Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Tsaqafah

Fitnah Akidah, Sebuah Fenomena Tahunan

Ilustrasi: Mahasiswa IAIN Walisanga Semarang ikut acara Misa
Toleransi dan kerukunan tak harus mencampur-adukkan dengan akidah
Bagikan:

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

 

Hidayatullah.com | DESEMBER telah menuju akhiran. Di bulan ini selalu terjadi fenomena tahunan yang berulang. Yakni masalah hari besar agama lain dan perayaannya yang selalu menjadi “fitnah akidah” bagi umat Islam di Indonesia.

Dibutuhkan penyikapan yang tepat dalam hal itu sebab umat selalu dipojokkan dengan narasi anti kebhinekaan dan intoleran saat mencoba tetap gigih dalam memegang akidahnya.  Mereka yang enggan mengucapkan selamat hari raya dan tidak mau terlibat dalam perayaan umat agama lain kian mendapat cibiran dan labelisasi buruk dari para pegiat SePiLis (sekularisme, pluralism dan liberalisme) agama.

Para pengusung SePiLis agama kian gencar mendakwahkan “akidahnya” kepada umat baik lewat media cetak, siaran televisi dan media sosial di bulan Desember ini. Sebagai penguat kampanye SePiLis mereka, dimunculkanlah para tokoh-tokoh publik dari kalangan agamawan, cendikiawan, dan ilmuwan yang pendapatnya sejalan dengan mereka. Supaya umat menjadi tertarik dan ikut cara berfikir mereka setelah melihat berbagai dalil yang meluncur dari mulut para tokoh yang dikutip.

Fenomena yang diulang tiap tahun itu perlu dilihat dengan serius. Sebab akidah adalah harta termahal bagi seorang Muslim. Jika akidah seseorang selamat dari fitnah maka selamat pula amalan-amalannya. Sebaliknya jika akidahnya rusak atau minimal kotor maka amalan-amalan ibadahnya berpotensi besar akan sia-sia belaka.

Yang menjadi sebuah Ironi, pada zaman ini yang menyebarkan fitnah-fitnah akidah bukan lagi “mubaligh” agama lain melainkan para oknum umat islam sendiri. Hal ini diakibatkan makin banyaknya umat Islam yang terjangkit virus pluralisme agama.

Satu dari sekian banyak kasus nyata pluralisme agama adalah yang terjadi di Surabaya baru-baru ini. Seperti yang viral di beberapa media daring,  Warga Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya, Jawa Timur (Jatim), turut terlibat mempersiapkan kebutuhan perayaan Natal di Gereja Katolik Kristus Raja, Surabaya.

Sebagaimana Hari Raya Idul Fitri, hari Natal diharapkan juga menjadi perayaan untuk semua umat beragama, demikian pendapat mereka. Ironisnya salah satu yang terlibat dalam kegiatan itu adalah seorang ustadz  yang merupakan oknum pengurus PW ISNU Jawa Timur Bidang Pengkaderan. Dia ikut membantu merangkai pohon Natal dari masker dan hand sanitizer. Pohon Natal setinggi 3,5 meter dengan diameter sekitar 180 cm itu berdiri di sisi utara pintu masuk tempat ibadah tersebut.

Dia berpendapat bahwa Hari Natal merupakan perayaan untuk semua umat, sebagaimana Hari Raya Idul Fitri. Maka sudah sepatutnya sebagai warga negara yang berazaskan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika bisa saling menghargai dan membantu kesuksesan perayaan keagamaan tersebut.

“Ini sebagaimana saat Salat Idul Fitri, umat Nasrani juga ikut berpartisipasi menjaga keamanan parkir motor dan kelancaran arus lalu lintas,” katanya, Jumat (18/12/2020). (https://jatim.inews.id/berita/warga-nu-rangkai-pohon-natal-dari-ribuan-masker-di-gereja-katolik-kristus-raja-surabaya/2).

Sudah menjadi rahasia umum bahwa umat Islam selalu terbelah dalam memandang boleh tidaknya mengucapkan selamat hari raya pada non-Muslim atau ikut membantu perayaan hari raya mereka.  Ada yang tetap berpegang teguh bahwa hal itu haram secara mutlak.

Namun selalu juga ada yang menganggap hal itu sah-sah saja dengan alasan ada ulama yang membolehkannya atau setidaknya bersikap lunak kepada masalah tersebut. Hal ini pula yang membuat Buya Hamka sang ketua umum MUI pertama memutuskan mundur dari jabatannya akibat berselisih pendapat dengan Menteri Agama saat itu.

Sang ulama-sastrawan penyusun Tafsir Al Azhar itu tetap kekeuh memegang pendapat haramnya ikut perayaan Natal bersama seperti yang diagendakan tiap tahun oleh rezim saat itu.  Berbeda dengan Buya Hamka, oknum pengurus PW ISNU Jawa Timur itu malah berharap agar umat Kristen merayakan Natal sebagaimana Umat Islam merayakan Idul Fitri.

Dan semua itu bisa dilakukan dengan memberikan rasa nyaman pada umat Kristen demi terjaganya kebhinekaan Indonesia. Menarik melihat pernyataan oknum pengurus ISNU Jatim tersebut. Apakah memberi rasa nyaman kepada Non Muslim demi terjaganya kebhinekaan harus dengan cara mengotori akidah.

Apakah satu-satunya cara untuk bertoleransi kepada umat agama lain adalah dengan turut campur persiapan perayaan mereka. Tidak adakah cara lain yang lebih elegan untuk saling bertoleransi tanpa harus mengotori akidah.

Di dalam kitab Adabul Alim Wal Muta’alim Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari mengutip pendapat sebagian Ulama yang menyatakan, “Tauhid itu mewajibkan adanya iman; Maka siapa yang tiada iman pada dirinya maka tiada tauhid baginya. Dan iman mewajibkan adanya syariat; Maka barangsiapa yang tiada syariat pada dirinya maka tiada iman baginya dan tiada pula ada tauhid baginya. Syariat mewajibkan adanya adab, maka barangsiapa yang tiada adab pada dirinya, maka tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid baginya.” (Adabul Alim Wal Muta’alim, Hal. 11).

Pendiri Nahdlatul Ulama itu jelas menyatakan dalam kitabnya bahwa pada hakikatnya orang yang tidak punya adab maka di dalam dirinya sudah tidak ada lagi syariat, nihil iman, dan tauhidnya sudah hilang.  Demikian besar adab dalam pandangan para Salaf Soleh kita. Sehingga wajar jika perkara adab menjadi perhatian utama mereka.

Di dalam kitab Mbah Hasyim itu juga disebutkan perkataan Ruwaim Radiyallahu Anhu yang berkata kepada anaknya, “Wahai Anakku, jadikanlah ilmumu layaknya garam dan jadikanlah adabmu layaknya tepung.” Sebab ilmu yang sedikit namun dibarengi dengan adab yang banyak akan lebih bisa menyelamatkan daripada ilmu yang banyak namun disertai adab yang sedikit.

Layaknya adonan roti, jika garamnya sedikit namun tepungnya banyak maka adonan itu bisa menjadi roti. Namun jika adonan itu tepungnya sedikit sedangkan garamnya seabrek maka mustahil roti yang layak dikonsumsi akan tersaji.

Ibnul Mubarak Radiyallahu Anhu mengatakan, “Kami kepada adab yang sedikit itu lebih dibutuhkan bagi kami daripada banyaknya ilmu.” (Ibid. Hal 10).

Prof. Syed Naquib Al Attas mendiagnosis bahwa penyakit umat Islam hari ini adalah hilangnya adab (Loss Of Adab). Sehingga mereka mengalami kemunduran secara teratur pada semua lini kehidupan.

Mereka sudah tidak bisa menempatkan tiap-tiap sesuatu sesuai posisi layaknya. Banyak dari mereka yang tidak tahu atau minimal salah menempatkan dimana posisi yang layak bagi Allah dan RasulNya, dimana posisi yang layak bagi Ahlul Bait dan para ulama, serta dimana posisi ahli ilmu dan ahli bid’ah.

Ini terbukti dengan makin banyaknya cendikiawan, agamawan, dan intelektual yang konon ilmunya tinggi namun pendapat dan pemikirannya nyleneh, menyesatkan dan bernilai sampah yang malah meracuni akidah umat.

Ini akibat mereka tidak beradab kepada Allah, Rasulullah ﷺ, Al Qur’an dan para ulama. Sehingga apa titah Allah di dalam Al Qur’an yang dilewatkan melalui Rasulullah ﷺ dan para pewarisnya (ulama) tidak mereka gubris demi mengedepankan rasio belaka.

Bijak Tempatkan Makna Persaudaraan

Ada trilogi ukhuwah yang  masyhur di kalangan para Nahdliyyin yang pernah dicetuskan oleh Kyai Ahmad Shiddiq Jember. Yakni ukhuwah Islamiyah; ukhuwah insaniyah (Basyariah) dan ukhuwah watoniyah. (Persaudaraan sesama Islam; Persaudaraan sesama manusia; dan persaudaraan sesama anak bangsa).

Trilogi Ukhuwah itu bagus dalam tataran teori namun sayangnya dalam prakteknya tidak jarang dijalankan di luar garisnya.  Buktinya hari ini sering kita dapati kegiatan doa lintas agama, bukber di rumah ibadah non Muslim, bersholawatan di dalam rumah ibadah non muslim dan apapun itu yang selalu dibungkus dengan kemasan toleransi.

Dan semua perbuatan munkar itu selalu dikemas dalam rangka memperkuat ukhuwah insaniyah dan watoniyah. Apakah hal seperti ini dibenarkan di dalam Islam.

Prof. Sayyid Muhammad Al Maliki di dalam kitab Al Mukhtar Min Kalamil Akhyar pada bab adab persaudaraan di jalan Allah menyatakan bahwa, “Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (QS. Al Hujurat : 10).

Ketahuilah sesungguhnya persaudaraan (dalam ikatan) Islam itu lebih kuat daripada persaudaraan (dalam ikatan) nasab (garis keturunan), sehingga tidak dianggap persaudaraan dalam nasab jika telah berlaku persaudaraan Islam.  Tidakkah kau lihat ketika meninggal seorang muslim, dan dia punya saudara yang kafir maka hartanya untuk kaum Muslimin bukan untuk saudaranya yang kafir tersebut.

Begitu juga jika yang  meninggal adalah saudaranya yang kafir. Yang demikian itu karena sesungguhnya pengumpul kerusakan tidak bermanfaat persaudaraannya. Dan sesungguhnya pengumpul yang dianggap adalah pengumpul Syariat.” (Al Mukhtar Min Kalamil Akhyar, hal. 20).

Jika persaudaraan dalam  Islam lebih kuat dibanding persaudaraan dalam garis keturunan maka otomatis persaudaraan dalam Islam lebih kuat pula daripada persaudaraan sesama anak bangsa dan manusia. Maka janganlah demi alasan menjaga kebhinekaan dan kerukunan antar umat beragama, seorang Muslim rela merusak tali persaudaraan islamiyahnya.

Idealnya jika bisa akur dengan yang berbeda akidah seyogyanya bisa rukun pula dengan yang sesama akidah meskipun lain wadah dan metode dakwahnya. Wal hasil mengenai mulai maraknya fenomena oknum Nahdliyin yang suka nimbrung ke tempat ibadah agama lain atau membantu pada acara perayaan-perayaan mereka, atau mengadakan acara umat Islam di dalam tempat ibadah non Muslim, maka ada baiknya kita simak ucapan dua tokoh panutan warga Nahdliyyin beda zaman berikut ini.

Al Anfas Al Habr Al Quthb Al Habib Abdul Qodir Bin Ahmad Bil Faqih Ba’lawy (Pendiri Ponpes Darul Hadis Al Faqihiyah Malang) berkata di dalam kitabnya,

النَّظَرُ إِلیَ وَجۡهَ الۡكَافِرِ يُقَسِّيۡ أَلۡقَلۡبَ أَرۡبَعِيۡنَ يَوۡمًا

“Bahwa melihat wajah orang kafir dapat mengeraskan hati selama 40 hari.” (Miah Faidah juz 3 halaman 21).

Jika melihat kepada orang kafir saja konsekuensinya bisa mengeraskan hati selama 40 hari, lalu bagaimana jika sering berkumpul dengan mereka. Kemudian ada pernyataan Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani dalam kitab al-ghunyah li Thalibi Thariq al-haqq yang menyatakan;

(فصل) ويستحب اذا رأی بيعۃ أو كنيسۃ أو سمع صوت ناقوس أو رأی جمعًا من المشركين واليهود والنصاری أن يقول :

أشهد أن لا إله إلاّ ﷲ وحده لا شر يك له إلٰهًا واحدًا, لا نعبد الا إيّاه فإن ذلك مرو ی عن النّبی صلﷲ عليه و سلم , وقال : غفر ﷲ له بعدد أهل الشرك

( الغنيۃ لطالبی طريق الحق عز وجل: ص. ٩٦ الجزء الأول ; دار الكتب العلميۃ, بيروت لبنان ١٤١٧ ه/ ١٩٩٧ م )

“Bahwa disunahkan ketika melihat gereja, atau Sinagog atau mendengar suara lonceng gereja, atau melihat kumpulan orang Musyrik, Yahudi, dan Nasrani hendaklah kau berdoa,

أشهد أن لا إله إلاّ ﷲ وحده لا شر يك له إلٰهًا واحدًا, لا نعبد الا إيّاه فإن ذلك مرو ی عن النّبی صلﷲ عليه و سلم , وقال : غفر ﷲ له بعدد أهل الشرك

(Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq Juz 1 Hal. 96,  Darul Kitab  Al Ilmiyah, Beirut-Lebanon).

Menurut Syekh Abdul Qodir Al Jailani disunahkan membaca syahadat saat melihat tempat ibadah orang kafir agar akidah kita tidak terkotori. Sebab di tempat itu Allah selalu dimaksiati dan disekutukan. Ini menandakan bahwa ghirah dalam masalah akidah harus diutamakan.

Bisa dibayangkan dua orang waliyullah yang bergelar (quthb) yang sudah mencapai puncak maqom kewaliyan saja bisa berpendapat demikian. Ini menandakan ghirah mereka terhadap akidah yang sangat tinggi juga sebagai upaya untuk mendidik umat agar terhindar dari virus perusak akidah meski sekecil apapun.

Dan apa yang dilakukan oleh dua waliyullah itu cukup untuk menjadi dalil bahwasannya apa yang dilakukan oleh beberapa oknum umat islam yang selama ini suka blusukan ke tempat ibadah non-Muslim adalah tidak benar.

Kiai Hamid Pasuruan konon dulu selalu berpesan bahwa, “Barangsiapa yang “model-model” (berlaku aneh-aneh menyelisihi Salaf Saleh) maka dia akan berakhir “modol-modol” (hancur binasa).”

Jadi intinya ikuti saja ulama salaf. Mereka tidak pernah blusukan ke tempat-tempat dimana Allah disekutukan,  karena mereka tahu bahwa murka Allah besar di tempat-tempat seperti itu.

Sebab –mengutip Buya Hamka-, “Soal aqidah, diantara Tauhid mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.” (Juz Amma Tafsir Al Azhar, terbitan Gema Insani Press, tafsir surah Al Kafirun hal : 309).

Wal Hasil, dalih toleransi yang selalu dipakai para kaum liberal sebenarnya adalah racun bagi umat ini. Sebab bentuk tasamuh dalam Islam sangat banyak dan puncak tasamuh tertinggi dalam Islam adalah seperti yang dijelaskan dalam surah Al Kafirun dengan Term Lakum Diinukum Waliyadiin. Wallahu A’lam Bis Showab.*

Nahdliyyin, Murid Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Memaknai Kegemilangan Islam dalam Membangkitkan Kejayaan Islam

Memaknai Kegemilangan Islam dalam Membangkitkan Kejayaan Islam

Islam, LGBT dan Perkawinan Sejenis

Islam, LGBT dan Perkawinan Sejenis

Buya HAMKA dan Perbedaan Idul Adha

Buya HAMKA dan Perbedaan Idul Adha

Khilafah Islam: Antara Cita-cita dan Fakta

Khilafah Islam: Antara Cita-cita dan Fakta

Imam Nawawi Banten dan Surat Al-Ma’idah 51 [2]

Imam Nawawi Banten dan Surat Al-Ma’idah 51 [2]

Baca Juga

Berita Lainnya