Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Berita dari Anda

Idul Fitri dengan Bleketek Sunda

Bagikan:

Anda tahu bleketek? Tadinya saya juga tidak tahu. Namun, di hari ketiga lebaran, tiba-tiba ia muncul. Memang ia selalu muncul pada lebaran ketiga, tidak kedua, apalagi pertama. Penasaran?

Bleketek adalah sejenis makanan yang dikenal oleh sebagian besar orang Sunda. Bila ditilik dari namanya, ia memang khas Sunda. Tapi bila dilihat dari bahan dan cara pengolahannya, ia bukan makanan khas Sunda. Ia bisa berasal dari mana saja.

Adalah kebiasaan masyarakat Sunda pedesaan —juga sebagian masyarakat lain di Indonesia— untuk saling berbagi makanan di hari Raya Idul Fitri. Makanan yang lazim dibagi adalah rendang, bihun goreng, sambal kentang, dan lain-lain.

Pada hari kedua lebaran, makanan-makanan tersebut tentu masih tersisa. Maklum, budaya saling berbagi menyebabkan setiap rumah “kebanjiran” berbagai jenis makanan tersebut. Jika makanan itu dihangatkan, pasti masih enak disantap.

Pada hari ketiga, makanan itu masih ada meskipun jumlahnya berkurang. Nah, saat inilah, semua jenis makanan tersebut dicampur aduk jadi satu, lalu dihangatkan kembali. Jadilah ia jenis makanan baru dengan rasa yang juga baru dan bentuk yang juga tak sama dengan bahan aslinya. Maklumlah, sejak hari pertama hingga hari ketiga lebaran, mungkin sudah lima atau tujuh kali makanan tersebut dihangatkan.

Itulah bleketek, jenis makanan yang sudah bertahun-tahun menemani hari-hari lebaran masyarakat perkampungan Sunda, khususnya setelah lebaran ketiga. Makanan ini biasanya disantap bersama uli (ketan yang dikukus dan dipotong-potong persegi empat) dan dinikmati bersama-sama keluarga.

Inilah kearifan lokal masyarakat Sunda yang tak mau membuang percuma makanan karena kebetulan sedang berlimpah. Bukankah Allah Subhanahu Wata’ala membenci perbuatan membuang-buang makanan?

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, pernah berkata, “Sesungguhnya Allah membenci kalian karena tiga kal: ‘katanya-katanya’ (berita dusta), menyia-nyiakan harta, dan banyak meminta.”

Para ulama sepakat bahwa menyia-nyiakan harta yang disebut dalam Hadist di atas termasuk juga menyia-nyiakan makanan. Bahkan, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sejumlah Hadits meminta kaum Muslim untuk memuliakan makanan, hatta makanan jin sekalipun.Wallahu ‘alam.*/kiriman Mahladi (Jawa Barat)

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Din Syamsuddin Mengajak Ummat Merawat Persaudaraan

Din Syamsuddin Mengajak Ummat Merawat Persaudaraan

Al Azhar Serahkan Hibah 650 Kerudung untuk Dhuafa

Al Azhar Serahkan Hibah 650 Kerudung untuk Dhuafa

SAR Hidayatullah: Pasangan Pengusaha ini Rutin Membantu Korban Berbagai Bencana

SAR Hidayatullah: Pasangan Pengusaha ini Rutin Membantu Korban Berbagai Bencana

Sambut Munas V Hidayatullah, Pemuda Balikpapan Gelar Aksi “Touring X Ukhuwah”

Sambut Munas V Hidayatullah, Pemuda Balikpapan Gelar Aksi “Touring X Ukhuwah”

PPI Lebanon mengadakan Seminar tentang Kahlil Gibran

PPI Lebanon mengadakan Seminar tentang Kahlil Gibran

Baca Juga

Berita Lainnya