Senin, 27 September 2021 / 20 Safar 1443 H

Tsaqafah

Bahasa Arab Berperan Besar Menyumbang Bangsa dan Bahasa Indonesia

British Library
Surat dalam bahasa Melayu dalam naskah Jawi dari Raja Bendahara Paduka Seri Maharaja Permaisuara dari Brunei pada kapten Inggris di Jambi untuk meminta bantuan pengadaan garam
Bagikan:

Oleh: Kholili Hasib

Hidayatullah.com | Bagi bangsa Indonesia, bahasa Arab merupakan bahasa yang istimewa. Bukan sekedar ia bahasa Al-Qur’an, kitab suci agama Islam, agama yang dianut mayoritas bangsa Indonesia. Akan tetapi, ribuan istilah bahasa Indonesia merupakan hasil “pinjaman” dari bahasa Arab.

Prof. Dr. Tatiana Danissova, pakar sejarah Melayu asal Rusia yang kini mengajar di RZS-CASIS UTM (Raja Zarith Sofiah – Centre for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilisation Universiti Teknologi Malaysia) pernah menjelaskan dalam satu diskusi bahwa kata Melayu yang berasal dari bahasa Arab berjumlah sekitar 40 %. Bahasa Indonesia merupakan salah satu tipe rumpun bahasa Melayu.

Sebagai contoh kata istilah bahasa Indonesia yang popular adalah abad, abadi, abah, abdi, adat, adil, amal, aljabar, almanak, asli, awal, akhir, azan, bakhil, baligh, batil, barakah, daftar, hikayat, hikmah, halal, haram, hakim, haji, ilmu, insan, jawab, khas, khianat, khidmat, khitan, kiamat, (al)kitab, kuliah, kursi, kertas, lafaz, munafik, mualaf, musyawarah, markas, mistar, malaikat, mahkamah, musibah, mungkar, maut, mimbar, nisbah, napas, berkah, barakat, atau berkat dari kata barakah, buya dari kata abuya, derajat dari kata darajah, jenis dari kata jins, kabar dari kata khabar, katulistiwa dari kata khat al-istiwa, lafal dari kata lafazh, lalim dari kata zhalim, makalah dari kata maqalatun, masalah dari kata mas-alatun, menara dari kata minarah, mungkin dari kata mumkinun, resmi dari kata rasmiyyun, soal dari kata suaalun, rezeki dari kata rizq, sekarat dari kata sakaraat, serikat dari kata syirkah, dan seterusnya.

Dalam ensiklopedia Wikipedia ditulis, kosa kata bahasa Indonesia atau bahasa Melayu yang menyerap dari bahasa Arab  diperkirakan sekitar 2.000 – 3.000 kosa kata. Sebagian kata-kata Arab ini masih utuh dalam arti yang sesuai antara lafal dan maknanya, dan ada sebagian lagi berubah.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1993 menerbitkan buku berjudul “Penelitian Kosakata Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia”. Buku ini merupakan hasil proyek penelitian yang diadakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI yang beranggotakan; Erwina Burhanuddin, Abdul Ghaffar Ruskhan dan R.B. Chrismanto.

Penelitian ini cukup serius yang mengkaji empat aspek interaksi bahasa Arab dengan bahasa Indonesia. Yaitu; Kosatakata yang diserap secara penuh dari bahasa Arab, Kosakata yang menyesuaikan fonem, Penyesuaian Lafadz, dan aspek penyimpangan pola penyerapan.

Penelitian tersebut menemukan bahwa, penyerapan kosakata bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia mengalami beberapa proses, yaitu proses penyesuaian fonem dan penyesuaian lafadz. Ada beberapa fonem yang sama dari kedua bahasa ini.  Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyerapan bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia mengalami penyesuaian-penyesuaian.

Melalui pengenalan istilah-istilah dalam bentuk kosakata baru dari bahasa Arab, maka terjadi internalisasi pandangan hidup Islam ke dalam pikiran bangsa Indoenesia. Masuknya suatu istilah dasar berarti masuknya suatu pemikiran dan keyakinan. Karena setiap peristilahan dasar mengandungkan satu pemikiran, ide, gagasan dan keyakinan tertentu.

Penyebar agama Islam ke Melayu-Nusantara ini merupakan orang-orang yang hebat dari segi intelektual dan spiritual. Maka, terjadilah internalisasi kebudayaan intelektual ke dalam bangsa Indonesia. Medianya melalui bahasa tersebut.

Tranfser budaya rasional, intelektual dan kekuatan spiritual bangsa Indonesia perlu diakui berasal dari penutur bahasa Arab asli, yang dating dari jazirah Arab, untuk menyebarkan agama Islam.

Dalam hal ini Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas mengatakan:

     “they were professional missionaries par excellence; men learned in the Sacred Law and gifted with spiritual and intellectual discernment, eminently competent to carry out the task of establishing the early Islamic kingdoms. They came not in a manner disorganized, nor haphazard, but in a manner planned to ensure the continuity of their mission.” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Historical and Fiction).

Bahas Arab memang sangat efektif sebagai media penyalur ide, gagasan dan pandangan hidup. Sebab bahasa Arab ini, dari segi gramatika, bentuk kalimatnya mengikuti sistem akar kata. Sistem ini mampu menangkis segala perubahan makna.

Tiada satu pun kata dasar yang mendandung faham dasar dalam al-Qur’an yang berdiri sendiri tanpa penisbatan makna dengan kata lain yang serumpun. Tetapi semuanya saling bernisbat mengikuti kedudukan dalam susunan makna peristilahan dasar sehingga merujuk kepada kata dasar agung dan tunggal yang mengawal segala penumpuan faham kepadanya.

Hingga ini, bahasa Arab yang digunakan Nabi ﷺ dan generasi setelahnya, sama dengan bahasa Arab saat ini. Tidak ada perubahan kosakata dan gramatika. Justru gramatika bahasa Arab merujuk kepada al-Qur’an.

Maka di sinilah kekuatannya. Tidak seperti bahasa kitab suci agama lainnya, bahasa Arab saat ini sama dengan bahasa Arab ketika al-Qur’an diturunkan.

Bahasa kitab suci agama lainnya yang asli sudah lama ditinggalkan, hampir punah, dan struktur nya telah berubah. Sementara hal ini tidak berlaku dalam bahasa Arab al-Qur’an.

Prof. Al-Attas menyebut, bahasa Arab ini memiliki sifat ilmiah yang kuat luar biasa. Maka, dahulu pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, bahasa Arab menjadi bahasa intelektual dunia.

Bahasa ilmu pengetahuan. Anak-anak muda Eropa datang ke Bahgdad dan ke Andalusia untuk belajar ilmu pengetahuan. Mereka merasa bangga bila mampu berbahasa Arab.

Oleh sebab itu, bangsa Indonesia memiliki hutang yang cukup besar terhadap bahasa Arab dan penutur bahasa Arab pada abad-abad ke-12 M hingga 17 M. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengakui sejarahnya. Dari mana asal usulnya, dan hendak kemana.”

Penulis peneliti InPAS, dosen INI-Dalwa

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Fiqhul Khilaf dan Adil dalam Menyikapi Perbedaan

Fiqhul Khilaf dan Adil dalam Menyikapi Perbedaan

Kristen dan Syirik: Respon untuk Mun’im Sirry

Kristen dan Syirik: Respon untuk Mun’im Sirry

Menyikapi Perbedaan dalam Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan

Menyikapi Perbedaan dalam Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan

Menimbang Konsep Ekonomi Darul Ahdi Wa Syahadah

Menimbang Konsep Ekonomi Darul Ahdi Wa Syahadah

Indonesia antara Korupsi Negara dan Korupsi Aqidah

Indonesia antara Korupsi Negara dan Korupsi Aqidah

Baca Juga

Berita Lainnya