Kamis, 28 Oktober 2021 / 21 Rabiul Awwal 1443 H

Tsaqafah

Kitab Al Kafi Di Mata Kaum Syiah

Salah satu rujukan keyakinan kaum Syiah adalah Kitab Al Kafi yang disusun oleh Al Kulaini
Bagikan:

Oleh: KH. Luthfi Bashori

HANYA sedikit orang memahami secara utuh apa dan siapa Syiah. Diantara salah satu rujukan melihat keyakinan kaum Syiah adalah kita rujukannya yang dianggap paling shahih oleh mereka bernama Kitab Al Kafi yang disusun oleh Al Kulaini.

Dalam pengantar kitabnya, Al Kulani mengatakan, “Saya katakan kamu ingin memiliki kitab yang lengkap, berisi ajaran ilmu agama yang lengkap bagi pelajar dan dijadikan rujukan bagi mereka yang ingin mencari petunjuk, menjadi referensi bagi mereka yang ingin mencari ilmu agama dan mengamalkannya dengan riwayat yang sahih dari orang-orang jujur.” [Pengantar Al Kafi hal 7].

Namun untuk memulai pembahasan tema ini, sebaiknya para pembaca berusaha mencari buku berjudul “Dialog Sunnah-Syiah”, terbitan MIZAN, cetakan pertama tahun 1983, sebagai buku rujukan pembahasan yang representatif terhadap keyakinan kaum Syiah Imamiyah Iraniyah Khomeiniyah. Disyaratkan cetakan pertama tahun 1983, karena di dalamnya belum mengalami revisi oleh kepentingan taqiyyah (kebohongan) kaum Syiah Indonesia.

Sedangkan pada cetakan-cetakan berikutnya, buku Dialog Sunnah Syi’ah terbitan MIZAN ini sudah mengalami revisi di dalamnya, dengan membuang tema-tema yang dianggap dapat membocorkan rahasia kaum Syi’ah yang semula sengaja disembunyikan oleh mereka, hal itu sehubungan buku ini telah banyak dikupas oleh para peneliti, pengamat, kritikus, dan sejumlah ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang peduli atas keselamatan aqidah umat Islam Indonesia, agar tidak terpengaruh oleh pemahaman sesat manapun.

Dalam muqaddimah buku Dialog Sunnah Syi’ah, diterangkan tentang bagaimana pandangan kaum Syi’ah terhadap kitab Al-Kafi karangan Alkulaini, seorang tokoh sentral Syiah Imamiyah yang dijadikan rujukan utama bagi kelangsungan ajaran agama mereka. Berikut cuplikannya :

“Dan kebenaran memaksa berbicara, baik yang insaf maupun yang tegar hati … “

“Sejumlah besar di antara murid-murid  Imam Ja’far ash-Shadiq telah meraih keberhasilan yang menonjol, dan menjulang tinggi kedudukannya di bidang ilmu. Dan mereka inilah yang kemudian hari menjadi Imam-imam pemberi petunjuk, penerang jalan, lautan ilmu, serta bintang-bintang penunjuk arah hidayah. Lebih dari empat ribu orang di antara mereka yang berasal dari Iraq, Hijaz, Persia dan Suriah, tercatat nama-nama dan hal ikhwal-nya, dalam kitab-kitab biografi tokoh-tokoh penting. Dan mereka itu adalah pengarang-pengarang kitab yang amat dikenal di kalangan ulama kaum Imamiyyah.”

“Di antaranya: al-Ushul al-Arba’umiah (Empat ratus dasar-dasar) –seperti yang telah kami sebutkan sebelum ini- yaitu berupa 400 buah karangan dalam 400 bidang pengetahuan agama, yang dihimpun dari fatwa-fatwa Imam Ja’far ash-Shadiq r.a. pada masa hidupnya; dan yang kemudian –setelah beliau wafat- menjadi tumpuan ilmu dan ‘amal bagi para ulama.”

“Beberapa di antara tokoh-tokoh terkenal di kalangan kami telah membuat ringkasan-ringkasan dari kitab-kitab itu, dengan tujuan memberi kemudahan bagi para pelajar dan keringanan bagi yang mencarinya. Yang terbaik di antaranya adalah: empat buah kitab yang menjadi pegangan kaum Imamiyyah, dalam ushul dan furu’, semenjak generasi-generasi pertama sampai dengan masa kita sekarang ini; yaitu al-Kafi, at-Tah-dzib, al-Istibshar dan Manla Yahdzurubul Faqih.”

“Kitab-kitab ini telah sampai kepada kita dengan cara mutawatir, sedangkan isi di kandungannya adalah shahih dan bisa dipertanggungjawabkan tanpa keraguan sedikitpun.”

“Di antara keempatnya, maka Kitab al-Kafi adalah yang paling terdahulu, paling besar, paling baik dan paling rapi. Di dalamnya terdapat 16.199 hadits.”

Pernyataan di atas adalah pengakuan jujur para penganut Syiah sendiri atas keyakinan mereka terhadap buku Al-Kafi karangan Alkulaini yang mempunyai nama lengkap Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq Alkulaini Arrazi.

Keyakinan kaum Syiah masa kini itu juga selaras dengan keyakinan kaum Syiah di masa lampau sebagaimana termaktub dalam muqaddimah kitab Al-kafi itu sendiri. Antara lain:

  1. Syeikh Almufid dalam Kitab Tashihul I’tiqad mengatakan : Kitab Al-Kafi adalah paling agung-agungnya kitab Syiah, dan paling banyaknya faedah. (Muqaddimah Al-Kafi, hal 26).
  2. Syeikh Muhammad bin Makki dalam ijazahnya kepada Inbul Khazin mengatakan: Kitab Al-Kafi dalam mengumpulkan hadits, adalah kitab yang keagungannya belum pernah dilakukan oleh kaum Imamiyah sebelumnya. (Muqaddimah Al-Kafi, hal 27).
  3. Syeikh Alfaidh mengatakan: Kitab Al-Kafi adalah kitab yang paling mulia, paling kredibel, paling sempurna, dan yang paling lengkap karena di antaranya mencakup ushulu (aqidah), yang bersih dari kesalahan dan hal-hal yang negatif. (Muqaddimah Al-Kafi, hal 27).
  4. Syeikh Almajlisi mengatakan: Kitab Al-Kafi paling kredibelnya kitab ushul (aqidah) dan paling komplitnya, serta paling baiknya karya tulis dari kalangan Alfirqatun najiyah (golongan yang selamat), dan paling agungnya kitab. Muqaddimah Al-Kafi, hal 27).
  5. Masih banyak pernyataan tokoh-tokoh Syiah dalam meyakini keabsahan dan kehebatan kitab Al-Kafi sebagai rujukan utama kaum Syiah Imamiyah yang kini menjadi agama resmi negara Iran, dengan tokoh spiritual utamanya adalah Khomeini.

Berikut Cuplikan Ringkas Kitab Al Kafi

  1. Dari Ali bin Alhakam, dari Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah SA berkata: “Sesungguhnya Al-Quran yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW itu berjumlah 17.000 ayat.” (Al-Kafi, juz 2, hal 634, no 27).

Padahal umat Islam seluruh dunia meyakini bahwa Kitab Suci Al-Quran milik umat Islam yang beredar sejak jaman para shahabat Nabi hingga saat adalah berjumlah 6666 ayat.

  1. Dari Muhammad bin Yahya, dari Ahmad bin Muhammad, dari Ibnu Mahbub, dari Amer bin Abul Miqdam, dari Jabir berkata: “Aku mendengar Abu Jakfar AS berkata : Tidak ada seorang manusiapun yang mengaku telah berhasil mengumpulkan Al-Quran secara menyeluruh sebagaimana saat diturunka, kecuali orang itu adalah pembohong, dan tidak ada yang mampu mengumpulkan dan menghafalnya sebagaimana saat diturunkan oleh Allah SWT kecuali Ali bin Abi Thalib dan para Imam (Syiah) yang sesudahnya.” (Al-Kafi juz 1, hal 228, no 1).

Padahal umat Islam seluruh dunia meyakini kebenaran Al-Quran Mushaf Utsmani yang beredar di kalangan umat Islam, yaitu Al-Quran yang dikumpulkan secara sempurna oleh para Shahabat, atas prakarsa Khalifah Utsman bin Affan.

  1. Dari Muhammad bin Yahya, dari Muhammad bin Alhusain, dari Abdurrahman bin Abi Hasyim, dari Salim bin Salamah berkata: “Ada seorang lelaki yang membaca di depan Abu Abdillah AS, sedang aku mendengarkannya, yaitiu sebuah ayat dari Al-Quran yang tidak sama dengan isi Al-Quran milik orang-orang pada umumnya, lantas Abu Abdillah berkata: Jangan engkau lanjutkan bacaan ini, bacalah Al-Quran yang seperti milik orang-orang Islam pada umumnya, sampai nanti datang Alqaim (Imam Mahdi versi Syiah), dan jika Alqaim sudah membaca Al-Quran yang asli (sesuai versi Syiah), maka keluarkanlah mushaf Al-Quran yang ditulis oleh Ali bin Abi Thalib AS. Berkata (Abu Abdillah): Konon Ali bin Abi Thalib telah mengeluarkan mushaf Al-Quran (yang berbeda dengan Al-Quran milik umat Islam) setelah selesai menulisnya, seraya berkata: Ini kitabullah (Al-Quran) yang (asli) sebagaimana diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW, aku telah mengumpulkannya dari dua bendel lauh (buku). Berkata orang-orang yang ada saat itu (maksudnya para Shahabat Nabi SAW) : Kami sudah memiliki mushaf Al-Quran, jadi kami tidak membutuhkannya. Berkata Abu Abdillah AS: Demi Allah, kalian tidak akan menemukan mushaf Al-Quran yang dikumpulkan Ali bin Abi Thalib itu hingga saat ini, padahal konon Ali bin Abi Thalib itu mengumpulkannya untuk kalian baca.” (Al-Kafi juz 2, hal 633, no 23).

Sedangkan umat Islam meyakini, bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah termasuk penasehat kekhalifahan Sayyidina Utsman bin Affan, dan yang ikut bertanggungjawab atas upaya pengumpulan Al-Quran oleh para Shahabat Nabi Shallallhu ‘Alaihi Wassallam yang diprakasai oleh Khalifah Utsman bin Affan, dan upaya standarisasi mushaf Al-Quran bagi umat Islam seluruh dunia dengan standar Mushaf Utsmani, yaitu mushaf Al-Quran yang dikumpulkan bersama-sama dan disepakati kebenarannya oleh para Shahabat, termasuk Syayyidina Ali bin Abi Thalib, di masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan.

Maka tidak heranlah jika kaum Syiah Imamiyah berani mengkafirkan para shahabat Nabi Shallallhu ‘Alaihi Wassallam yang dalam keyakinan mereka, semua para Shahabat Nabi dianggap sebagai pembohong yang berani menghapus atau menolak Mushaf Al-Quran yang dikumpulkan oleh Syayyidina Ali bin Abi Thalib.

Tidak Sama

Untuk itu pula Kitab Al-Kafi menyebutkannya sebagai berikut:

“Dari Hannan, dari ayahnya, dari Abu Jakfar AS berkata: Konon orang-orang (seluruh Shahabat Nabi) itu menjadi murtad setelah Nabi wafat, kecuali tiga orang saja yang selamat. Maka ditanyakanlah: Siapa tiga orang yang selamat itu? Abu Jakfar menjawab: Almiqdad bin Al-aswad, Abu Dzar Alghifari, dan Salman Alfarisi RA.” (Dalam Al-Kafi juz 8, hal 245, no 341).

Demikianlan cuplikan yang membuktikan bahwa hakikatnya Islam dan Syiah itu adalah dua agama yang berbeda, karena kitab sucinya berbeda. Karena kitab suci Al-Quran milik umat Islam itu berbeda dengan Kitab Suci Weda milik umat Budha, maka agama Islam pun berbeda dengan agama Budha. Kitab suci umat Kristen adalah Injil yang berbeda dengan  kitab suci umat Islam, yaitu Al-Quran, karena Kristen dan Islam mempunyai kitab suci yang berbeda, maka Kristen dan Islam adalah dua agama yang berbeda.  D

Demikian juga, karena kitab suci Al-Quran milik umat Islam itu berbeda dengan kitab suci ‘Al-Quran’ milik kaum Syiah, tentunya agama Islam pun sangat berbeda dengan Syiah.*

Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami Singosari Malang. Tulisan diambil dari laman pejuangislam.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Saat-saat Rasulullah Tertawa dan Menangis

Saat-saat Rasulullah Tertawa dan Menangis

Kafir Tapi “Baik”, Dijamin Selamatkah?

Kafir Tapi “Baik”, Dijamin Selamatkah?

Kampanye Homoseksualitas: Antara Toleransi dan Relativisme

Kampanye Homoseksualitas: Antara Toleransi dan Relativisme

Beginilah Pandangan Orientalis Terhadap Mushaf Usmani  [2]

Beginilah Pandangan Orientalis Terhadap Mushaf Usmani [2]

Muslim Paripurna Bukan Muslim Moderat [2]

Muslim Paripurna Bukan Muslim Moderat [2]

Baca Juga

Berita Lainnya