begitulah,  peluru berisi gas air mata itu terus ditembakkan ke lautan manusia.

Pemandangan simpatik juga dipertunjukkan kepada hampir banyak peserta dari berbagai jenis. Bahkan sebagian peserta ada yang berinisiatif membawa kantong sampah dan merelakan dirinya sebagai pembersih sisa makanan dan minuman peserta yang lain.

“Awas sampah, sampah, ayo kumpulkan, nanti ada wartawan masukkan berita sampah demo,” teriaknya menyindir Aksi Bela Islam I di mana banyak media sibuk meliput ada sedikit taman yang rusak namun mengabaikan suara dan tuntutan umat Islam.

Sebagian juga tidak lelah mengingatkan agar peserta aksi damai tidak menginjak rumput dan taman.

“Awas jangan injak rumput, jangan sampai rusak taman, nanti dimasukkan ke tivi tipu,” teriaknya berulang kali setiap ada taman dilalui orang.

Namun situasi aman dan damai itu agak cidera karena reaksi tembakan-tembakan gas air mata. Sebelum meninggalkan lokasi yang sudah mulai agak ricuh, saya berdoa sambil berjalan menuju posko rombongan kami. “Ya Allah, berkahilah bapak Polisi yang begitu merasa perlu menembakkan gas air mata kepada umat yang ingin mengadu pada presidennya karena tak ingin agamanya dilukai. Ya Allah jangan sampai  Engkau turun tangan pada mereka atas pengaduan umat ini di Hari Kiamat nanti!”*/Imam Nawawi, peserta Aksi Damai 411

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Tasyakuran Tiga Wisudawan Mahasiswa asal Patani di Indonesia

Tasyakuran Tiga Wisudawan Mahasiswa asal Patani di Indonesia

Khawatir Tsunami, Warga Pandeglang Menginap di Masjid

Khawatir Tsunami, Warga Pandeglang Menginap di Masjid

Perempuan Salimah Aceh Siap Perkuat Ekonomi Keluarga

Perempuan Salimah Aceh Siap Perkuat Ekonomi Keluarga

Menjaga Adab, Menguatkan Kepribadian dalam Kebaikan

Menjaga Adab, Menguatkan Kepribadian dalam Kebaikan

Sejumlah Tokoh Hadiri Pelantikan Pengurus IPSA Aceh

Sejumlah Tokoh Hadiri Pelantikan Pengurus IPSA Aceh

Baca Juga

Berita Lainnya