Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Berita dari Anda

Iman dalam Islam Tak Dibangun Atas Emosi dan Imitasi

Wakil Rektor IV UIKA, Dr. Nirwan Syafrin
Bagikan:

Hidayatullah.com–Islam bukan agama terbelakang. Ia bahkan bicara tentang ilmu sejak wahyu pertama turun. Demikian dikatakan Wakil Rektor IV Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Dr. Nirwan Syafrin, beberapa waktu lalu.

“Wahyu pertama itu berisi perintah iqra’. Iqra’ untuk membaca dan merenungkan segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan,” ucap Nirwan di hadapan puluhan mahasiswa Magister Pendidikan Islam UIKA.

Menurut Nirwan, keimanan (agama) memiliki keterkaitan dengan ilmu. Iman  adalah penunjuk dan rambu dalam mencari ilmu pengetahuan.

“Siapa yang menggunakan iman dan ilmunya dengan baik dan benar, ia tidak tersesat dan terhindar dari kebodohan,” terang doktor lulusan ISTAC, Malaysia itu.

Ditegaskan Pembina Pesantren Husnayain, Sukabumi tersebut, iman dan ilmu bukanlah dua entitas yang saling menegasikan. Sebaliknya, keduanya saling mengafirmasi satu sama lain.

Demikian itu, kata Nirwan, sekaligus menjadi pembeda dengan peradaban yang dibangun oleh Barat. Sebab selama ini Barat justru mengajak manusia meninggalkan agama untuk mengejar ilmu (teknologi).

Lanjut Nirwan, iman dalam Islam tidak dibangun atas emosi dan imitasi. Tapi berlandaskan bukti dan dalil. Orang yang beriman itu karena memiliki ilmu.

“Ilmulah yang mendorongnya untuk percaya terhadap apa yang diturunkan Allah,” ungkap peneliti lembaga kajian INSISTS.

Menurut Nirwan, hal ini menjadi isyarat bahwa tidak ada permasalahan di dunia ini yang tidak dapat diselesaikan. Semuanya punya solusi dan ada ilmunya dalam al-Quran.

Dikatakan, makna tauhid tersimpul dalam kalimat syahadat. Sebuah kesaksian terhadap fenomena alam yang mengantarkan manusia menjadi hamba yang tunduk patuh kepada Allah.

“Itulah tauhid sebagai simpulan ajaran Islam. Tauhid juga yang menjadi inti ajaran seluruh Nabi,” imbuhnya lagi

Terakhir, Nirwan mengingatkan para penuntut ilmu tentang tujuan pendidikan Islam, yaitu menghasilkan Abdullah (hamba Allah). Seorang hamba Allah yang bisa mengemban tugas khalifah dan beribadah kepada Allah.

“The ultimate aim of Muslim education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of the individual, the community and humanity,” pungkas Nirwan sambil menyebutkan kutipan dari Syed Ashraf dalam New Horizons in Muslim Education. */Arsyis Musyahadah (UIKA Bogor)

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Terbentuknya Komunitas Sahabat Hijrah Jambi

Terbentuknya Komunitas Sahabat Hijrah Jambi

IMS: Pidie Jaya Aceh Mulai Bangkit, Sesekali Terjadi Gempa Kecil

IMS: Pidie Jaya Aceh Mulai Bangkit, Sesekali Terjadi Gempa Kecil

IMS Cek Kesehatan Muslimah Jabodebek

IMS Cek Kesehatan Muslimah Jabodebek

Banjir hampir Tenggelamkan Masjid Ashhabul Kahfi, BMH Buka Posko

Banjir hampir Tenggelamkan Masjid Ashhabul Kahfi, BMH Buka Posko

Imam Syafi’i: Adab Menuntut Ilmu adalah Meninggalkan Dosa

Imam Syafi’i: Adab Menuntut Ilmu adalah Meninggalkan Dosa

Baca Juga

Berita Lainnya