Dompet Dakwah Media

Inilah Toleransi Islam dan Toleransi Hakiki

Dengan demikian, umat Islam haram terlibat dalam peribadatan pemeluk agama lain

Inilah Toleransi Islam dan Toleransi Hakiki
patheos.com
Gabriella Ayoub memberikan bunga para pengunjuk rasa yang menolak Islam dan syariah atas rencana pendirian masjid di Temlecula, California

Terkait

Oleh: Yan S. Prasetiadi, M.Ag

SETIAP menjelang 25 Desember, propaganda ide toleransi umat beragama selalu nyaring terdengar, khususnya toleransi umat Islam terhadap kaum Nasrani, semisal semarak perayaan Natal bersama. Padahal, toleransi yang diwacanakan tersebut masih bias dan sarat kepentingan. Baik motif ekonomi demi meraup untung, motif politik, maupun motif penyebaran ide sinkretisme dan pluralisme agama.

Dalam konteks politik, wajar jika kaum Nasharani ingin unjuk kekuatan terkait dominasi mereka di negeri Muslim terbesar ini. Buktinya, mereka mengadakan acara Natal bersama besar-besaran, mengundang penguasa dan pejabat untuk menghadiri perayaan tersebut, tak peduli dengan agama penguasa atau pejabat itu. Hal ini jelas menunjukan kuatnya pengaruh kaum Nasrani dan lemahnya penguasa dan pejabat Muslim di hadapan mereka.

Dalam konteks ide, Natal juga dijadikan sebagai salah satu cara menyebarkan virus pluralisme dan sinkretisme agama. Akibatnya, akidah umat Islam secara perlahan terus dirusak. Ide pluralisme mengajarkan semua agama sama dan mengajak umat Islam agar mengakui ‘kebenaran’ agama lain. Jika virus pluralisme berhasil ditanamkan di tubuh umat Islam, maka berbagai kemunkaran terkait masalah agama akan mudah masuk. Sebut saja ide pernikahan beda agama.

Selain pluralisme, terdapat pula propaganda sinkretisme, yakni pencampuradukan ajaran agama-agama. Spirit sinkretisme adalah mengkompromikan hal-hal yang bertentangan. Dalam konteks ‘Natal Bersama dan Tahun Baru’, sinkretisme terlihat jelas dalam seruan berpartisipasi merayakan Natal dan Tahun Baru, termasuk mengucapkan selamat Natal. Padahal dalam Islam batasan iman dan kafir, juga batasan halal dan haram, sudah sangat jelas. (Al-Islam ed. 735, 19/12/2014).

Toleransi Yang Benar

Toleransi (tasamuh) artinya sikap membiarkan (menghargai), lapang dada (Kamus Al-Munawir, hal. 702, cet. 14). Namun toleransi tidak berarti seorang harus mengorbankan kepercayaan atau prinsip yang dia anut (Ajad Sudrajat dkk, Din Al-Islam. UNY Press. 2009).

Islam memang mengajarkan sikap toleransi. Toleransi itu membiarkan umat lain menjalankan ritual agamanya, termasuk perayaan agamanya. Toleransi itu tidak memaksa umat lain untuk memeluk Islam.
Dalam masalah muamalah, Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah berbisnis dengan non-Muslim secara adil dan jujur, selama bukan jual-beli barang haram. An-Nawawi mengatakan, “Kaum Muslimin bersepakat bolehnya bermuamalah (jual beli, sewa, dll.) dengan non Muslim.” (Syarh Nawawi untuk Shahih Muslim, 10/218).
Rasulullah juga menjenguk tetangga non-Muslim beliau yang sakit (HR. Bukhari no. 2363 & Muslim no. 2244). Rasul juga bersikap dan berbuat baik kepada non-Muslim. Rasul Shallallhu ‘alaihi Wassallam bersabda:

Barangsiapa yang menyakiti kafir Dzimmi, maka aku berperkara dengannya, dan barangsiapa berperkara denganku, maka aku akan memperkarakannya pada hari kiamat.” (HR. As-Suyuthi, Al-Jâmi’ ash-Shagîr, no. 8270).

Toleransi yang dijalankan Islam ini, menjadi contoh bagi masyarakat peradaban lain. Bahkan toleransi Islam, langgeng terasa hingga era akhir Khilafah Utsmaniyah.

Seorang Orientalis Inggris, TW Arnold berkata: “The treatment of their Christian subjects by the Ottoman emperors -at least for two centuries after their conquest of Greece- exhibits a toleration such as was at that time quite unknown in the rest of Europe…” [Perlakuan terhadap warga Kristen oleh pemerintahan Khilafah Turki Utsmani –selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani– telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa…] (The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, 1896, hal. 134).

Namun, toleransi Islam ini tidak bermakna menerima keyakinan yang bertentangan dengan Islam. Imam asy-Syaukani dalam Tafsir Fath al-Qadîr berkata: Abd ibn Humaid, Ibn al-Mundzir dan Ibn Mardawaih mengeluarkan riwayat dari Ibn ‘Abbas bahwa orang Quraisy pernah meminta kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassallam, “Andai engkau menerima tuhan-tuhan kami, niscaya kami menyembah tuhanmu.” Menjawab itu, Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan firman-Nya, surat al-Kafirun, hingga ayat terakhir: “… Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku.” (QS. al-Kafirun [109]: 6).

Ibn Jarir, Ibn Abi Hatim dan ath-Thabrani juga mengeluarkan riwayat dari Ibn ‘Abbas, bahwa orang Quraisy pernah melobi Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassallam sambil menawarkan tahta, harta dan wanita. Agar Rasul berhenti menyebutkan tuhan-tuhan mereka dengan keburukan. Mereka pun menawarkan diri untuk menyembah Tuhan Muhammad asal berikutnya Rasul gantian menyembah tuhan mereka. Sebagai jawabannya, Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan surat al-Kafirun. (asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, juz 5/685).

Dengan demikian, umat Islam haram terlibat dalam peribadatan terhadap pemeluk agama lain. Umat Islam juga haram merayakan hari raya agama lain, apapun bentuknya, karena termasuk bagian dari aktivitas keagamaan dan identik dengan peribadatan. Wallahu A’lam.*

Penulis adalah eneliti Ukhuwah Islamiyyah Institute – Purwakarta Jawa Barat

 

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !