Syamsuddin Arif: Politik Islam berbeda dengan ‘Islam Politik’

Menurut Dr Syamsuddin, istilah demokrasi sebenarnya sudah selesai dengan adanya Partai Masyumi di Indonesia

Syamsuddin Arif: Politik Islam berbeda dengan ‘Islam Politik’
www.nytimes.com

Terkait

Hidayatullah.com— Politik Islam adalah politik yang sesuai dengan ajaran Islam. Sedang istilah ‘Islam politik’,  adalah istilah yang datang untuk melecehkan atau mengolok-olok Islam.

“Mengingkari politik Islam, berarti mengingkari adanya politisi muslim. As siyasatus syariyah itu adalah politik Islam,” ujar Dr Syamsuddin Arif dalam kajian Saturday Forum di  Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta dengan tema Politik Islam dan ‘Islam Politik’, Sabtu (08/10/2016) kemarin.

Menurut pria yang dikenal ahli filsafat Islam ini, istilah ‘Islam politik’,  datang untuk melecehkan atau mengolok-olok Islam. Karena di situ dipisahkan dengan ‘Islam teologis’, ‘Islam sufistik’ dan lain-lain.

Islam politik dianggap sebagai ideologi atau gerakan yang ingin mendirikan Negara Islam atau menerapkan syariat Islam dalam sebuah negara. Misalnya partai-partai Islam. Sebagian diantara mereka menyamakan antara Islamis dan Islam politik.

Ia mengutip Robert W Hefner yang menyebut civil Islam adalah lawan dari political Islam. Profesor Antropologi Agama di Universitas Boston, Amerika Serikat mengatakan yang perlu dikembangkan di negeri-negeri Islam adalah civil Islam bukan political Islam.

Penulis buku Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia mengatakan, agama itu di masjid, gereja dan tempat ibadah lainnya. Agama urusan privat atau dengan Tuhan bukan dengan publik.

Islam, menurut Dr Syamsuddin, mengurusi masalah politik, ekonomi, privat dan public.Tidak bisa dipisah-pisahkan seenaknya.Makanya dalam politik Islam para ulama membahas hal-hal pokok yang berkaitan dengan umat, imam, ulul amr, khalifatur Rasulillah, amirul mukminin dan hukm.

“Meskipun Islam dan politik telah menyatu sejak awal, dimana Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bukan sekadar utusan Allah dan pemimpin agama, tetapi juga pemimpin bangsa dan negara, sebagai leader and ruler –meminjam ungkapan Bernard Lewis, kajian politik Islam secara ilmiah, teoritis dan sistematis baru bermula pada kurun kedua Hijriah.”

Secara umum, pemikiran politik Islam merupakan sintesis dan amalgamasi dari konsep-konsep kepemimpinan yang dikenal dalam masyarakat Arab pra-Islam dan ajaran Islam itu sendiri (yakni al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muḥammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam) dengan tradisi bangsa-bangsa yang ditaklukan seperti Syria (Romawi), Mesir, Persia dan Mongol.

Sejauh yang dapat dilacak, karya pertama yang secara sistematis membahas masalah-masalah tata negara dari perspektif Islam adalah bab politik dari Kitāb as-Siyar al-Kabīr yang ditulis oleh Muḥammad ibn al-Ḥasan as-Syaybānī (w. 189/804), seorang ulama besar yang lahir di Wāsiṭ dan dibesarkan di Kūfah, Iraq.Ini diikuti oleh bagian pertama (Kitāb as-Sulṭān) dari ‘Uyūn al-Akhbār karya Ibn Qutaybah (w. 276/885)8 dan bagian pertama dari Kitab al-‘Iqd al-Farīd karya Ibn ‘Abd Rabbih.

Tiga Kajian Politik Islam

Kajian dan pemikiran politik Islam dapat dipetakan dalam tiga wilayah besar.

Pertama, kajian tradisional-normatif, yakni pembahasan konsep-konsep dan norma-norma perpolitikan yang diuraikan oleh para ulama.Termasuk dalam kategori ini tiga kitab yang kita sebut di atas. Namun sebenarnya wilayah ini pun masih bisa dipilah lagi menjadi beberapa kategori: (i) ulama mutakallimūn baik dari golongan Ahlus Sunnah (Abu ’Ḥasan al-Asy‘arī, al-Bāqillānī, ‘Abd al-Qāhir alBaghdādī dan seterusnya), Syiah (Ibn Bābawayh, aṭ-Ṭūsī, al-Ḥillī), dan Mu‘tazilah (al-Jāḥiẓ, al-Qāḍī ‘Abd al-Jabbār) yang masing-masing menyediakan satu bab khusus dalam karyanya terhadap masalah ‘imāmah’ atau kepemimpinan, apakah ia wajib atau tidak, dengan proses pemilihan ataukah penunjukkan, dan sebagainya; (ii) ulama muḥadditsūn (seperti Imam al-Bukhārī, Muslim, at-Tirmidzī) yang juga menaruh perhatian kepada hadis-hadis politik (contohnya ‘kitāb al-imārah’ dalam Ṣaḥīḥ Muslim); (iii) ulama fuqahā’ (al-Māwardī, al-Farrā’, al-Juwaynī) yang menulis buku khusus untuk mengupas fikih politik dan pemerintahan; (iv) ulama udabā’ (Ibn al-Muqaffa‘, Ibn Qutaybah, Ibn ‘Abd Rabbih, al-Jaḥsyiyārī, at-Tsa‘ālabī, aṭ- Ṭarṭūsyī); (v) ulama falāsifah (al-Fārābī, Ibn Sīnā, Ibn Rusyd) yang mewakili tradisi pemikiran atau filsafat politik Yunani kuno (Plato dan Aristoteles).

Ciri khas dari kajian jenis ini menurut Syamsuddin Arif adalah banyaknya aturan dan anjuran yang perlu dipahami dan dilakukan oleh seorang pemimpin agar dihormati oleh bawahannya, dicintai oleh rakyatnya, dan disegani oleh musuh-musuhnya.

Walaupun juga diselingi contoh-contoh kasus, namun kebanyakan merupakannya pernyataan-pernyataan induktif-normatif yang masih bisa dan perlu dikukuhkan oleh penelitian empiris atau bahkan uji-coba lapangan.

Kedua, kajian tekstual-historis yang merupakan pendekatan para sarjana Barat atau ahli ketimuran (orientalis).

Politik Islam dikaji sebagai pusaka ilmiah (intellectual heritage) tak ubahnya seperti artifak kuno dikaji oleh ahli arkeologi.Politik Islam itu masa lalu, sudah lama mati, dan kini tinggal sejarah. Politik Islam sebagai aksi, proses, regulasi, maupun diskursus, semuanya menarik dikaji sebagai produk sejarah yang mungkin masih relevan dan mungkin tak relevan sama sekali dengan situasi sekarang ini.

“Kalau memang relevan, mengapa tak ada satupun negara Islam saat ini yang mengacu padanya? Namun jika tidak relevan sama sekali, lantas untuk apa semua itu dikaji? Jawaban para sarjana orientalis untuk pertanyaan ini tidak cukup beragam; dari sekadar memenuhi dahaga intelektual dan memperlihatkan wawasan budaya, hingga untuk mendapatkan cermin bagi merumuskan kebijakan luar negeri dalam hubungan dengan negara-negara Islam,” ujarnya.

Sebagai contoh pendekatan tekstual-historis ini adalah kajian pemikiran politik Ibn Taymiyyah oleh Henri Laoust, kajian sistem administrasi negara zaman Abbasiyah ole Ann Lambton, kajian naskah Kitab Ibn Rusyd yang menguraikan Politeia (Respublica) Plato oleh Erwin Rosenthal, kajian naskah Kitab Ārā’ Ahl al Madīnah al-Fāḍilah karya al-Fārābī oleh Richard Walzer, dan masih banyak lagi.

Pendekatan ala orientalis sebenarnya bermanfaat sekali untuk mengenalkan kita pada khazanah pemikiran politik yang dimiliki umat Islam. Akan tetapi di sisi lain ia seringkali juga membawa orang menerawang jauh di alam utopia. Akibatnya timbul perasaan miris ketika melihat kenyataan tidak seindah pengharapan.

Ketiga, kajian sekular-modernis yang mulai muncul sejak Dunia Islam dijajah dan dikuasai oleh bangsa-bangsa Eropa

Pendekatan ini bertolak dari anggapan atau bahkan keyakinan –yang sesungguhnya boleh jadi keliru- bahwa ketidakmampuan umat Islam menghadapi kolonialisme Eropa disebabkan oleh sistem politiknya yang lemah, dan ini disebabkan oleh ajaran Islam yang tidak mengenal pemisahan antara agama dan negara.

Maka maraklah gagasan sekularisasi sebagaimana dipopulerkan oleh Kemal Ataturk. Tokoh-tokoh cendekiawan pun hanyut dalam arus ini.

Dapat disebut, misalnya ‘Alī ‘Abd al Rāziq yang menulis buku al-Islām wa Uṣūl al-Ḥukm (1967), Khālid Muḥammad Khālid, penulis Min Hunā Nabda’ dan ad-Dimuqrāṭiyyah Abadan (1953), Nāmik Kāmil dan ‘Abd al-Ghanī Sanī Bey yang menulis al-Khilāfah wa Sulṭat al-Ummah (1924).

Mereka tanpa berpikir panjang menelan bulat-bulat aneka konsep dan sistem politik Barat modern seperti demokrasi dan sebagainya. Hanya dengan meniru sistem politik Barat, negara-negara Islam bisa maju dan kuat, begitulah bayangan mereka.

Pendek kata, kelompok apologetik ini berupaya mencarikan pembenaran terhadap sistem demokrasi dan konsep negara sekuler agar dapat diterima dan diamalkan oleh umat Islam.

Menurut Dr Syamsuddin, ada pula yang memaknai Islam politik adalah sikap dan perilaku politik umat Islam yang didorong oleh keyakinan bahwa Islam perlu berperan di ruang publik dan perlu mempengaruhi kebijakan politik masa kini.

Istilah kontroversial ini memang belum lama muncul, dan sengaja dibikin untuk membedakan antara sikap apatis atau pasif sebagian orang Islam dengan sikap sebagian lainnya yang sangat aktif berpolitik.

Menurutnya, dalam mengkaji Islam politik inipun kita dapat melihat adanya tiga paradigma berbeda, yaitu paradigma pesimis radikal, paradigma utopian radikal, dan paradigma optimis moderat.

Paradigma pesimis radikal diwakili oleh pengamat politik semacam Oliver Roy, penulis buku The Failure of Political Islam (Kegagalan Islam Politik).

Menurut Oliver Roy, aktivis ‘Islam Politik’ sebenarnya tidak atau kurang memahami Islam, hanya mengikuti syahwat politik demi menggolkan agenda-agenda mereka sendiri.

Artinya, mereka ini tanpa sadar mengkhianati umat Islam dan membelakangi para ulama (anti-clerical). Oliver Roy menjuluki mereka neo-fundamentalists yang tidak sama dengan kaum Islamists.

Aktivis Islam Politik kalaupun mereka menang Pemilu dan berkuasa dapat dipastikan akan gagal menjalankan pemerintahan yang adil dan berwibawa, sebaliknya justru bakal membunuh demokrasi, menindas rakyat, menghancurkan ekonomi, dan merusak hubungan internasional.

Demikian ramalan suram dari Roy, yang diamini oleh dan mempengaruhi banyak pengamat termasuk Graham E. Fuller, Greg Fealy, Kikue Hamayotsu, Robert W. Hefner, William Liddle dan Saiful Mujani.

Dalam diskusi mingguan di INSISTS itu juga ramai didiskusikan tentang istilah demokrasi dan politik Islam di Indonesia.

Menurut Dr Syamsuddin, istilah demokrasi sebenarnya sudah selesai dengan adanya Partai Masyumi di Indonesia. Dan yang menarik tokoh politik Islam Mohammad Natsir mengajukan konsep teistik demokrasi yang merupakan lawan ateistik demokrasi.*/kiriman Nuim Hidayat

Rep: Cholis Akbar

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !