Mengkaji Akhir Zaman Seharusnya Begini

Mengabaikan penjelasan ulama terkait tema akhir zaman bisa menimbulkan kesalahan dan juga tidak menjaga tradisi keilmuan para ulama

Mengkaji Akhir Zaman Seharusnya Begini

Terkait

Oleh: Wandi Bustami

 

Hidayatullah.com | DALAM kitab Mausū’atu Ahāditsi al-Fitani wa Asy-Rāti as-Sā’ati (Ensiklopedi Hadits-hadits tentang Fitnah & Akhir Zaman) karya Hamam bin Abdurrahim as-Sa’id dan Muhammad Hamam bin Abdurrahim menyebutkan dalam mukaddimahnya bahwa apabila seseorang hendak mengkaji hadits-hadits akhir zaman bukanlah untuk hiburan (at-Tasliah) dan menakuti-nakuti (at-Takhwīf) kaum Muslimin, akan tetapi bahasan tersebut bertujuan untuk menambah ketaatan dan semangat beribadah kepada Allah.

Lebih jauh disebutkan, sungguh sangat tidak bijak mengkaji hadits-hadits akhir zaman bila tidak mengkomparasikan antar hadits, sebab hal itu akan menimbulkan pemahaman keliru sehingga dapat berujung pada kesalahan pengambilan istinbath hukum.

Mengabaikan penjelasan ulama yang berkompeten terkait tema akhir zaman bukan saja menimbulkan kesalahan dalam mengambil sebuah hukum, akan tetapi ia juga tidak menjaga tradisi keilmuan para ulama sepanjang zaman.

Hal itu dapat kita lihat saat Dr. al-Mubayyadh dalam karyanya al-Mausū’ah fi al-Fitan wa a-Malāhim wa asy-Rāti as-Sa’ah (Ensiklopedi tentang Fitnah, Perang dan Tanda Kiamat), beliau merujuk kepada ulama sebelumnya seperti kitab tulisan Syekh al-Bastawi yang berjudul al-Mahdi al-Muntazhar. Syekh al-Bastawi pun merujuk kepada Kitab al-Fitan karya Nu’aim bin Hammād dan begitulah tradisi mereka sepanjang zaman.

Maka seyogyanya bagi seorang cendekiawan Muslim juga melakukan hal yang serupa bila hendak membahas tema-tema akhir zaman, yaitu dengan merujuk buku-buku akhir zaman seperti: asy-Rātu as-Sā’ah karya Dr. Yūsuf Wābil, Nihāyatul ‘Alam karya Syekh Muhammad al-‘Arifi, Fiqhu asy-Rāti as-Sā’ah karya Syekh Ismail al-Mukaddam, al-Usus wa al-Munthalaqāt karya Habib Abu Bakar, asy-Rātu as-Sā’ah karya Syekh Maher Ahmad Shufi, Ithāful Jamā’ah karya Syekh at-Tuwaijīri, al-‘Izdā’ah karya Syekh Al-Qinawji, al-Bidāyah wa an-Nihāyah karya Imam Ibnu Katsir, at-Tadzkirah karya Imam Al-Qurthubi, dan masih banyak kitab-kitab lainnya.

Mengapa harus merujuk kepada ulama yang konsen (fokus) membahas akhir zaman, bukahkan dengan langsung merujuk hadits-hadits Nabi lebih baik dan sudah cukup?

Perlu diketahui bahwa ulama-ulama di atas juga merujuk kepada hadits-hadits Nabi. Lalu dimana perbedaannya? Bedanya mereka mengkaji hadits-hadits akhir zaman dengan melakukan penelitian mendalam yang memakan waktu berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun.

Habib Abu Bakar itu menulis buku al-Usus wa al-Munthalaqāt-nya dalam kurun waktu yang lama, tujuannya adalah agar mendapatkan pemahaman yang komprehensif. Beliau menyebutkan betapa banyak orang-orang yang keliru membahas akhir zaman akibat tidak mendalam saat mengkaji tema tersebut.

Jadi, bagi para cendikiawan Muslim alangkah mulianya jika mengikuti langkah-langkah ulama dalam membahas tema yang sangat sensitif ini.*

Penulis asatidz Tafaqquh Study Club

 

Rep: Insan Kamil

Editor: Insan Kamil

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !