Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tsaqafah

Syiah dari Konsep Imamahnya [2]

hmad Al-rubaye/AFP/Getty Images
Pemeluk Syiah dalam acara Karbala di Iran [ilustrasi]
Bagikan:

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Achmad Reza Hutama Al-Faruqi

Ketika Abu Bakar terpilih menjadi khalifah, beliatu berpidato yang isinya; “Demi Allah, sungguh tak kuduga sebelumnya kalau aku telah dibebani tanggungjawab amat besar yang tak sepadan dengan kemampuanku. Aku lebih bahagia kalau kedudukan ini ditempati oleh orang yang kuat diantara kalian, tapi orang itu sudah mengajukan alasan penolakannya dan diterima oleh kaum Muhajirin.” (Lihat Sirah Ibn Hisham dan al-Bidayah wa an-Nihayah, 305). Hal ini bisa disimpulkan bahwa Abu Bakar tidak merampas kekhalifahan stelah wafatnya Nabi.

Dan jika mereka (Syiah) jika memang meyakini bahwa Ali sebagai Imam mereka, seharusnya ikut apa yang dikatakan dan dipercayai oleh Ali, dan tidak seharusnya mencaci maki para Sahabat, karena dikisahkan oleh al-Majlisi dari at-Tusi bahwa Ali pernah berkata tentang Sahabatnya: “Aku berpesan pada kalian mengenai para sahabat Rasulullah janganlah kalian mencaci maki mereka, karena mereka adalah para Sahabat Nabi kalian. Mereka adalah para Sahabat yang tak pernah mengada-ada sedikitpun juga dalam urusan agama. Mereka tidak pernah member tenggang rasa pada pelaksana bid’ah, sungguh demikianlah yang dipesankan Rasulullah kepadaku.” (Lihat tafsir Hasan al-Askari, p. 65, al-Burhan Juz 2, p.228, Ihsan Ilahi dhahir dalama buku al-Syiah wa ahlul bait.)

Dalam teologi Imamah Syiah dibuku “al-Hukumah al-Islamiyah” milik al-Khumaini meyakini bahwa Imam-imam Syiah adalah Tuhan-tuhan yang memiliki sifat-sifat Tuhan, yang tidak lupa, tidak mengantuk dan tidak tidur.

Para Imam Syiah memperkenalkan sifat-sifat Allah yang tidak terdapat dalam al-Qur’an seperti al-Bada’ (sifat Allah yang baru mengetahui sesuatu setelah kejadian), dan mereka meyakini bahwa para Imam mereka sudah mengetahui lebih dahulu hal yang belom terjadi. (Lihat bukunya al-Khulaiyini di Ushul al-Kafi).

Ini bisa dibuktikan ketika kejadian pembunuhan Husein bin Ali di Karbala, dengan sifat inilah, para Imam yang lebih mengetahuinya dibandingkan dengan Allah, maka dari itu mereka mengkultuskan dengan sifat ini ke Allah.

Dalam buku Ushul al-Kafi, buku rujukan Syiah dikatakan, mereka meyakini bahwa Ali adalah penentu Syurga dan Neraka, mengetahui baik dan buruk, mengetahui yang rinci dan ghaib.

Maka dari itu, menurut mereka yang tidak meyakini para Imam itu termasuk kafir.

Kesimpulan

Dari pemaparan diatas sudah jelas, bahwa Syiah meyakini Imam-imam mereka melebihi Nabi, dan siapa saja yang tidak meyakini Imamah, maka dianggap telah kafir oleh Syiah.*

Penulis adalah peserta program Kaderisasi Ulama (PKU) IX Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) Gontor

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Apakah Ibnu Taimiyyah Membolehkan Pemimpin Non Muslim?

Apakah Ibnu Taimiyyah Membolehkan Pemimpin Non Muslim?

Dunia Arab dan Liberalisasi Pemikiran

Dunia Arab dan Liberalisasi Pemikiran

Beradab terhadap Nabiullah Muhammad

Beradab terhadap Nabiullah Muhammad

Al-Kafi di Mata Ulama Syiah

Al-Kafi di Mata Ulama Syiah

Asy’ari dan Identitas Muslim Nusantara

Asy’ari dan Identitas Muslim Nusantara

Baca Juga

Berita Lainnya