Sabtu, 27 November 2021 / 22 Rabiul Akhir 1443 H

Tsaqafah

Istiqomah Mengikuti Ahlussunah Wal Jamaah

Bagikan:

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

اهدنا الصراط المستقيم

Hidayatullah.com | AYAT ke enam di dalam surah Al Fatihah itu sangat dekat sekali dengan kehidupan umat Islam. Sebab ayat tersebut merupakan bagian daripada Ummul Qur’an yang merupakan tujuh ayat yang selalu diulang-ulang baik di dalam ibadah sholat maupun di luar aktivitas sholat oleh umat Islam di seluruh dunia.

Sebuah ayat yang bermakna, “Tunjukilah kami jalan yang lurus” yakni bimbinglah kami ke jalan yang lurus, kemudian dijelaskan pada ayat berikutnya, yaitu,

(صِرَاطَ الذين أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ) بالهداية ويبدل من الذين بصلته (غَيْرِ المغضوب عَلَيْهِمْ) وهم اليهود وَلاَ وغير الضالين وهم النصارى ونكتة البدل إفادة أن المهتدين ليسوا يهوداً ولا نصارى والله أعلم بالصواب، وإليه المرجع والمآب وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا دائما أبدا، وحسبنا الله ونعم الوكيل، ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“(Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka), yaitu melalui petunjuk dan hidayah-Mu. Kemudian diperjelas lagi maknanya oleh ayat berikut: (Bukan (jalan) mereka yang dimurkai) Yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. (Dan bukan pula) dan selain (mereka yang sesat.) Yang dimaksud adalah orang-orang Kristen. Faedah adanya penjelasan tersebut tadi mempunyai pengertian bahwa orang-orang yang mendapat hidayah itu bukanlah orang-orang Yahudi dan bukan pula orang-orang Kristen. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui dan hanya kepada-Nyalah dikembalikan segala sesuatu. Semoga selawat dan salam-Nya dicurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan para sahabatnya, selawat dan salam yang banyak untuk selamanya. Cukuplah bagi kita Allah sebagai penolong dan Dialah sebaik-baik penolong. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan hanya berkat pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Lihat Tafsir Jalalain Surah Al Fatihah).

Penulis bukan tanpa sebab menukil ayat tersebut di awal tulisan. Sebab ada latar belakang yang melandasi hal tersebut, yang mana masih terkait dengan persoalan keistiqomahan.

Istiqomah yang penulis maksud adalah Istiqomah di dalam agama Islam akidah Ahlussunah Wal Jamaah. Mengapa ini penting dikemukakan?

Sebab keistiqomahan umat Islam sedang digoyang oleh para pengacau akidah berbaju tokoh Islam dalam sebuah proyek yang bertajuk program moderasi beragama.

Menjadi simalakama besar hari ini ketika umat di bawah (grass root) mulai dihadapkan dengan kenyataan bahwa mulai banyak bermunculan tokoh-tokoh Islam baik dari kalangan ormas, partai, bahkan pesantren yang berusaha menggoyang kemapanan akidah Ahlussunah Wal Jamaah lewat berbagai pendapat nyeleneh baik lewat tulisan, ceramah, dan pengajian mereka.

Mengapa menjadi simalakama, sebab umat Islam di Indonesia terutama di akar rumput adalah umat yang dikenal punya adab (andap ashor, Jawa) yang tinggi manakala berhadapan dengan para tokoh agama mereka.  Apalagi jika si tokoh bergelar Kiai, Anak Kiai (Gus), Buya, Tuan Guru dan sejenisnya.

Belum lagi jika tokoh-tokoh itu punya gelar akademis yang tinggi dan memiliki jumlah massa atau murid yang banyak baik di masyarakat ataupun di dunia maya. Bahkan ironisnya walaupun umat sudah paham kenyelenehan pemikiran para tokoh tersebut, mereka tidak berani melawan, menyanggah, ataupun mengingatkan karena rasa sungkan yang kelewat tinggi tersebut.

Di sinilah keistiqomahan itu dipertaruhkan konsistensinya. Bisakah ghirah membela agama Allah dan syiarnya mengalahkan nafsu berupa rasa sungkan tersebut.

Apa Itu Istiqomah ?

Istiqomah yang akarnya dari kata qiyâm itu sesungguhnya memiliki beragam makna sesuai dengan keadaan yang mengiringinya (konteks kalimat). Sementara itu, lema qiyam sendiri memiliki sejumlah makna, yaitu: al-‘azm, at-tamassuk, al-dawâm, al-intishâb, al-mulâzamah, al-muhâfadzah, al-i’tidâl, al-istiwâ, al-ishlâh, an-nuhûdl, al-qadr, al-‘imâd, al-wuqûf, ats-tsabât, at-tamâm atau al-kamâl.

Dengan demikian, istiqamah memiliki penjabaran makna sebagai berikut; berdiri, bangkit, berhenti, berdiam, hening, mengawali langkah, naik, meningkat, dilahirkan, pilar, tekad, terang, tetap, berhembus, ramai, memberontak, menjaga, merawat, memupuk, melestarikan, menguasai, bertanggung jawab, menegakkan, membangkitkan, mengobarkan, menyanggah, mempertimbangkan, memperbaiki, konsistensi, kesinambungan, yang memiliki nilai dan sangat berharga, kedudukan atau posisi, kemuliaan, kesempurnaan, dan lain sebagainya.(lihat Lisan Al Arab Ibnu Mandhur).

Istiqamah, dengan demikian merupakan gabungan dari banyak unsur pemaknaan di atas.

Sementara itu, Sayyidina Abu Bakar Radiyallahu Anhu mengatakan bahwa istiqomah adalah ketika kau tidak menduakan-Nya. Sayyidina Umar Radhiyallahu Anhu lebih membumikannya dengan mengatakan bahwa istiqomah merupakan praktik kepatuhan pada perintah sang pencipta dan larangan-Nya, tanpa menyisakan rasa gentar untuk terus berada di dalamnya.

Sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan Radiyallahu Anhu memandang bahwa istiqomah adalah kala para penempuh jalan-Nya telah memurnikan segenap amalnya untuk Allah semata-mata. Sedangkan Sahabat ‘Ikrimah dan Mujahid Radiyallahu Anhum menuturkan bahwa yang dimaksud istiqomah adalah konsisten dalam persaksian bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah sampai tiba saat berjumpa dengan-Nya.

Tampak bahwa istiqomah tidak dapat diraih terkecuali jika hati telah lebur di dalam-Nya, jiwa telah subur dengan kehadiran-Nya, dan adanya makrifah kepada-Nya. Dan itu merupakan bukti kesetiaan luar biasa pada Yang Kuasa yang memanjang sampai akhir nafasnya. (Imam Sibawaih El Hasany, Keajaiban Istiqomah, (Bekasi, Al Muqsith Pustaka,2020), hal. 21-24).

Demikian besarnya derajat Istiqomah sampai Rasulullah ﷺ pernah mewasiatkan hal tersebut kepada salah satu sahabatnya. Diriwayatkan ada sebuah hadis yang berbunyi;

عَنْ أَبِي عَمْرٍو وَقِيلَ: أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: “قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ! قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَك؛ قَالَ: قُلْ: آمَنْت بِاَللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ” . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Dari Abi Amru -dan dikatakan pula- Abi Amroh Sufyan bin Abdillah Radiyallahu Anhu berkata, Aku berkata, “Ya Rasulullah! Katakan kepadaku mengenai perkataan di dalam ajaran Islam yang aku tidak menanyakannya pada seorang pun kecuali kepadamu.” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam berkata, “Katakanlah Aku beriman kepada Allah kemudian istiqomahlah.” (HR: Muslim).

Hadis tersebut menjelaskan keutamaan yang sangat agung perihal keimanan dan keistiqomahan dalam memegang teguh keimanan. Rasulullah ﷺ yang memiliki keistimewaan berupa Jawami’ul Kalim memberi tahu umatnya mengenai sebuah ucapan yang terkumpul di dalamnya semua kebaikan ketika beliau menunjukkan kepada umatnya perihal menetapi keistiqomahan dalam keimanan pada hadis tersebut.

Allah SWT juga berfirman perihal Istiqomah di dalam Al-Qur’an:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS: Hud: 112).

Istiqomah juga dijelaskan di dalam ayat lain yang berbunyi,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

“Katakanlah, “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.”(QS: Al Fushilat : 06)

Kemudian di dalam tafsir Jalalain disebutkan mengenai firman Allah yang berbunyi:

{ إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا } على التوحيد وغيره مما وجب عليهم { تتنزل عليهم الملائكة } عند الموت { أن } بأن { لا تخافوا } من الموت وما بعده { ولا تحزنوا } على ما خلفتم من أهل وولد فنحن نخلفكم فيه { وأبشروا بالجنة التي كنتم توعدون }

“(Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami adalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka) dalam ajaran tauhid dan lain-lainnya yang diwajibkan atas mereka (maka malaikat akan turun kepada mereka) sewaktu mereka mati (“Hendaknya kalian jangan merasa takut”) akan mati dan hal-hal yang sesudahnya (dan jangan pula kalian merasa sedih) atas semua yang telah kalian tinggalkan, yaitu istri dan anak-anak, maka Kamilah yang akan menggantikan kedudukan mereka di sisi kalian (dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian).”(QS: Al Fushilat ; 30).

Mengenai kalimat ثم استقاموا pada Surah Fushilat ayat 30 yang bermakna “kemudian mereka meneguhkan pendirian” tersebut, Al-Mawardi menyebutkan adanya lima aspek , yaitu ; Kemudian mereka meneguhkan pendirian bahwa Tuhan mereka maha esa, Kemudian mereka meneguhkan pendirian untuk taat dan menjalankan perintah Allah, Kemudian mereka meneguhkan pendirian atas keikhlasan dalam beragama dan beramal shaleh hingga datang kematian, Kemudian mereka meneguhkan pendirian di dalam perbuatan-perbuatan mereka sebagaimana mereka melakukannya pada ucapan-ucapan mereka, Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka dalam keadaan samar sebagaimana halnya dalam keadaan yang nampak.

Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan kepada umatnya perihal keistiqomahan lidah yang memiliki kaitan dengan keistiqomahan anggota tubuh lainnya lewat sabdanya yang berbunyi;

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَفَعَهُ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Dari Abu Said Al Khudri Radhiyallahu Anhu ia memarfu’kannya, ia berkata: “Jika anak keturunan Adam berada di pagi hari, seluruh organ tubuh tunduk kepada lidah, maka mereka berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla pada kami, karena kami bersamamu. Jika engkau istiqomah, kami juga istiqomah. Jika engkau menyimpang, kami juga menyimpang.” (HR: Tirmidzi).

Hadis tersebut sangat relevan sekali dengan keadaan umat Islam hari ini khususnya di Indonesia. Betapa keistiqomahan dalam memegang akidah kini benar-benar diuji oleh para perancu akidah berbaju tokoh umat seperti yang penulis sebutkan di awal tulisan ini.

Lewat lidah para perancu akidah yang menyimpang dari pakem akidah Ahlussunah Wal Jamaah itulah umat kini mulai disimpangkan keyakinannya. Padahal sangat jelas menurut hadis tersebut bahwa sesiapa yang menyimpang lidahnya maka anggota tubuhnya yang lain ikut menyimpang.

Dan tidak berhenti di situ, karena dia seorang yang ditokohkan, akhirnya penyimpangan lidahnya tadi juga menyimpangkan banyak umat. Ini sesuai dengan pernyataan masyhur yang berbunyi,

اِنَّ زَلَّۃَ الۡعَالِمِ كاَ السَّفِيۡنَۃِ تَغۡرَقُ وَيَغۡرَقُ مَعَهَا خَلۡقٌ كَثِيۡرٌ

“Sesungguhnya kesesatan seorang Alim itu seperti sebuah bahtera yang tenggelam. Niscaya akan ada banyak makhluk yang ikut tenggelam.”

Walhasil umat harus mulai melek dan berani melawan siapapun mereka yang menyimpang dari akidah Ahlussunah Wal Jamaah. Tanpa peduli latar belakang organisasi ataupun kelompoknya.

Tentu melawan di sini tetap dalam koridor yang dibenarkan yakni dengan tetap menjunjung tinggi adab dan memakai hujjah yang kuat. Dan umat Islam juga harus bisa memelihara keistiqomahan akidah mereka yang salah satu caranya adalah dengan tetap mengikuti ulama-ulama Ahlussunah Wal Jamaah yang masih lurus dan Istiqomah memegang akidah Ahlussunah Wal Jamaah. Wallahu A’lam Bis Showab.*

Penulis tinggal di Pasuruan, Jawa Timur

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Radikalisme Kaum Feminis dalam Kesetaraan Gender

Radikalisme Kaum Feminis dalam Kesetaraan Gender

Ulama dan Kebangkitan Umat

Ulama dan Kebangkitan Umat

HAM: Kitab Suci Muslim Moderat?

HAM: Kitab Suci Muslim Moderat?

Transgender, Homoseksual dan Rahmat Islam (2)

Transgender, Homoseksual dan Rahmat Islam (2)

Syeikh al-Qaradhāwī

Syeikh Al-Qaradhawi dan Urgensi Fiqih Prioritas

Baca Juga

Berita Lainnya