Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tsaqafah

Orang Kafir Mengolok-Olok Al-Qur’an [2]

Bagikan:

Sambungan artikel PERTAMA

 

Oleh: Abdullah al-Mustofa

 

Tidak usah minta maaf!

Allah Ta’ala dalam ayat di bawah telah melarang untuk meminta maaf bagi individu dari kalangan orang-orang beriman yang menista agama dan umat Islam.

لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu, niscaya Kami akan mengazab golongan disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (QS. At-Taubah [9]: 66)

Ayat di atas menerangkan bahwa jika ada seorang Mukmin yang telah berbuat nista tersebut tidak perlu meminta maaf kepada siapa pun, meskipun dia mengajukan alasan dan permintaan maaf tetaplah dia telah melakukan dosa besar, serta telah keluar dari agama Islam (murtad), yang berarti telah menjadi orang kafir. Allah Ta’ala akan mengampuninya jika dia bertobat, dan jika Allah Ta’ala berkehendak.

Ketentuan di atas berlaku bagi orang-orang yang beriman. Bagi mereka tidak terbuka pintu maaf tapi terbuka pintu taubat. Bagi mereka saja tidak perlu meminta maaf kepada siapapun, apatah lagi bagi orang-orang kafir. Bagi orang-orang kafir tidak ada pintu maaf dan pintu taubat. Kecuali bagi mereka yang masuk Islam dan bertaubat tentu terbuka pintu taubat.

Tinggalkan mereka!

Allah Ta’ala dalam ayat-ayat berikut ini memerintah kaum beriman – dengan cara apapun agar tidak terlibat – untuk tidak duduk bersama dengan (dengan kata lain meninggalkan) mereka yang membicarakan ayat-ayat Allah Ta’ala dengan maksud untuk mengolok-olok. Perintah Allah Ta’ala ini mesti ditaati orang-orang beriman agar mereka tidak serupa dengan orang-orang kafir dalam kekafiran dan dengan orang-orang munafik dalam kemunafikan, serta agar orang-orang beriman tidak dikumpulkan bersama orang-orang kafir dan munafik di neraka Jahanam.

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya, tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, (QS. An-Nisaa’ [4]: 140)

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa, maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat. (QS. Al-An’aam [6]: 68)

Akibat yang mereka terima: azab di dunia dan akhirat

Ayat-ayat di bawah ini adalah peringatan bagi siapa saja yang tinggal di mana saja dan kapan saja termasuk kaum Muslim, kafir dan munafiq di zaman modern ini untuk tidak mengingkari dan memperolok-olok ayat-ayat Allah Ta’ala agar tidak mendapatkan azab Allah Ta’ala baik di dunia berupa kebinasaan maupun di akhirat berupa siksaan di neraka, di mana mereka tidak akan dikeluarkan darinya dan sudah tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat.

ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى أَنْ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ

Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah yang lebih buruk, karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya. (QS. Ar-Ruum [30]: 10)

ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آَيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا

Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. (QS. Al-Kahfi [18]: 106)

ذَلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ

Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat. (QS. Al-Jaatsiyah [45]: 35)

Jangan kalian jadikan mereka sebagai Waly!

Ayat berikut menjelaskan larangan bagi orang-orang beriman untuk menjadikan orang-orang kafir dari golongan Ahlul Kitab dan selainnya yang mempermainkan dan mengolok-olok agama Islam sebagai waly. Kata waly yang mempunyai bentuk jamak awliya’ tidak sekadar memiliki arti teman akrab, pelindung dan penolong, tapi juga memiliki arti penguasa atau pemimpin.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi waly-mu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir. Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS. Al-Maaidah [5]: 57)

Pelajaran

Terkait kasus-kasus penistaan terhadap agama dan umat Islam (terutama kepada para pewaris Nabi yakni para ulama) di zaman modern ini baik di Tanah Air maupun di dunia internasional yang dilakukan siapapun juga berdasarkan panduan ayat-ayat tersebut di atas maka dapatlah diambil beberapa pelajaran: Pertama, makar yang dilakukan kaum kafir dan munafik terhadap agama dan umat Islam sejatinya adalah makar Allah Ta’ala untuk membongkar kekafiran, kemunafikan, aib serta rencana dan aksi kejahatan mereka untuk diperlihatkan kepada kaum beriman, serta mengakibatkan berlakunya azab bagi mereka di dunia dan akhirat. Kedua, makar yang mereka lakukan memberikan kesempatan bagi orang-orang beriman untuk membuktikan keimanan mereka dengan cara melakukan perlawanan dengan segala bentuknya dengan cara-cara yang bilhikmah. Ketiga, haram hukumnya bagi kaum Mukmin untuk terlibat dalam makar mereka. Keempat, haram bagi orang-orang beriman untuk menjadikan para pelaku penistaan tersebut sebagai teman akrab, penolong, dan pelindung, apatah lagi sebagai penguasa atau pemimpin bagi mereka. Kelima, tidak perlu melakukan tabayyun dan bersikap tegas kepada mereka sebagaimana diterangkan di bawah ini.

Sikap tegas bagi penista agama dan umat Islam

Kaum Mukmin mesti bersikap tegas kepada siapa saja yang telah dengan jelas melecehkan agama dan umat Islam dengan tidak menggubris serta tidak memaafkan meskipun mereka mengajukan permintaan maaf dan alasan. Kaum Mukmin mesti bersikap tegas kepada mereka karena Allah Ta’ala telah menvonis mereka sebagai pelaku dosa besar dan telah menjadi kafir. Sikap tegas ini telah dicontohkan Rasulullah Saw. yang tidak menggubris dan tidak memaafkan seorang yang telah beriman dan yang telah menista Rasulullah Saw. dan para shohabah Ra. sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

Diriwayatkan dari lbnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qatadah secara ringkas. Ketika dalam peristiwa perang Tabuk ada orang-orang yang berkata, “Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca Al-Qur`an ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam peperangan”. Maksudnya, menunjuk kepada Rasulullah Saw. Dan para sahabat yang ahli baca Al Qur`an. Maka berkatalah Auf bin Malik kepadanya: “Omong kosong yang kamu katakan. Bahkan kamu adalah munafik. Niscaya akan aku beritahukan kepada Rasulullah Saw. ”. Lalu pergilah Auf kepada Rasulullah Saw. untuk memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Tetapi sebelum ia sampai, telah turun wahyu Allah kepada beliau. Ketika orang itu datang kepada Rasulullah Saw., beliau telah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya. Maka berkatalah dia kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah! Sebenarnya kami hanya bersenda-garau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang bepergian jauh untuk pengisi waktu saja dalam perjalanan kami”. Ibnu Umar berkata, ”Sepertinya aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta Rasulullah Saw., sedangkan kedua kakinya tersandung-sandung batu sambil berkata: “Sebenarnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Lalu Rasulullah Saw. bersabda kepadanya: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” .Wallahu a’alam.*

Penulis anggota MIUMI Jawa Timur

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Penghapusan Kekerasan Seksual: Sebuah Kritik

Penghapusan Kekerasan Seksual: Sebuah Kritik

Belajar Tanpa Guru Berakibat Melahirkan Rusak Pemikiran

Belajar Tanpa Guru Berakibat Melahirkan Rusak Pemikiran

Mengambil Hikmah dari Perpindahan Kiblat

Mengambil Hikmah dari Perpindahan Kiblat

Kopi, Minuman Para Ulama dan Ahli Ibadah

Kopi, Minuman Para Ulama dan Ahli Ibadah

Islam dan Tafsir Pancasila: Di Antara Teori Keberagaman

Islam dan Tafsir Pancasila: Di Antara Teori Keberagaman

Baca Juga

Berita Lainnya