Sabtu, 4 Desember 2021 / 29 Rabiul Akhir 1443 H

Tsaqafah

Melacak Akar Pemikiran Islam Liberal (1)

pemikiran islam liberal muh. abdus syakur/hidayatullah.com
Aksi umat Islam tolak homoseksual di Jakarta.
Bagikan:

Rasionalisme –mendewakan akal fikiran dalam menilai segala sesuatu– menjadi asas peradaban Barat, yang juga dianut  Islam Liberal 

Oleh: Khalif Muammar A. Harris

Hidayatullah.com | DI akhir abad keduapuluh, umat Islam dikejutkan oleh fenomena baru dalam pemikiran Islam. Golongan yang memperkenalkan diri dengan nama Islam Liberal telah menggemparkan dunia Islam dengan isu-isu pemikiran yang kontroversial.

Gerakan ini sempat populer di Indonesia, namun banyak yang tidak sadar  bahwa ia  sebenarnya mempunyai jaringan yang luas bukan saja di dunia Islam namun juga hampir di seluruh dunia: Mesir, India, Pakistan, Bangladesh, Amerika, Perancis, Malaysia, Turki, Jordan, Sudan, Syria, Moroko, Tunisia, Lebanon, Algeria, Nigeria dll.

Pada dasarnya, Islam Liberal merupakan ‘produk’ baru yang ingin memunculkan  kembali modernisme di abad ke-21. Modernisme Islam telah lama muncul di kalangan intelektual Muslim dan menjadi satu tren pemikiran yang berpengaruh di dunia Islam sejak abad ke-19M.

Tulisan ini bertujuan melacak dan mencari penjelasan tentang akar ideologi gerakan Islam Liberal sekaligus menyoroti perkembangan terbaru yang berlaku pada tren pemikiran ini yang cukup banyak diperdebatkan dalam bahasan ilmiah dewasa ini. Hipotesis kajian ini adalah bahwa terjadi kesinambungan dan pengaruh yang kuat antara sekularisme, orientalisme, modenisme Islam dengan Islam Liberal.

Kemunculan modernisme Islam sebagai akibat dari pertemuan yang tidak seimbang dari dua dunia: Islam dan Barat. Penjajahan yang berlangsung lebih dari 400 tahun terhadap umat Islam sedikit banyak menyebabkan sikap rendah diri atau inferiority-complex ketika berhadapan dengan peradaban yang canggih dan hebat.

Perlu digarisbawahi di sini bahwa modernisme Islam bukanlah aliran pemikiran yang tunggal dan jelas, tetapi ia terdiri dari beberapa aliran pemikiran sesuai dengan istilah modernisme itu sendiri yang kabur.

Gerakan modernisme telah mengalami banyak perubahan setelah kemunculan Fazlur Rahman (1919-1988) yang telah membangun framework pemikiran neomodernisme pada awal 80an. Sayangnya usaha dia telah ‘dimanfaatkan’ oleh orang-orang yang berkepentingan, untuk menjustifikasi lahirnya pemikiran yang lebih radikal, liberal dan berani. Golongan ini kemudian diberi nama Islam Liberal.

Modernisme Islam mengambil semangat pembaharuan dan reformasi. Yaitu dengan melihat model pembaharuan (modernisasi) yang telah berhasil merubah masyarakat Barat. Modernisme di Barat telah menghasilkan apa yang dinamakan enlightenment, revolusi industri dan akhirnya menjadikan Barat sebagai negara yang maju dan pemimpin dunia.

Menyadari kemunduran dan keterbelakangan kaum muslimin, dan setelah mengkaji faktor kemajuan Barat maka golongan modernis mengambil kesimpulan bahwa umat Islam perlu bersikap terbuka terhadap peradaban Barat untuk menguasai sains Barat dan seterusnya mengikuti   jejak kemajuannya.

Sikap keterbukaan ini didasari oleh pendirian bahwa ilmu itu bersifat bebas nilai atau netral yang tidak diwarnai oleh ideologi pembawanya dan terserah sepenuhnya kepada pengguna sains tersebut untuk menggunakan sesuai kehendaknya. Karena sains telah terbukti berhasil memberi kemajuan kepada masyarakat Barat, maka tentunya jika digunakan oleh umat Islam ia  juga akan dapat menjanjikan kemajuan.

Modernisme Islam dan Modernisme Barat

Karena modernisme Islam sangat terkait dengan modernisme Barat, maka sebelum membicarakan modernisme Islam, sangat penting sekali memahami konsep modernisme dan modernisasi dan kemunculannya di Barat. Perlu digaris bawahi di sini bahwa kemunculan modernisme Islam merupakan akibat dari konsekuensi interaksi dunia Islam dengan peradaban  Barat.

Satu fakta yang perlu diingat bahwa umat Islam sejak abad ke 16/17M telah dijajah dan diinfiltrasi oleh pemikiran dan budaya asing dari pemikiran, budaya dan agama mereka. Reaksi umat Islam ketika itu yaitu menolak dan menerima.

Golongan tradisionalis lebih cenderung menentang dan mengasingkan diri dari segala bentuk pembaratan (westernization). Adapun golongan modernis yang waktu itu mempunyai latar belakang pendidikan Barat, melihat banyak  kebaikan dalam peradaban Barat, sehingga menganggap rugi besar bahkan kolot jika umat Islam tidak mengambilnya.

Modernisme di Barat digerakkan oleh falsafah enlightenment-humanism yang berhasil mempengaruhi pemikiran sebagian masyarakat Barat dan mayoritas intelektual mereka. Kemunculan ahli-ahli falsafah seperti Immanuel Kant, David Hume, Nietzsche dan lain-lain telah memberikan penekanan terhadap rasionalisme dan kebebasan (liberalisme) atau pembebasan manusia dari tradisi dan dogma.

Gerakan keintelektualan ini semakin kuat dengan munculnya falsafah eksistensialisme oleh Sartre dan logical-positivism oleh kelompok yang dikenali dengan Vienna Circle.

Pada hari ini gerakan humanisme dipelopori oleh Council for Secular Humanism. Menurut mereka secular humanism artinya “cara berfikir dan cara hidup yang bertujuan untuk memberikan yang terbaik bagi manusia dengan menolak segala kepercayaan agama dan kuasa di luar pengikutnya. Humanisme sekular menekankan rasio manusia dan pengkajian saintifik, kebebasan individu dan pertanggung-jawaban, nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang dan keperluan terhadap toleransi dan kerjasama”.

Penjelasan tentang humanisme sekuler di atas memperlihatkan wujudnya dikotomi antara agama dan sains, antara moralitas dan kebebasan individu, antara Tuhan dan nilai-nilai kemanusiaan. Terlepas dari elemen-elemen yang tampak baik yang terdapat dalam pemikiran ini, penumpuan kepada kerasionalan, penolakan terhadap agama, dan kebebasan individu dalam menentukan segala sesuatu, jelas memberi kesan negatif khususnya bagi Muslim. Oleh kerana itu, penilaian perlu dilakukan secara menyeluruh dan sebaiknya penjelasan tentang modernisme dilakukan dari dua sudut pandang berbeda: Barat dan Islam.

Seorang penulis Muslim dari Prancis dan menetap di Mesir, Renë Guenon, menjelaskan bahwa modernisme pada intinya merupakan penolakan terhadap segala apa yang berbentuk divine (keilahian), transcendent dan supernatural. Ia adalah penolakan yang dilakukan oleh enlightment-humanist terhadap tradisi dan otoritas, demi kepentingan akal dan sains pengikutnya. Ia dibangun atas dasar perkiraan bahwa kuasa individu yang menjadi satu-satunya sumber bagi makna dan kebenaran.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengaruh humanisme Barat sangat kuat dalam kerangka pemikiran modernisme Islam. Dalam menjelaskan hakikat liberalisme Islam, Leonard Binder menegaskan bahwa bahasan rasional menjadi tonggak utama golongan Islam Liberal ini.

Rasionalisme, dalam arti mendewakan akal fikiran dan menjadikannya kayu ukur dalam menilai segala sesuatu, yang menjadi asas peradaban Barat juga dianut oleh golongan modernis dan liberal Muslim. Dalam mendefinisikan modernisme Islam Charles Kurzman, seorang ideolog Islam Liberal, dalam bukunya Modernist Islam mengatakan bahwa seorang modernis bukan saja menerima nilai-nilai modern dari Barat sebagai sesuatu yang benar melainkan juga usaha untuk memperjuangkan modernisme Barat (proponent of modernity) yang termasuk di dalamnya rasionaliti, sains, kedaulatan perlembagaan (constitutionalism), dan persamaan manusia.

Bahkan peranan seorang modernis menurutnya  bukan saja dalam mencari persamaan di antara nilai-nilai modren dengan ajaran Islam. Lebih dari itu, seorang modernis harus berusaha membuat teori yang kokoh yang dapat membuktikan adanya persamaan dan kesesuaian tersebut. Dari sini tampak jelas bahwa gerakan ini mempunyai prakonsepsi dalam memahami Islam.

Penyatuan di antara nilai modern dan ajaran Islam pada kenyataanya dilakukan dengan tidak adil yaitu dengan memilih sebagian tradisi dan teks-teks agama yang bisa menyokong nilai-nilai Barat. Sedangkan kajian terhadap tradisi Barat sendiri dilakukan dengan penuh apresiasi dan tidak kritis.

Berkenaan dengan tema-tema Islam Liberal, sebagaimana tulisan mereka, dapat dilihat bahwa sebenarnya tidak jauh berbeda dengan modernist Islam. Di antaranya adalah demokrasi, pembelaan hak-hak perempuan, kebebasan bersuara, dan masa depan kemajuan manusia.

Tema-tema yang diangkat memberikan impresi (kesan)  bahwa siapapun yang rasional tidak mungkin menolak perjuangan mereka. Dibalik itu ada keinginan memonopoli perjuangan kemanusiaan, padahal agama Islam sejak awal sudah memperjuangkan kepentingan manusia.

Tema-tema di atas tampak menarik dan segar, tetapi ini berbeda dengan tema-tema yang selalu menjadi perdebatan hangat di kalangan umat Islam. Isu-isu seperti penolakan syari’at, pluralisme agama, kebebasan berijtihad, penolakan otoritas agama dan hermeneutik sebenarnya yang menjadi bahasan utama gerakan ini. (bersambung)

Associate Professor of Islamic Thought, Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Artikel pernah dimuat di Majalah Hidayatullah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Islam dan Budaya Literasi

Islam dan Budaya Literasi

Hati-Hati Bersembunyi di Balik Toleransi

Hati-Hati Bersembunyi di Balik Toleransi

Larangan Zina dan Homoseksual bukan Pelanggaran ‘HAM’

Larangan Zina dan Homoseksual bukan Pelanggaran ‘HAM’

Islam Agama Impor?

Islam Agama Impor?

Pancasila Masih Pro-Kontra, Bagaimana Sikap Kita?

Pancasila Masih Pro-Kontra, Bagaimana Sikap Kita?

Baca Juga

Berita Lainnya