Ahad, 23 Januari 2022 / 19 Jumadil Akhir 1443 H

Tsaqafah

Esensi Islam adalah Ilmu

Bagikan:

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Hidayatullah.com |  SEJAK jatuhnya Baghdad 1258 dan pengusiran Muslim dari Spanyol 1492, kondisi umat Islam dianggap mundur. Anggapan ini tampaknya benar sebab Barat terbukti telah sukses menjajah dunia Islam hingga abad ke-20. Kemunduran umat dan kolonialisasi menggenggam masalah. Tapi, apa masalahnya dan apa pula solusinya?

Para politikus Muslim akan menganggap politik sebagai masalah utama dan solusinya tentu melalui politik. Penggerak ekonomi Islam tentu akan mengklaim ekonomi adalah solusi.

Para juru dakwah mungkin menekankan pada kesalehan ritual dan sosial. Demikian yang lain-lain akan memiliki skala prioritasnya sendiri-sendiri.

Namun, dari sekian banyak tawaran solusi, tawaran Syed Mohammad Naquib al-Attas sungguh menarik. Baginya, ilmu adalah solusi dari segala persoalan umat. Tawaran ini tampaknya relevan dengan esensi dari kekuatan Islam sendiri.

Memang, esensi Islam adalah ilmu. Al-Quran merupakan kitab suci yang sarat dengan ilmu dan harus dipahami dengan ilmu. Bahkan, sejarah membuktikan bahwa dari Al-Quran  keluar puluhan disiplin ilmu (ilmu tafsir, ilmu hukum, ilmu waris, ilmu kesehatan, ilmu gramatika, dsb). Akidah Islam harus diyakini dengan ilmu. Syariat Islam hanya dapat diamalkan dengan ilmu dan dapat menghasilkan ilmu.

Bahkan, dalam Islam pemilik ilmu lebih utama dari pada ahli ibadah (HR Abu Daud no 3641). Mu’adz bin Jabal pun malah menganggap aktivitas mencari ilmu sama dengan ibadah dan jihad.

Namun, ilmu yang dimaksud al-Attas bukan sekadar ilmu pengetahuan. Ilmu dalam Islam adalah ilmu untuk menanamkan kebaikan ataupun keadilan dalam diri manusia.

Manusia baik dalam Islam adalah manusia beradab. Karena makna adab berasal dari Al-Quran  (ma’dubah atau hidangan adab), maka pengajaran ilmu yang sesungguhnya adalah transformasi kandungan Al-Quran . Itulah rahasianya mengapa akhlak Rasulullah adalah Al-Quran .

Secara disipliner, al-Attas memahami makna ilmu dalam Islam tidak terbatas pada suatu disiplin yang sempit dalam bentuk spesialisasi khusus. Ilmu meliputi berbagai bidang studi secara integral dan koheren yang mencerminkan worldview Islam. Maka dari itu, ilmuwan Muslim (ulama) bukan spesialis-spesialis yang lepas dari induk dan sumber ilmu dalam Islam. Ilmuwan Muslim harus berilmu universal meski berangkat dari yang spesial.

Dengan makna seperti itu, ilmuwan Muslim (ulama) bagi al-Attas adalah ulama yang memiliki kapasitas untuk mengonseptualisasikan, menjelaskan, dan mendefinisikan konsep-konsep penting yang relevan dalam masalah-masalah budaya, pendidikan, keilmuan, dan epistemologi yang dihadapi Muslim pada zaman sekarang ini.

Selanjutnya, tugas ilmuwan Muslim dengan kapasitas itu adalah memberikan jawaban Islam terhadap tantangan-tantangan intelektual dan kebudayaan dari dunia modern dan berbagai macam kelompok aliran pemikiran, agama, dan ideologi.

Tampaknya, al-Attas melihat bahwa ulama selama ini belum melakukan penjelasan, konseptualisasi, dan definisi masalah-masalah penting yang dihadapi umat. Benar! Memang dalam soal politik, misalnya, umat Islam masih gamang membedakan antara makna syura dan demokrasi, pemimpin Muslim dan kafir, dsb.

Dalam ekonomi, makna welfare dan fallah masih tumpang tindih dan banyak yang lain. Kekaburan konsep tersebut akan berpengaruh pada bagaimana ulama memberikan solusi terhadap problematika umat.

Jika memang tidak ada ulama yang dapat memberi solusi, mungkin kita sudah sampai pada suatu kondisi yang digambarkan Rasulullah, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-Nya sekaligus, akan tetapi akan mencabut ilmu dengan menghilangkan para ulama, sehingga apabila tidak ada seorang pun yang berilmu maka orang-orang akan menjadikan pemimpin dari orang-orang yang tidak berilmu, kemudian mereka memberikan fatwa yang sesat dan menyesatkan.” (HR Bukhari).

Dari uraian di atas jelaslah bahwa esensi Islam adalah ilmu dan ilmu dalam Islam berdimensi adab, maka peradaban Islam adalah peradaban yang harus dihidupkan dengan ilmu yang berdimensi adab. Oleh sebab itu, seluruh persoalan yang timbul dalam peradaban Islam, baik bersumber dari luar ataupun dalam diri umat Islam, semestinya dapat diselesaikan dengan ilmu.

Maka, sabda Nabi sungguh tepat, “Barangsiapa menghendaki dunia maka wajib berilmu, barangsiapa menghendaki akhirat maka ia wajib berilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya maka wajib baginya berilmu.” (HR Tirmidhi).*

Rektor Universitas Darussalam Gontor dan Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Kristen dan Islam, Dua Penyebaran Agama yang Berbeda

Kristen dan Islam, Dua Penyebaran Agama yang Berbeda

Komik Why? dan Bangkitnya Kaum Nabi Luth di Indonesia (2)

Komik Why? dan Bangkitnya Kaum Nabi Luth di Indonesia (2)

KH. Hasyim Asy’ari dan Pendidikan Adab (2)

KH. Hasyim Asy’ari dan Pendidikan Adab (2)

Civil Society Bukan Masyarakat Madani!

Civil Society Bukan Masyarakat Madani!

Tasawuf Hamka: Mengembalikan Kebahagiaan Hidup pada Pangkalnya

Tasawuf Hamka: Mengembalikan Kebahagiaan Hidup pada Pangkalnya

Baca Juga

Berita Lainnya