Rabu, 8 Desember 2021 / 3 Jumadil Awwal 1443 H

Tsaqafah

Pelopor Islamisasi Indonesia: Pedagang, Perwira, atau Da’i?

islamisasi indonesia
Bagikan:

Kapankah Islamisasi di Indonesia mulai terjadi? Bagaimana proses islamisasi di Indonesia secara umum?

Oleh: Abduh Rijal

Hidayatullah.com | MISI  dakwah Islam telah lama menyebar semenjak zaman para sahabat. Bagian dunia hampir seluruhnya telah ditapaki oleh Agama Islam baik melalui ekspansi militer atau persinggungan jalur perdagangan.

Perjalanan dakwah melalui jalur darat bisa dikatakan jalur yang relatif mudah dibandingkan dengan misi dakwah melalui jalur laut. Oleh karenanya ada persiapan yang lebih serius dan panjang ketika Islam hendak disebarkan ke daerah kepulauan seperti Indonesia.

Pertanyaan tentang kapankah Islam pertama kali datang ke Indonesia banyak diperdebatkan oleh para sejarawan baik dari kalangan orientalis eropa maupun sarjana Islam sendiri. Ada banyak teori tentang masuknya islam di Indonesia.

Prof Naquib al Attas dalam Bukunya Historical Fact and Fiction beranggapan bahwa Islamisasi kepulauan Melayu pertama kali dimulai di abad ke 9 yang dipelopori oleh bangsa arab. Islam sendiri tercatat sudah sampai di kepulauan melayu Indoneisa, sudah terjadi zaman para sahabat. Namun proses besar Islamisasi waktunya terjadi pada kemudian tahun.

Siapakah para pendakwah yang pertama kali membawa Islam ke tanah air ini? Pertanyaan ini susah dijawab karena kita sendiri sebagai orang melayu kekurangan sumber.

Banyak catatan yang berasal dari china dan sumber – sumber lokal, tapi sumber – sumber tersebut masih belum bisa digali dengan maksimal karena kurangnya keterampilan sejarawan muslim dalam hal pembacaan teks sejarah. Sumber sejarah lokasl kita masih banyak terdapat unsur – unsur mitologi seperti babad tidak semuanya bisa dijadikan sumber sejarah karena banyak bercampur dengan mitos.

Karena banyaknya sumber sejarah yang ada itulah akhirnya memunculkan banyak teori islamisasi di Indonesia. Sejarawan ketika berhadapan dengan sebuah bukti sejarah akan berusaha untuk menemukan fakta dan intepretasi dalam bukti sejarah tersebut.

Semakin sedikit fakta yang tersedia, maka interpretasi yang muncul akan semakin banyak. Ibarat seseorang yang sedang menyusun sebuah puzzle, semakin sedikit bagian puzzle yang tersedia maka semakin banyak intrepretasi atau dugaan yang menggantikan potongan puzzlepuzzle yang hilang tersebut.

Kapankah Islamisasi di Indonesia mulai terjadi? Siapakah identitas mereka? Apakah mereka adalah perwira militer, pedagang, atau da’i?

Islam tersebar di dunia, ada yang datang dan dibawa oleh golongan perwira dengan cara militer, seperti yang terjadi di syam, mesir, dan india utara. Peradaban Islam tercatat mengalami ekspansi dengan cara militer, namun penyebaran islam tidak terjadi dengan cara militer.

Secara gradual dan perlahan banyak orang akhirnya memutuskan masuk islam. Al Quran sendiri melarang untuk memaksa seseorang masuk Islam dengan cara paksa.

Daerah Melayu Nusantara termasuk Negara kepulauan yang jaraknya cukup jauh dari Makkkah dan Madinah sebagai pusat Islam. Ekspansi militer lewat jalur laut cukup susah dilakukan, oleh karena itu tidak ada bekas pergerakan militer dalam proses masuknya Islam ke Melayu Nusantara.

Hubungan antara Arab dan Melayu sudah terjalin sangat lama bahkan sebelum masa pra-Islam. Indonesia sendiri merupakan point transit jalur dagang kawasan Asia, maka otomatis para pedagang Arab sudah banyak mengenal kepulauan ini.

Ketika Islam muncul, maka banyak pedagang Arab yang sudah memeluk Islam yang memberikan pengaruhnya lewat jalur perdagangan. Menurut Dr. Alwi al Attas, jalur perdagangan kaum Arab meliputi daerah samudra hindia mulai dari Kairo, Makkah, India, Melaka, sampai China Selatan sudah terbentuk sejak dahulu kala.

Semenjak zaman dahulu, hingga Marcopolo dan Vasco da Gama pun juga sepakat bahwa orang arab sudah terkenal sebagai kapten dari perdagangan Samudra Hindia.  Gujarat, Malabar, Coromandel dan Bengali adalah daerah pantai yang diisi oleh populasi pedagang –pedagang Samudra Hindia, termasuk orang Arab.

Menurut Hamka, Malabar dan Coromandel dinamai oleh orang arab sebagai ma’bar (Crossing Passageway) yang menunjukkan posisi wilayah ini sebagai transit bagi para pedagang dan pelaut arab. Ujung dari rute perdagangan jalur Samudera Hindia ini adalah Ghuang Zhou China melalui selat malaka.

Ini adalah fakta yang banyak disepakati para sejarawan. Di daerah Kanton, China Selatan, dicatat oleh al Mas’udi sudah ada 200 ribu penduduk Arab yang berprofesi sebagi pedagang.

Maka dari jalur ini bisa disimpulkan bisa dikatakan di zaman pertama hijriyah sudah ada muslim yang masuk ke Indonesia karena jalur perdagangan yang sudah terbentuk lama dan Aceh termasuk bagian dari jalur tersebut. Di sini mungkin sudah ada pertemuan dan pengenalan tentang orang Islam di tahap awal.

Sayangnya fakta mengenai masuknya Islam melalui jalur perdagangan ini masih dipahami dengan sudut pandang yang salah. Banyak yang masih berkesimpulan bahwa karena pedagang yang pertama kali datang, maka Islamnya pasti model dagang. Islam disebarkan hanya ketika para pedagang tersebut mengalami sepi pembeli.

Dalam pandangan Prof Naquib al Attas, bukti bahwa Islam bisa hidup ratusan tahun hingga kini tanpa alat militer membuktikan bahwa Islam dibawa ke kepulauan melayu bukan dengan tidak disengaja namun dengan rencana yang matang. Perjalanan dakwah Islam ke kepulauan melayu ini dipelopori oleh orang – orang pilihan yang hebat dalam berbagai bidang keilmuan.

Mereka disebut oleh Prof Naquib adalah “Par Excellence”, para da’i yang terbaik lagi pemberani. Mereka adalah golongan para sharif keturunan dari al Husain melalui Ahmad bin ‘Isa al Muhajir, yang melakukan perjalanan ke negeri-negeri yang jauh melintasi ribuan mil mengundang manusia di seluruh pelosok negeri kepada Islam.

Sampai akhirnya karena jerih payah awal mereka sekarang ratusan juta penduduk dunia telah memeluk Islam. Banyaknya makam para Syarif yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini dan hingga kini masih dikunjungi jutaan peziarah adalah bukti hasil kerja keras mereka.

Para da’i ini berkelana ke pelosok negeri untuk mengajarkan Islam dengan hati yang penuh Ikhlas. Karena mereka tidak mau mengambil upah dalam kegiatan da’wah mereka, akhirnya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, beliau – beliau mencari nafkah dengan berdagang.

Pantang bagi para syarif untuk menerima sedekah, apalagi meminta upah atas hasil da’wah. Hingga abad ke 20 pun sosok seperti Habib Alwi Kwitang, masih bekerja menjadi pedagang di tanah Abang, membuka tokonya hanya sebentar kemudian menghabiskan sisa harinya untuk mengajar. Jadi tidak ada dikotomi bahwa seorang pedagang pasti bukan da’I dan jika ia seorang pedagang pasti tidak memiliki ilmu pengetahuan agama yang luas.*

Penulis adalah Santri Takhassus Kuliah Dirasah Islamiyah Pandaan

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Imam Bukhari dan Pemakaian Hadits Dha’if

Imam Bukhari dan Pemakaian Hadits Dha’if

Jangan Cela Pewaris Nabi [2]

Jangan Cela Pewaris Nabi [2]

Perayaan Asyura Syi’ah; Memupuk Dusta Menuai Nestapa

Perayaan Asyura Syi’ah; Memupuk Dusta Menuai Nestapa

Catatan Kritis untuk Buku 40 Masalah Syi’ah (2)

Catatan Kritis untuk Buku 40 Masalah Syi’ah (2)

Menggagas Konsep Pendidikan Berbasis Tauhid

Menggagas Konsep Pendidikan Berbasis Tauhid

Baca Juga

Berita Lainnya