Jum'at, 12 Februari 2021 / 29 Jumadil Akhir 1442 H

Tsaqafah

“Islam Nusantara”, Makhluk Apakah Gerangan? [2]

Giantsugianto/flickr.com
Bagikan:

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Adif Fahrizal

KEDUA kelompok karakteristik tersebut mengandaikan adanya pertentangan antara “Islam esoteris (Islam hakikat)” dengan “Islam eksoteris (Islam syariat)” serta antara “Islam lemah lembut” dengan “Islam keras”. Kedua kelompok karakteristik itu diklaim sebagai “ciri khas Islam Indonesia” sedangkan kebalikan dari keduanya adalah milik “Islam Arab”.

Konsep “Islam Indonesia” sering diperhadapkan dengan konsep “Islam Arab”. Bahkan istilah “Islam Arab” distigma sebagai ancaman bagi “Islam Indonesia”.

Jika kita perhatikan secara jeli sesungguhya apa yang secara klise sering diklaim sebagai karakteristik “Islam Indonesia” di atas sebenarnya lebih banyak diwarnai asumsi dan idealisasi daripada kenyataan.

Menurut hemat penulis klaim bahwa “Islam Indonesia” adalah “Islam esoteris” dan “Islam yang lemah lembut” semata adalah generalisasi dan simplifikasi yang cenderung a-historis dan menafikan realitas keberislaman masyarakat Indonesia yang tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Sejak awal masuk dan berkembangnya Islam di Kepulauan Nusantara ini, Islam telah dipahami dan dipraktikkan baik dalam aspek esoteris maupun eksoteris.

Sebagai contoh, naskah-naskah Islam tertua di  Jawa seperti Pituture Seh Bari atau Kropak Ferrara misalnya, selain membicarakan tasawuf juga membicarakan akidah dan fikih. Dengan kata lain bukan hanya membahas aspek esoteris ajaran Islam tetapi juga aspek eksoterisnya.

Demikian pula dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, meskipun dalam membangun wibawa kekuasaannya banyak menggunakan konsep-konsep tasawuf namun tetap tidak meninggalkan penegakan syariat. Bahwa penerapan syariat masih harus menenggang keberadaan hukum adat yang sudah ada sebelum Islam datang tentu itu adalah bagian dari proses Islamisasi yang panjang, namun yang jelas ada upaya dari para penguasa Muslim di Nusantara untuk menerapkan syariat dan tidak mempertentangkan antara syariat dengan hakikat.

Begitu juga bila kita menengok sejarah kita bisa menyaksikan bahwa kaum Muslim Nusantara tidak mempraktikkan Islam hanya agama lemah lembut semata.

Ada kalanya kaum Muslim Nusantara bersikap tegas dan keras ketika merasa ditindas oleh orang-orang kafir atau kehormatan agamanya dilecehkan. Perlawanan-perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda sepanjang abad ke-19 yang dimotori para kiai, haji, dan santri bisa menjadi contoh bagaimana kaum Muslim Nusantara pun bisa bersikap dan bertindak radikal.

Perlu dicatat, perlawanan-perlawanan tersebut kerap kali diarahkan bukan hanya kepada orang-orang Belanda tetapi juga kepada orang-orang pribumi Muslim yang berkolaborasi dengan Belanda. Oleh gerakan-gerakan perlawanan itu -yang banyak di antaranya adalah kaum tarekat– mereka sering dicap “kafir” karena bersekutu dengan Belanda.

Terlepas bahwa vonis kafir secara serampangan tidak dibenarkan dalam syariat, fakta sejarah ini sekadar menggambarkan bahwa takfir bukan hanya dilakukan oleh mereka yang saat ini distigma dengan ‘Wahabi’ melainkan juga kaum tarekat (sufi) yang sering dikonstruksikan sebagai kelompok Islam yang “toleran”, “moderat”, cinta damai, dan humanis. Ini sekaligus menunjukkan bahwa pemahaman Islam yang mengedepankan aspek esoteris tidak selalu berbanding lurus dengan sikap “moderat” dan “toleran”.

Lebih jauh lagi kita pun bisa mempertanyakan, apakah proses (yang disebut) “pribumisasi Islam” itu selalu melahirkan ekspresi keberagamaan yang kental dengan nuansa esoteris dan atau kelemah-lembutan dalam beragama?

Lagi-lagi jika menengok sejarah, jawabannya adalah tidak. “Pribumisasi Islam” bisa saja menghasilkan ekspresi keberislaman yang mengedepankan aspek eksoteris -tanpa harus berarti menafikan aspek esoteris- dan juga garang alih-alih lemah lembut. Hal ini bisa kita lihat dalam kasus gerakan DI/TII di Jawa Barat.

Sejumlah tulisan yang mengupas DI/TII di Jawa Barat menunjukkan bahwa gerakan ini menggunakan konsep-konsep budaya lokal (Jawa dan Sunda) untuk mengartikulasikan ideologinya. Dalam rangka melegitimisi kepemimpinannya misalnya, Kartosuwiryo mengklaim mendapat “wahyu cakraningrat”/pulung ketika sedang bertafakur di hutan. Lalu dalam sebuah manifestonya Kartosuwiryo menampilkan dirinya sebagai Herucokro yang dalam tradisi Jawa merupakan nama Ratu Adil yang akan membawa keadilan dan kemakmuran bagi rakyat seraya menggambarkan perang antara NII melawan RI bagaikan  perang “Brontoyudho Joyo Binangun” antara Pandawa (NII) melawan Kurawa (RI). Keberhasilan DI/TII merekrut pengikut di daerah pedesaan Priangan juga tidak lepas dari usaha menampilkan DI/TII sebagai pemenuhan dari ramalan para karuhun (leluhur) Sunda seperti Prabu Kian Santang.

Ini jelas merupakan suatu bentuk “pribumisasi Islam” namun pribumisasi tersebut justru dilakukan dalam kerangka perjuangan menegakkan aspek eksoteris Islam yaitu syariat Islam. Pribumisasi itu juga tidak berbanding lurus dengan sikap lemah lembut. Sebaliknya DI/TII dikenal sebagai gerakan yang tidak mengenal ampun terhadap musuh-musuhnya. Berbagai eksekusi yang kini sering dilakukan ISIS sudah dilakukan DI/TII di Jawa Barat puluhan tahun yang lalu.* (bersambung) …wacana “Islam Indonesia” ala para birokrat dan politisi lebih berisfat politis

Penulis sedang mengambil S2 bidang sejarah di UGM

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pendidikan Karakter Menurut Kitab Ta’lim al-Muta’allim

Pendidikan Karakter Menurut Kitab Ta’lim al-Muta’allim

Pendidikan Akidah di PT Islam dan Framework Orientalisme

Pendidikan Akidah di PT Islam dan Framework Orientalisme

Kopi, Minuman Para Ulama dan Ahli Ibadah

Kopi, Minuman Para Ulama dan Ahli Ibadah

Islam, LGBT dan Perkawinan Sejenis

Islam, LGBT dan Perkawinan Sejenis

Dua Imam Mahdi dan Perang Dunia Ketiga

Dua Imam Mahdi dan Perang Dunia Ketiga

Baca Juga

Berita Lainnya