Nativisasi Cenderung Tonjolkan Nilai Tradisi dan Kesampingkan Nilai Agama

William memberikan pandangan bahwa adat selalu dipertentangkan dengan agama sehingga Islam menjadi benda asing yang mempengaruhi adat di Sumatera

Nativisasi Cenderung Tonjolkan Nilai Tradisi dan Kesampingkan Nilai Agama
Tiar Anwar Bachtiar

Terkait

Hidayatullah.com–Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL di Bandung telah memasuki perkuliahan yang ketujuh. Pada pertemuan yang berlangsung di gedung Miraj Tours and Travel, Selasa (21/04/2015) lalu, kuliah diisi oleh Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum. yang mengupas tentang fenomena nativisasi di Indonesia.

Tiar mengungkapkan bahwa nativisasi adalah salah satu efek dari sekularisasi.

“Nativisasi cenderung mengembalikan masyarakat kepada nilai-nilai tradisi sehingga mengesampingkan nilai-nilai keagamaan yang telah dianutnya. Dalam konsep nativisme, nilai-nilai tradisi merupakan nilai asli yang hidup di masyarakat yang harus diangkat. Padahal, di sisi lain, kebudayaan bersifat dinamis sehingga nilai-nilai tradisi terus berkembang sehingga tidak ada yang murni,” ungkap Tiar.

“Lagipula, tradisi jadul belum tentu asli,” ujarnya lagi.

Menurut Tiar, nativisasi di Indonesia sudah dimulai sejak zaman kolonial dahulu. Beberapa tokoh yang berpengaruh dalam penyebaran nativisasi adalah para sejarawan asal Eropa yang menuliskan sejarah Indonesia, di antaranya adalah Thomas Stanford Raffles, gubernur jenderal di masa penjajahan Inggris yang menulis buku The History of Java  pada tahun 1817.

“Dalam buku tersebut, Raffles mengembangkan teori bahwa Hindu adalah akar budaya orang-orang Indonesia, khususnya Jawa,” ungkap Tiar.

“Sekalipun Islam secara kasat mata terlihat menjadi anutan mayoritas masyarakat Indonesia saat Raffles menulis bukunya, namun ia melihat Islam hanya sebelah mata,” ujar Tiar. Karena itulah Raffles lebih merujuk budaya Hindu daripada Islam dalam tulisannya.

Selain Raffles, ada juga William Marsden, penulis buku The History of Sumatera pada tahun 1783. Dalam bukunya, William memberikan pandangan bahwa adat selalu dipertentangkan dengan agama sehingga Islam menjadi benda asing yang mempengaruhi adat di Sumatera.

“Seolah-olah, masyarakat Sumatera tidak ada kaitannya dengan Islam,” ujar Tiar.

Pemikiran Raffles, Marsden dan tokoh-tokoh nativisme lainnya di era kolonial tersebut berpengaruh dalam membentuk pemikiran masyarakat ketika bicara sejarah serta kebudayaan Indonesia.

“Ada kecenderungan mengesampingkan Islam yang mempunyai pengaruh sangat besar dalam membentuk kebudayaan Indonesia. Mereka malah merujuk budaya Hindu-Budha maupun aliran sinkretisme lainnya yang ada di Indonesia sebelum Islam datang. Padahal, budaya-budaya tersebut juga bukan budaya murni yang tanpa pengaruh dari budaya luar Indonesia.”

Menurut Tiar, Islam sendiri mempunyai pengaruh pada budaya Indonesia yang tak bisa dilepaskan begitu saja.*/Eko Apriansyah

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !