Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Berita dari Anda

CASIS Sukses Luncurkan Buku Al-Attas Berjudul “Adab dan Peradaban”

Acara peluncuran buku 'Adab dan Peradaban" karya al-Attas
Bagikan:

Hidayatullah.com—Hari Sabtu pagi (16/02/2013) merupakan hari yang bersejarah bagi Pusat Kajian Tinggi Islam yang baru berdiri dua tahun Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation (CASIS)-Universiti Teknologi Malaysia International –(UTM) karena telah sukses mengadakan seminar akademik untuk pertama kalinya yang disertai launching buku “Adab dan Peradaban: Karya Pengi’tirafan untuk Syed Muhammad Naquib al-Attas”.

Bertempat di hotel Renaissance Kuala Lumpur, acara ini dihadiri kurang lebih 300 peserta dari kalangan professional, cendekiawan, dan mahasiswa dari berbagai kampus di Malaysia. Tak ketinggalan pula beberapa peserta dari Singapura dan Indonesia.

Seminar tersebut diadakan untuk menandai peluncuran buku Festchrift—himpunan makalah ilmiah sebagai karya penghargaan kepada seseorang tokoh ilmuwan—dalam bahasa Melayu.
Sebelumnya, Festchrift berbahasa Inggris terlebih dahulu telah diterbitkan dengan judul Knowledge, Language, Thought and the Civilization of Islam pada tahun 2010.

Buku ‘Adab dan Peradaban’ ini merupakan sebuah karya yang dihadiahkan murid-murid Professor al-Attas dari Malaysia, Indonesia dan Singapura kepada beliau yang telah memberi pengajaran dan arahan selama di ISTAC (1987-2002).

Dalam kata sambutannya sebagai keynote speaker, Prof. Dr. Wan Mohd Noor Wan Daud selaku Direktur CASIS,  mengatakan ciri-ciri budaya ilmu yang dikembangkan al-Attas dalam filsafat pendidikannya adalah bersifat ‘system builder’.

“Ciri-ciri budaya ilmu yang dikembangkan al-Attas dalam filsafat pendidikannya adalah bersifat ‘system builder’ yang mana beliau manfaatkan gagasan-gagasan penting dari ulama besar semisal Imam Al-Ghazālī, Ibn Sīnā, Fakhr al-Dīn Al-Rāzī, Hamzah Fanṣūrī, Nur al-Dīn al-Rānīrī, dan lain-lain,” ujarnya.

Menurutnya,  hal ini  “harus diteruskan pula oleh generasi-generasi berikutnya sebagaimana yang sedang dilaksanakan di CASIS.”

Dalam seminar pagi itu terdapat dua sesi diskusi, sesi pertama diisi oleh tiga sarjanawan senior dan yang kedua oleh tiga intelektual muda dua di antaranya adalah mahasiswa S2 CASIS sendiri. Kesemua pemateri membicarakan sumbangsih al-Attas dalam dunia keilmuan yang meliputi bidang linguistik oleh Dr. Awang Sarian (Direktur Dewan Bahasa dan Pustaka), bidang teologi oleh Dr. Wan Suhaimi (editor Adab dan Peradaban), bidang kesusasteraan oleh Dr. Mohd. Zariat Abdul Rani (dosen Universitas Putra Malaysia), bidang filsafat oleh Syed Muhyiddin al-Attas dan Khayrurrijal (mahasiswa S2 CASIS), dan bidang sejarah oleh Siti Nor Aisyah, M.A. (dosen UiTM).

Dari keseluruhan materi yang disajikan, ada dua poin menarik berkaitan ide-ide al-Attas yang tampaknya masih banyak kalangan-kalangan gagal dalam memahaminya. Pertama sebagaimana disampaikan Dr. Wan Suhaimi, bahwa dalam bidang akidah memang ide-ide al-Attas tidak ada yang baru.

“Justru jika dalam hal akidah terjadi pengurangan ataupun penambahan maka ia akan membawa kepada penyelewengan, sedangkan penjelasan-penjelasan al-Attas yang yang terdapat dalam karya-karya beliau menggambarkan penegasan akan kebenaran-kebenaran yang ada pada akidah ahl sunnah wa’l-jama’ah.”

Poin kedua yang ikut membuat para peserta seminar khusyu’ mendengarnya adalah apa yang dipaparkan oleh Dr. Zariat. Setelah menampilkan raian Prof. al-Attas mengenai kesusasteraan Melayu yang konon disebut modern tetapi sejatinya tetap membebek kepada Barat yang sekuler dan tenggelam dalam nuansa tragedi masa silam, Dr. Zariat menampilkan beberapa fakta menarik namun ironis bagi dunia kesusasteraan Melayu modern.

Dalam beberapa laporan penganugerahan tokoh sastera Melayu mulai tahun 80-an sampai yang terkini, ia memaparkan bagaimana masih adanya belenggu kebudayaan Barat.

“Belum terlepas dari belenggu sastra tragedi yang menjadi ciri kebudayaan Barat dan inilah yang menjadi kriteria utama untuk penganugerahan tersebut,” katanya.

“Fenomena penghargaan kesusastraan Melayu masih didominasi oleh sastrawan-sastrawan pengagum pandangan dan konsep-konsep kesusasteraan Barat,” tambahnya.

Setelah sesi seminar usai, Prof. Dr. Zainy Ujang (Rektor UTM) turut serta memberi kata sambutan pada acara ini.  Ia mengingatkan bahwa “penghargaan kepada Prof. al-Attas di bidang keilmuan bukanlah sebuah pendewaan atau bersifat berlebih-lebihan, namun ia merupakan sikap penghormatan kepada seorang ilmuan yang telah memberi sumbangan keilmuan yang amat besar sepanjang pengabdian beliau dalam masa kurang lebih 40 tahun.”

Acara mencapai puncaknya dengan ditandai peluncuran buku “Adab dan Peradaban” yang disempurnakan oleh Dr. H. Mohd Puad Zarkasyi selaku wakil Menteri Pendidikan II Malaysia.

Tidak ketinggalan pula selaku perwakilan dari pihak Professor al-Attas, anak sulung beliau Dr. Syed Ali Tawfik al-Attas memberikan kata penghargaan yang cukup singkat kepada semua pihak yang telah berhasil mewujudkan buku yang sangat bernilai tersebut.*/kiriman Fiqi Risala dan Khan Khalily dari KL 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Konsep Ilmu yang Dibangun Barat Dinilai Timbulkan Kekacauan Berfikir

Konsep Ilmu yang Dibangun Barat Dinilai Timbulkan Kekacauan Berfikir

Dewan Da’wah Aceh Dirikan Akademi Da’wah Indonesia (ADI)

Dewan Da’wah Aceh Dirikan Akademi Da’wah Indonesia (ADI)

Muslim Aid Bantu Atasi Kekeringan Desa Wangandawa dengan Sarana Irigasi

Muslim Aid Bantu Atasi Kekeringan Desa Wangandawa dengan Sarana Irigasi

Dewan Da’wah Aceh Siapkan Kader Dai Perbatasan

Dewan Da’wah Aceh Siapkan Kader Dai Perbatasan

Sandi Ajak Masyarakat Berkecukupan Bantu Para Pahlawan Hadapi Corona

Sandi Ajak Masyarakat Berkecukupan Bantu Para Pahlawan Hadapi Corona

Baca Juga

Berita Lainnya