Perlunya Membangun Peradaban Islam di Nusantara Berdasarkan Akhlak yang Tinggi

Islam berhasil masuk Nusantara dibawa para dai dengan mudah tanpa paksaan, tanpa kekuatan militer

Perlunya Membangun Peradaban Islam di Nusantara Berdasarkan Akhlak yang Tinggi
Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud dari CASIS-Universiti Teknologi Malaysia Malaysia (UTM) saat Kuliah Perdana Program Pascasarjana Institut Agama Islam Darullughah Wadda’wah (INI DALWA) Bangil-Pasuruan

Terkait

Hidayatullah.com—Peradaban Islam adalah peradaban bercirikan pada akhlak yang tinggi berdasarkan wahyu. Ia adalah Peradaban Akhlak atau Ethical Civilization.

Karena itu diperlukan membangun Peradaban Islam di Nusantara yang berdasarkan akhlak. Demikian disampaikan Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud dari Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation (CASIS) Universiti Teknologi Malaysia Malaysia (UTM) saat Kuliah Perdana Program Pascasarjana Institut Agama Islam Darullughah Wadda’wah (INI DALWA) Bangil-Pasuruan.

“Peradaban Barat berasas dari Yunani kuno yang bersifat filosofis. Tetapi falsafahnya tidak berakhlak. Karena itu mereka membenarkan segala perilaku manusia. Itu Peradaban Modern Barat. Sementara China mengutarakan konsep baru “Peradaban Ekologi”. Tetapi, semua itu sama, bersifat materialis, tidak mengasaskan pada agama,” demikian ujarnya dalam Kuliah Perdana dengan tema ‘Membangun Peradaban Keislaman di Nusantara”pada hari Ahad, (09/10/2016).

Ia melanjutkan, Peradaban Barat itu tidak terlalu mementingkan akhlak.

“Sifat peradaban Barat bersifat teknologikal, suatu peradaban yang semata-mata berasas teknologi, bukan agama dan bukan akhlak”, tambah Prof. Wan.

Kekhasan peradaban ini menjadi faktor keberhasilan Islam masuk dengan mudah di Nusantara.

“Sampainya Islam di berbagai negara dunia tanpa paksaan. Tanpa kekuatan militer. Termasuk datangnya ke Melayu juga tanpa militer, tetapi dibawa oleh para sufi dan keturunan Imam Muhammad Sahib Marbat, Sayid Ahmad bin Isa al-Muhajir, Ali bin Abi Talib dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Semua dai tersebut datang dengan kebijaksaan, ilmiah dan akhlak, menyatukan pulau-pulau Melayu dalam satu agama dan bahasa dan tulisan pego,” tambah pendiri CASIS UTM Malaysia itu.

Pemilihan Bahasa Melayu sebagai bahasa dakwah Islam oleh dai-dai penyebar agama di Nusantara dikatakan oleh Prof. Wan sebagai pilihan yang betul.

“Bahasa Melayu dipilih dikarenakan bahasa ini masih murni, belum kental bercampur pandangan alam Agama Hindu. Sedangkan Bahasa Jawa masih tercampur dengan animisme Hindu- Budha. Maka, jika Islam disampaikan dalam Bahasa Jawa, maka Islam tersampaikan tidak dalam bentuk murni,” tambahnya.

Dijelaskan oleh Prof. Wan bahwa pandangan alam Islam itu dibentuk melalui bahasa terutama melalui kata-kata/istilah kuncinya. Datangnya pemikiran-pemikiran asing juga melalui bahasa.

Banyak kata-kata kunci Islam yang dibelokkan maknanya. Maka tugas ilmuan adalah mengkaji istilah-istilah bahasa kunci itu agar tidak terjadi salah paham terhadap istilah Islam.

Arabisadi dan Islamisasi

Penulis buku Rihlah Ilmiah: dari Neomodernisme ke Islamisasi Ilmu Kontemporer ini juga menyinggung ‘Islamisasi’ tidaklah sama dengan ‘Arabisasi’. Sebab Bahasa Arab justru mengalami ‘Islamisasi’ melalui Bahasa Al-Qur’an. ‘Islamisasi’ bukan sekedar mengimpor kata-kata kunci Islam dari Bahasa Arab ke dalam bahasa lokal, tetapi mengubah makna/istilah kata-kata kunci dari bahasa lokal menjadi makna Islami.

Islamisasi Tanah Melayu bukan Arabisasi

Sehingga, tambahnya, ada istilah-istilah asing tetap digunakan dalam Bahasa Melayu, tetapi makna kandungannya telah diganti. Seperti penggunaan kata ‘dosa’, ‘pahala’, ‘surga’, ‘neraka’ dan lain-lain dari Bahasa Sansekerta, dibiarkan.

“Bahasa Arab sudah diislamkan dengan memberi makna-makna baru. Islamisasi Bahasa Arab oleh Al-Quran. Contoh istilah karim atau karamah. Sebelum Islam karim itu dermawan, suka memberi pada orang lain. Islam datang dengan al-Qur’an menyempurnakan makna karim menjadi orang yang paling bertakwa (inna akramakum indallahi atqakum),” ujarnya.

Itulah pentingnya bahasa. Khususnya Bahasa Arab. Prof. Wan berpendapat bahwa perubahan perilaku berasal dari perubahan pikiran dan perubahan pikiran bermula dari bahasa.

Mengkaji Turats Ulama Nusantara

Selain dihadiri Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud dari CASIS  Universiti Teknologi Malaysia Malaysia (UTM) acara kuliah perdana ini juga dihadiri  Dr. Muhammad Zein dari Kementrian Agama (Kemenag) RI sebagai narasumber.

Selain itu juga dihadiri oleh Mudir Ma’had, Habib Ali Zainal Abidin bin Hasan Baharun dan Rektor INI DALWA, Dr. Habib Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I serta seluruh pejabat kampus lainnya.

“Kami berharap kita menjadi mukmin yang bisa membanggakan Nabi. Dengan cara dakwah yang bisa masuk pada semua segi kehidupan manusia. Itulah harapan kita di program ini,” jelas Habib Segaf dalam sambutannya.

Rektor INI DALWA tersebut juga berharap santri tidak hanya pintar berbicara, tetapi juga pintar akalnya. Jadi ulama sekaligus ilmuan.

“Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain, pintar bicara dan akalnya. Yang bisa berkecimpung di masyarakat”, tambahnya.

Sementara itu, Direktur Pascasarjana INI DALWA, Dr. Zainal Abidin Bilfaqih, menjelaskan keperluan dibukanya program doktoral Dirosah Islamiyah di kampus Dalwa dengan fokus pada pengkajian turats-turats Ulama Nusantara.

“Sekarang banyak beredar pemikiran-pemikiran sejarah yang kabur dari pengkaji Barat, tidak orisinil dan terputus rantai sanad keilmuannya kepada para ulama kita,” tegasnya.

Karena itu, menurutnya, harus segera dimulai membuka dan mengkaji turats lama karya para ulama, meneliti kembali Islamisasi di Nusantara yang dibawa oleh keturunan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dari Yaman itu.

“Program ini mengembangkan pemikiran tiga ulama besar abad ini,yaitu Prof. Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki (alm) dari Makkah, Dr. Habib Abu Bakar al-Adni al-Masyhur dari Hadramaut, dan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dari Malaysia,” tambahnya menerangkan filosofi studi doktoral di INI DALWA.

Progam yang dijalankan nanti menurut Dr. Zainal diharapkan menghasilkan konsep-konsep ilmu yang orisinil, tidak tercampur mindset Barat, untuk membangun peradaban Islam di Nusantara.

Dr. Muhammad Zein dari Kementrian Agama mendukung program peradaban ini. Ia juga sangat respek dengan ide-ide dan pemikiran Prof. Wan Mohd Nor, murid utama Prof. Naquib al-Attas.

“Yang membentuk Indonesia adalah para ulama sufi. Pendapat ini yang kemudin dikaburkan oleh orientalis. Karena itu, diharapkan dengan program ini turats-turats ulama kita terselamatkan. Apalagi, Dalwa memiliki kelebihan di bahasa Arab,” ujarnya.

Ia berpendapat, bahwa bahasa itu sangat penting karena problem sarjan Muslim saat ini ada pada Bahasa Arabnya.

Kuliah perdana untuk mahasiswa baru program doktor ini baru dibuka dan seluruh mahasiswa magister.*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !