Jum'at, 3 Desember 2021 / 28 Rabiul Akhir 1443 H

Tsaqafah

Imperialisme Berwajah Sains

Bagikan:

Imperialisme yang dilakukan Prancis dipimpin Napoleon Bonaparte menampilkan wajah misi keilmuan yang tampak mulia bagi yang melihatnya

Oleh: Syahrullah Asyari 

Hidayatullah.com | ISU tentang Irjen Pol Napoleon Bonaparte yang diberitakan oleh media mainstream Indonesia belakangan ini mengingatkan dan menarik perhatian saya pada tokoh asal Prancis, Napoleon Bonaparte, dan mendorong saya untuk menulis artikel ini. Napoleon Bonaparte adalah seorang pemimpin militer yang pemberani, cerdik, dan ahli strategi ulung.

Salah satu invasi militer lintas negara yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte adalah invasi ke Mesir, saat usianya belum cukup 30 tahun. Napoleon Bonaparte menduduki Mesir selama sekitar tiga tahun saja (1798-1801). Namun demikian, invasinya menjadi catatan tersendiri dalam lembaran sejarah bangsa Mesir dan kaum muslimin.

Syeikh Sa’ad Kariym al-Fiqiy hafizhahullah menulis buku berjudul, “Khiyaanaatun Hazzat at-Taariykha al-Islamiy”. (Para Pengkhianat Mengguncang Sejarah Islam) yang diterbitkan oleh ad-Daarul ‘Aalamiyyah, Cetakan ke-3, 2010. Pada halaman 248 buku ini, Syeikh al-Fiqiy membahas Bab “al-Khiyaanaatu fil ‘Ashril Hadiyts: Al-Hamlatu Al-Faransiyyatu ‘alaa Mishr”. (Pengkhianatan di Era Modern: Ekspedisi Prancis ke Mesir).

Syeikh al-Fiqiy menceritakan bahwa kondisi masyarakat Mesir saat diduduki oleh Prancis begitu lemah di berbagai aspek. Dari aspek agama, umumnya masyarakat Mesir jauh dari Allah subhanahu wata’ala dengan meninggalkan inti ajaran Islam dan akidah yang benar.

Mereka tenggelam dalam lautan bid’ah, takhayul, dan khurafat. Dari aspek sosial, mereka berada dalam kemiskinan dan kebodohan, sehingga mereka tidak mampu membuat atau memiliki persenjataan modern untuk sekadar mempertahankan diri mereka dan menjaga eksistensi, serta kedudukan mereka di mata dunia. Dari aspek politik, mereka pun bingung akan kepemimpinan di Mesir, siapa sebenarnya pemimpin mereka apakah penguasa Turki Utsmani ataukah Mamluk.

Syeikh al-Fiqiy menyatakan bahwa kondisi lemah bangsa Mesir tersebut dimanfaatkan oleh Napoleon Bonaparte untuk menginvasi Mesir pada akhir abad ke-18 M. David M. Burton, Professor Emeritus Matematika di the University of New Hampshire, Amerika Serikat, dalam bukunya berjudul, “The History of Mathematics: An Introduction.” (Sejarah Matematika: Sebuah Pengantar) yang diterbitkan oleh McGraw-Hill, Edisi ke-7, 2011 menulis di halaman 33 bahwa kebanyakan sejarawan mencatat awal mula penemuan kembali peradaban bangsa Mesir di masa lalu adalah saat Napoleon Bonaparte melakukan invasi militer. Burton juga menuliskan bahwa pada April 1798, Napoleon Bonaparte mempersiapkan misi penaklukan Mesir dengan armada perangnya sebanyak 328 kapal yang mengangkut 38.000 pasukan untuk berlayar dari Toulon, Prancis menuju (Alexandria), Mesir.

Salah satu hal paling berkesan dari invasi Napoleon Bonaparte adalah saat dia bersama pasukannya menodai kesucian Masjid al-Azhar. Syeikh al-Fiqiy menceritakan bahwa Napoleon Bonaparte bersama pasukannya memacu kudanya di dalam masjid itu dan menjadikan mimbar masjid sebagai kandang kudanya.

Mereka menambatkan kuda-kuda mereka di dalam masjid ke arah kiblat. Mereka menginjak-injak dan merobek-robek al-Qur’an, kitab-kitab tafsir dan ilmu pengetahuan lainnya. Mereka memecahkan lampu-lampu masjid dan merusak lemari-lemari para penuntut ilmu, kemudian mengambil fasilitas masjid yang mereka bisa gunakan.

Mereka buang air, membuang kotoran, dan minum-minuman keras di dalam masjid. Botol-botol bekas minuman keras itu dipecahkan, kemudian pecahan botol itu dilemparkan ke atap masjid dan seluruh penjuru masjid. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga menelanjangi setiap muslim yang mereka temui di Masjid. Selain itu, Napoleon Bonaparte mengubah halaman masjid menjadi café dan toilet umum.

Strategi licik imperialisme Napoleon Bonaparte adalah pengikutsertaan ilmuwan pilihan dalam ekspedisinya. Ia melibatkan ilmuwan dalam jumlah yang cukup besar, yaitu sebanyak 167 ilmuwan, kata Burton.

Dua di antaranya adalah matematikawan Prancis terkenal, yaitu Gaspard Monge dan Jean-Baptiste Fourier. Tugas mereka adalah melakukan penelitian komprehensif tentang segala aspek kehidupan bangsa Mesir di abad klasik dan modern.

Pada halaman 34 bukunya, Burton juga menyebutkan, “The grand plan had been to enrich the world’s store of knowledge while softening the impact of France’s military adventures by calling attention to the superiority of her culture.” (Rencana besar dari pelibatan ilmuwan ini adalah memperkaya khazanah pengetahuan dunia sambil meringankan dampak petualangan militer Prancis dengan menarik perhatian dunia pada keunggulan budaya Mesir). Alhasil kata Burton, dari penelitian ilmuwan itu, lahirlah karya monumental berjudul Déscription de l’Egypte yang ditulis dalam teks folio sebanyak 9 Volume dan ditulis dengan menyertakan gambar sebanyak 12 Volume.

Karya monumental ini secara berurutan membahas tentang peradaban bangsa Mesir kuno, monumen peninggalan bangsa Mesir, Mesir modern, dan sejarah alam Mesir.

Meskipun invasi itu diselimuti oleh misi keilmuan yang tampak mulia bagi yang melihatnya, tapi bagi bangsa Mesir, itu tidak terpisah dari imperialisme. Syaikh al-Fiqiy menyatakan di halaman 248 bukunya bahwa Napoleon Bonaparte dan pasukannya akan terus bermimpi menguasai Mesir, seolah-olah Mesir adalah warisan nenek moyang mereka yang harus dirampas dari tangan bangsa Mesir.

Syaikh al-Fiqiy menyebut Napoleon Bonaparte dan pasukannya telah berubah profesi dari tentara menjadi pencuri dan perampok. Penodaan terhadap kesucian Masjid al-Azhar dan pendudukan wilayah Mesir adalah satu dari sekian hal berkesan bagi bangsa Mesir yang tidak bisa tertutupi oleh karya monumental para ilmuwan itu.

Pelibatan ilmuwan oleh Napolen Bonaparte juga sekaligus mematahkan asumsi ilmu bebas nilai (value-free) bahwa ilmu untuk ilmu semata. Ternyata ilmu itu sarat nilai (value-laden), karena ilmu dan ilmuwan justru disalahgunakan juga untuk tujuan imperialisme dengan mengelabui dan mengalihkan perhatian manusia dari penindasan, perampasan, dan pencaplokan yang mereka lakukan.

Invasi Prancis ke Mesir adalah sejarah. Sejarah itu penting bahkan begitu pentingnya sampai sepertiga dari al-Qur’an isinya adalah sejarah. Sejarah mungkin saja berulang dengan tokoh dan konteks berbeda dan sejarah Napoleon Bonaparte di Mesir mengajarkan bangsa Indonesia saat ini agar memperkuat jati diri bangsa Indonesia di berbagai aspek kehidupan.

Dari aspek agama, bangsa Indonesia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya agar senantiasa memegang teguh inti ajaran Islam dan akidah yang benar. Dari aspek sosial, bangsa Indonesia perlu terus mengentaskan kemiskinan, korupsi, dan kebodohan.

Dari aspek politik, pemimpin bangsa Indonesia perlu senantiasa hadir membawa solusi di tengah kondisi sulit yang dialami oleh bangsa. Semua aspek ini adalah penguat bagi bangsa Indonesia agar imperialisme yang tampil dalam berbagai wajah itu tidak terjadi di Indonesia. Wallahu al-Musta’an.*

Dosen Sejarah dan Filsafat Matematika FMIPA UNM, Alumni Ma’had al-Birr Makassar

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad

Bagikan:

Berita Terkait

Rasyid Ridha, Wahabi, dan Reproduksi Anti-Wahabisme Baru [3]

Rasyid Ridha, Wahabi, dan Reproduksi Anti-Wahabisme Baru [3]

Mahatma Ghandi Bukanlah Seorang Pluralis!

Mahatma Ghandi Bukanlah Seorang Pluralis!

Mengapa Harus Pecah Karena Isbal?

Mengapa Harus Pecah Karena Isbal?

‘Agama’ Hawa Nafsu

‘Agama’ Hawa Nafsu

Kisah Agama Ahmadiyah

Kisah Agama Ahmadiyah

Baca Juga

Berita Lainnya