Dompet Dakwah Media

Pertentangan Islam dengan Komunisme dan Komunisme Mode Baru [1]

“Internasionale Komunis”, adalah bertujuan untuk memperjuangkan “dengan segala cara yang tersedia, termasuk kekuatan bersenjata, penggulingan borjuasi internasional

Pertentangan Islam dengan Komunisme dan Komunisme Mode Baru [1]
Pendukung Komunis di Kerala India mengibarkan bendera komunisme dan gambar Che Guevara

Terkait

Oleh: Derajat Fitra

 

Hidayatullah.com | MEMBICARAKAN suatu istilah tanpa memahami arti dan penggunaan sesuai konteksnya yang tepat dapat membawa kita pada kekeliruan. Begitu pula dalam memahami komunisme. Pembahasan tentang komunisme seringkali bercampuraduk dengan istilah “Ateisme”, “Sosialisme”, dan “Marxisme”, sehingga tak jarang membingungkan para pembaca dalam memahaminya. Maka dari itu, ada baiknya bagi kita agar terlebih dahulu menguraikan arti dan bagaimana istilah komunisme digunakan di dalam sejarah perkembangannya.

Komunisme secara bahasa berarti paham kebersamaan. Istilah komunis berasal dari bahasa Perancis “commune”, yang searti dengan “common” dalam bahasa Inggris, akar katanya dari bahasa Latin “comun” yang artinya publik, bersama, umum, atau universal. (Loren Bagus. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Halaman 472). Adapun imbuhan –isme di belakangnya menunjukkan arti aliran, ajaran, atau paham. Dewasa ini, terminologi komunisme secara khusus dalam ilmu sosial merujuk pada kumpulan doktrin dan kritik Marxis, terhadap kapitalisme dan teori liberal, prediksi mereka tentang terciptanya revolusi proletariat yang melahirkan suatu masyarakat komunis yang bebas dari kemiskinan, tanpa kelas, tanpa pembagian kerja yang timpang, serta tanpa institusi yang menjadi alat penindasan dan dominasi kelas satu atas kelas lain. (Adam Kupper & Jessica Kuper (Eds.). 2004. The Social Science Encyclopedia, Vol. 1. New York: Routledge, 2004. Halaman 137).

Berdasarkan hal itu, maka komunisme tiada lain merupakan sosialisme Marxis yang dirumuskan oleh Karl Marx (1818-1883) dan Friedrich Engels (1820-1895). Komunis adalah istilah yang dipakai oleh Marx dan Engels dalam Manifesto Partai Komunis yang mereka tulis pada tahun 1847. Sebagaimana menurut Engels, manifes itu menggunakan kata “komunis” dan bukan “sosialis” adalah untuk membedakan antara sosialisme Marxis yang anti-kapitalisme dan revolusioner dengan sosialisme borjouis, utopis, atau reaksioner yang kontra-revolusioner yang berkembang pada saat itu.

Sosialisme Marxis ini dalam wujud nyatanya menurut Marx adalah fase ekonomi yang terjadi setelah runtuhnya kapitalisme dan merupakan fase perantara memasuki fase komunisme. Adapun komunisme, secara garis besar adalah gagasan tentang sistem ekonomi yang dirancang oleh Marx dan Engels dalam buku Das Kapital sebagai bentuk antitesa dari sistem ekonomi kapitalis yang berkembang pada masanya seiring bergulirnya revolusi industri.

Komunisme menurut Marx adalah sebuah fase akhir dari proses perubahan sistem ekonomi politik, yang mana negara sosialis telah berhasil mendayagunakan alat-alat produksi pemenuh kebutuhan rakyat, kemudian membuat alat-alat produksi itu menjadi milik setiap orang secara merata, sehingga terbentuk masyarakat yang manusianya saling memenuhi kebutuhan satu sama lain, tanpa kelas dan tanpa adanya peran pemerintah, atau negara sebagai lembaga pemegang kekuasaan. Dengan demikian komunis maupun komunisme adalah bagian dari aliran pemikiran Marx, ajaran Marx, atau Marxisme yang bercita-cita membentuk masyarakat ideal dalam sejarah manusia, yakni masyarakat komunis atau masyarakat tanpa hak kepemilikan pribadi, tanpa kelas, dan tanpa sistem kapitalisme.

Marxisme untuk pertama kalinya diwujudkan menjadi suatu ideologi resmi negara dalam kenyataan dunia material, yakni di Rusia. Vladimir Iliych Lenin telah mengembangkan serta memperkaya Marxisme, khususnya dengan ajaran-ajarannya mengenai imperialisme dan revolusi sosialis.

Dengan berpangkal pada pemahamannya mengenai revolusi sosialis, Lenin memimpin kelas buruh Rusia dengan Partai Komunis Rusia untuk pertama kalinya dalam sejarah dapat memenangkan revolusi sosialis, menegakkan negara diktator proletariat atau negara sosialis komunis seperti yang dibayangkan oleh Marx. Lenin mengubah teori-teori komunisme Marx yang dinyatakan sebagai sosialisme ilmiah oleh Marx, Engels, dan pendukungnya itu menjadi suatu kenyataan dalam sejarah.

Ajaran-ajaran Lenin atau disebut juga sebagai Leninisme, pada perkembangan berikutnya tidak hanya mempengaruhi nasional Rusia, tetapi juga menginspirasi munculnya perjuangan memenangkan revolusi sosialis hampir di seluruh dunia. Aidit pun mengakui bahwa Leninisme tiada lain adalah Marxisme pada zamannya, zaman imperialisme dan revolusi sosialis dunia.

Ajaran-ajaran Marx dan Lenin kemudian menjadi terkenal dengan sebutan Marxisme-Leninisme. Dan setelah perang dunia ke-dua, Marxisme atau Marxisme-Leninisme kabarnya telah meluas hingga menjadi suatu sistem yang meliputi sepertiga dari seluruh penduduk dunia dan sebagian besar gerakan buruh atau Partai Komunis di seluruh dunia berpegang pada garis-garis ajaran yang ditetapkan oleh Marx, Engels dan Lenin.

Berkenaan dengan tumbuhnya kelas buruh di Indonesia sebagai akibat langsung dari pertumbuhan imperialisme di Indonesia pada awal abad ke-20, maka tumbuhlah ajaran dan cita-cita sosialisme Marx atau komunisme di bumi Indonesia. Sebagaimana telah diketahui bahwa partai politik yang ketika itu berjuang mengintegrasikan Marxisme-Leninisme dengan praktik kongkrit revolusi sosialis di Indonesia adalah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Proses Pembentukan Partai Komunis Indonesia

Partai Komunis Indonesia atau PKI lahir pada saat Indonesia dalam kekuasaan kolonialisme Belanda. PKI muncul setelah sebelumnya di Indonesia sudah dibentuk beberapa serikat buruh dan sesudah terjadinya peristiwa Revolusi Sosialis Rusia pada Oktober tahun 1917.  (D.N. Aidit. 1955. Lahirnja PKI dan Perkembangannja (1920-1955). Yayasan Pembaruan: Jakarta. Halaman 8). Nederlandsch-Indisch Onderwijzers Genootschap (NIOG), Staats Spoor Bond (SS-Bond), Verenigingen van Spoor-en Tram Personeel (VSTP) dan Indisch Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) adalah beberapa serikat buruh yang lahir sekitar abad 20 di Indonesia.

Nederlandsch-Indisch Onderwijzers Genootschap (NIOG) adalah sebuah serikat buruh yang dibentuk sekitar tahun 1894, yang mengorganisasi para guru sekolah dasar dan menengah dari Belanda. Namun, karena cenderung mempertahankan sifat ke-Belanda-annya dan tidak berperanan penting dalam mobilisasi pergerakan buruh secara besar dan signifikan, serikat buruh tersebut tidak banyak dikenal di dalam sejarah di Indonesia. (D.N. Aidit. 1955. Lahirnja PKI dan Perkembangannja (1920-1955). Yayasan Pembaruan: Jakarta. Halaman 8).

Pada tahun 1905 berdiri suatu serikat yang mengorganisasi kaum buruh perkereta-apian Negara yang bernama Staats Spoor Bond atau SS-Bond. SS Bond mempekerjakan pegawai Belanda dan Indonesia, namun serikat tersebut tidak berkembang dengan baik sebab banyak buruh pada waktu itu yang menganggap SS Bond tidak dapat memenuhi keinginan kaum buruh secara umum dan nyatanya memang seluruh elit dan pimpinannya adalah orang-orang Belanda. Menyikapi hal itu, pada tanggal 14 November 1908 perwakilan kaum buruh dari perkereta-apian Negara maupun swasta berkumpul di Semarang dan mendeklarasikan berdirinya Verenigingen van Spoor-en Tram Personeel atau VSTP. VSTP adalah serikat buruh yang terbuka bagi seluruh buruh kereta api dan trem baik dari kalangan pegawai dinas maupun dari perusahaan swasta.

Dengan berdirinya VSTP, banyak anggota-anggota SS Bond yang beralih menjadi anggota VSTP. Pada tahun 1919 SS Bond akhirnya bubar. VSTP merupakan serikat buruh revolusioner yang banyak beranggotakan orang-orang berhaluan sosialis-komunis. Presiden dan Sekretaris VSTP pada awal pembentukannya adalah dua orang sosialis asal Belanda, yaitu C.J. Huishoff dan H.W. Dekker. Adapun jabatan-jabatan lainnya dalam jajaran komite eksekutif dipegang oleh orang-orang Indonesia. Namun, setelah kedatangan seorang sosialis-komunis asal Belanda, yaitu Hendricus Jesephus Franciscus Marie (H.J.F.M) Sneevliet  atau Henk Sneevliet  alias Maring ke Indonesia pada tahun 1913, kepemimpinan VSTP mulai didominasi oleh orang-orang sosialis-komunis. Propagandis Marxis yang lahir 13 Mei 1883 itu, pada perkembangan berikutnya berhasil menjadi Presiden VSTP dengan didampingi murid sekaligus tangan-kanannya, yaitu Semaun sebagai Sekretaris. Sebelum akhirnya, pada perkembangan berikutnya, Semaun berhasil memegang posisi sebagai Presiden dan Sneevliet  beralih menjadi sekretaris dalam serikat buruh tersebut.

Berbicara mengenai aktivitas Sneevliet  di Indonesia tak lepas dari bebrabagai aksi propagandanya terhadap kepada rakyat Indonesia untuk melawan kolonialisme Belanda. Beberapa waktu setelah tiba di Jawa pada Februari 1913, Sneevliet    sempat bekerja sebagai staf editorial di Soerabajaasch Handelsblad, sebuah perusahaan koran yang menjadi corong kepentingan sebuah perusahaan gula di Jawa Timur. Sebelum akhirnya ia pindah untuk bekerja menggantikan kawan se-ideologi-nya yakni D.M.G. Koch, di sebuah perusahaan koran di Semarang yang bernama Semarang Handelsvereniging. Nampaknya, di Semarang Sneevliet menemukan momentum baginya untuk merealisasikan cita-cita politiknya. Berkat kegiatannya menjalin kontak dengan para buruh di kota itu, pada suatu hari ia pun berhasil memimpin dan membangun VSTP dengan ide-ide sosialisme-marxis yang diusungnya.

Pada perkembangan berikutnya, dalam pergerakan VSTP dirasa terdapat hambatan-hambatan yang menghalangi perluasan pengaruhnya terhadap kaum buruh dan rakyat Indonesia secara menyeluruh. Jajaran pimpinan VSTP tidak mempunyai kejelasan tentang strategi menarik massa kaum buruh yang belum sadar perjuangan revolusioner untuk membangun sosialisme komunis di Indonesia. Maka dari itu, Sneevliet   bersama kawan-kawannya seperti H.W. Dekker, P. Bergsma, Brandsteder, R. Darsono, dan sejumlah kaum sosialis komunis lainnya pada bulan Mei 1914 di Semarang bersepakat mendirikan partai sosialis komunis pertama di Indonesia yang bernama Indisch Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV).

Dalam ISDV, tergabung intelektual-intelekyual sosialis Belanda dan Indonesia yang bertujuan menyebarkan marxisme di kalangan kaum buruh dan rakyat Indonesia secara umum. Terbentuknya ISDV sebagai partai politik itu disambut baik oleh para pemimpin VSTP, sehingga VSTP kemudian mengakui ISDV sebagai induk pergerakan politiknya.

Sudah barang tentu pembentukan partai komunis di Indonesia tidak lepas dari peran Henk Sneevliet  . Spirit juang Sneevliet   bertambah ketika memperoleh inspirasi dari Revolusi Bolshevik atau revolusi kaum sosialis radikal di Rusia. Ketika itu, pada bulan Februari tahun 1917 sebuah revolusi telah terjadi di mana penguasa Tsar Rusia yaitu Michel II berhasil dijatuhkan. Berita kejatuhan Tsar Rusia itu menginspirasi Sneevliet   untuk semakin mengobarkan propaganda kepada rakyat Indonesia agar melawan pemerintahan kolonial Belanda. Sebuah tulisan Sneevliet   dalam harian Semarang “De Indier” tanggal 19 Maret 1917, dengan nama “Zegepraal” atau “kemenangan”, memuat pujiannya terhadap Revolusi Rusia dan menganjurkan rakyat Indonesia untuk menjadikannya sebagai teladan. Namun tulisannya itu justru menyebabkan perkumpulan dagang di mana Sneevliet  bekerja mengeluarkan dirinya dari pekerjaannya. Buntut dari kehilangan pekerjaannya itu membuat Sneevliet tidak dapat berbuat apa-apa kecuali hanya mengabdikan diri pada VSTP, sebagai sekretaris dan propagandis, serta hidup dari serikat buruh tersebut yang ketika itu pimpinan beralih ke tangan Semaun. Selang beberapa waktu kemudian, kaum Bolshevik yang dipimpin oleh Lenin berhasil memenangkan revolusi sosialis Rusia pada 7 November 1917 – menurut Magnis Suseno, November itu menurut perhitungan kalender Bolshevik, adapun menurut perhitungan masehi peristiwa itu terjadi bulan Oktober 1917. Berita kemenangan itu diumumkan kepada para aktivis ISDV dan memotivasi mereka untuk semakin menggencarkan propaganda tentang revolusi dan sosialisme di Indonesia.

Dengan dibantu seorang temannya yaitu Brandsteder, Sneevliet   melancarkan propaganda di kalangan angkatan bersenjata. Berkat propagandanya itu, terbentuklah semacam kelompok Soviet di Surabaya, yaitu yang disebut “Dewan Matros dan Marine”, dan kepada serdadu-serdadu dianjurkan untuk membentuk dewan semacam itu. Namun, kegiatannya itu dianggap terlalu berbahaya oleh pemerintah Belanda sehingga akhirnya pada bulan Desember 1918 Sneevliet   diusir dari Indonesia. Setelah pengusirannya, Sneevliet   sempat pergi ke Rusia kemudian ke China lalu kembali ke negerinya Belanda. Selama pengembaraannya itu ia terlibat dalam sejumlah kegiatan revolusioner hingga menjelang akhir hayatnya, yakni sejak tahun 1940, Sneevliet   tercatat sebagai anggota Kepemimpinan Front Marx-Lenin-Luxemburg yang berpusat di Jerman. Akhirnya Sneevliet   dieksekusi mati oleh tentara Nazi Jerman pada tahun 1942 di negeri kelahirannya. (Ismantoro Dwi Yuwono. Perjalanan Hidup Henk Sneevliet  . Penerbit October Light. Halaman 14-18).

Kepergian Sneevliet dari Indonesia tidak banyak berdampak negatif bagi perkembangan ISDV. Karena telah muncul tokoh-tokoh revolusioner marxis dari kalangan orang-orang Indonesia sendiri yang melanjutkan perjuangan membangun organisasi komunis. Berita tentang pergerakan Lenin membentuk partai revolusioner setelah memenangkan revolusi Sosialis Oktober, untuk memompakan kesadaran revolusi dan keyakinan kepada kaum buruh, menurut Aidit, tidak hanya menjadi suluh dan pembangkit harapan rakyat Indonesia akan hancurnya imperialisme Belanda, tetapi juga memberi pelajaran pada rakyat dan kelas buruh Indonesia akan perlunya suatu partai tipe baru, yaitu partai yang merupakan bentuk tertinggi dari organisasi kaum buruh atau kelas proletar yang bersenjatakan ajaran marxisme-leninisme, yang mempunyai anggota dari kelas buruh yang paling sadar dan memiliki disiplin baja yang sangat kuat, yakni partainya Lenin, yaitu Partai Komunis. Akhirnya, sebagai pengejawantahan inspirasi tersebut, dalam rapat tahunan ISDV yang ke-7, yang dilaksanakan di gedung Sarikat Islam (SI) Semarang, dan atas persetujuan Semaun juga, pada tanggal 23 Mei 1920, ISDV berubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Demikianlah, ISDV secara resmi bertransformasi menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI), setelah anasir-anasir kaum revisionis atau penentang revolusi yang ada di tubuh ISDV dapat dikalahkan. Adapun Pengurus Besar harian yang pertama ketika itu adalah: Semaun sebagai Presiden atau Ketua, Darsono sebagai wakil ketua, Bergsma sebagai sekretaris, Dekker sebagai Bendahara.

Tokoh-tokoh lainnya di antaranya adalah Tan Malaka, Alimin, Musso, Ali Archam, Dengah dan Soegono. Pada bulan Desember 1920 PKI resmi menjadi bagian dari Komunis Internasional (Komintern) dan iktu memperkuat gerakan Komunis Internasional yang Marxis-Leninis. (D.N. Aidit. 1952. Sejarah Gerakan Buruh Indonesia. Yayasan Pembaruan: Jakarta. Halaman 44. Baca juga dalam buku Watak Politik Gerakan Serikat Buruh Indonesia karya Iskandar Tedjasukmana. Alih bahasa Oey Hay Djoen. Edi Cahyono’s Library).

Berkaitan dengan Revolusi Sosialis Rusia, pada tahun 1919 di Moskow telah berdiri organisasi Communist International (Komintern), Internasionale Komunis, atau Komunis Internasional (Komintern). Ketika Lenin meninggal pada 1924, Uni Soviet telah berdiri dan kekuasaan sepenuhnya diambil alih oleh kaum komunis. Cita-cita “Internasionale Komunis”, adalah bertujuan untuk memperjuangkan “dengan segala cara yang tersedia, termasuk kekuatan bersenjata, penggulingan borjuasi internasional dan penciptaan republik Soviet internasional sebagai transisi ke tahap penghapusan total negara”. Komintern berupaya mengkoordinasikan kaum sosialis dengan kebijakan komunisnya di seluruh dunia. (Franz Magnis Suseno. 2013. Dari Mao ke Marcuse Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin,  Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. Halaman 18-19).

Uni Soviet menjadi kiblat sosialisme komunis yang darinya kaum sosialis mereka menerima dukungan perjuangan dan inspirasi.  Mengenai Revolusi Oktober di Rusia tahun 1917 yang mendorong terbentuknya PKI, Aidit meminjam perkataan Mau Tje Tung atau Mao Zedong sebagai berikut (DN Aidit. 1955. Lahirnya PKI dan Perkembangannya (1920-1955). Yayasan Pembaruan: Jakarta. Halaman 10) :

“Salvo Revolusi Oktober menyadarkan kita akan Marxisme-Leninisme. Revolusi Oktober membantu orang-orang progresif di Tiongkok dan di seluruh dunia untuk menerima pandangan dunia proletar sebagai alat meramalkan masa depan daripada suatu nasion dan memikirkan kembali masalah-masalahnya sendiri.”

Dengan demikian, pecahnya Revolusi Oktober di Rusia tahun 1917 sangat berpengaruh pada lahirnya PKI dan perkembangannya tidaklah dapat dipisahkan dari pengaruh revolusi tersebut. Partai Komunis Indonesia lahir dalam zaman kolonialisme Belanda, sesudah di Indonesia berdiri berbagai serikat buruh dan perkumpulan kaum Sosialis. PKI berdiri sebagai organisasi politik kaum Marxis Indonesia, sesudah terjadinya revolusi Oktober tahun 1917. PKI mewujud sebagai Partai Komunis yang gigih membela kemurnian ajaran Marxisme atau Marxisme-Leninisme dan berjuang untuk mengintegrasikannya dengan praktek kongkrit Revolusi Indonesia dan untuk internasionalisme proletar. (DN Aidit. 1964. Djadilah Komunis dengan Semangat Banteng).

Pokok Ajaran Komunisme

Komunisme adalah ideologi partai kelas proletariat atau buruh. Sebagaimana dikemukakan oleh Marx dan Engels, bahwa kaum komunis jelas kaum proletar, tetapi kaum proletar belum tentu komunis. Kaum proletar barulah menjadi komunis ketika masuk menjadi anggota liga atau partai komunis. Karena itu ideologi Komunisme harus menjadi ideologi kelas buruh. Setiap anggota atau pendukung Partai komunis harus memiliki atau mendukung komunisme sebagai ideologi kelas buruh. Adapun kelas buruh tersebar di berbagai macam organisasi, seperti serikat buruh, koperasi kaum buruh, dan perkumpulan-perkumpulan pendidikan, organisasi-organisasi pemuda, dan lain sebagainya. Akan tetapi, kesadaran revolusi yang diperoleh buruh melalui perjuangan organisasi-organisasi tersebut, tidaklah dapat membuat kaum buruh atau pekerja cukup kuat dan bersatu melawan sistem kapitalisme.

Maka dari itu, harus ada partai politik dari kelas buruh, artinya harus ada dasar teori perjuangan yang diinjeksikan ke dalam gerakan buruh itu. Dan teori itu adalah teori Marxisme-Leninisme. Dalam komunisme hanya dengan adanya teori revolusioner, yaitu Marxisme-Leninisme dan partai yang revolusioner, yaitu Partai Komunis, semua organisasi kelas buruh, rakyat pekerja, dan kaum revolusioner akan dapat dipersatukan dan dipimpin dengan sasaran dan taktik-taktik perjuangan yang terang.* (BERSAMBUNG)

Peserta PKU Angkatan XI Unida Gontor

 

Rep: Insan Kamil

Editor: Insan Kamil

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !