Jum'at, 12 Februari 2021 / 29 Jumadil Akhir 1442 H

Tsaqafah

Indonesia, Islam dan Kebangkitan

Bagikan:

Oleh: Teuku Zulkhairi, MA

MENGAPA Indonesia masih masih menjadi negara yang terpuruk? Mengapa negara ini menjadi tidak berdaya menghadapi imperialisme asing model baru? Mengapa pula masyarakat Indonesia masih banyak yang berada di garis kemiskinan?

Apakah Islam tidak mengajarkan umatnya konsep menuju kebangkitan, maju dan kuat/mampu mengadapi imperialisme modern? Tentu saja bukan. Keterpurukan dunia Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, justru disebabkan karena masyarakatnya jauh atau lebih tepat dijauhkan dari Islam.

Kita berislam, tapi tidak secara totalitas (kaffah/menyeluruh).  Padahal, Islam adalah petunjuk menuju kebangkitan yang telah dibuktikan oleh para salafussaleh. Sebagai sebuah konsep, Islam adalah sistem yang universal yang mengatur segala aspek tatanan kehidupan umat manusia, baik yang berkenaan dengan akidah, ‘ubudiyah dan akhlak, maupun yang berkaitan dengan muamalah, sosial kemasyarakat, ekonomi, Iptek, pendidikan dan sebagainya.

Memahami konsepsi Islam seperti ini, dan kemudian kita bandingkan dengan realitas keIndonesiaan, sesungguhnya ajaran Islam masih jauh dari ideologi pembangunan Indonesia. Kita bukan saja belum menjadikan Islam sebagai ideologi pembangunan, tapi juga justru terlena dengan sistem lain.

Padahal, jika Barat bisa maju dengan sistem liberalisme, dan negara-negara Komunis bisa maju dengan sistem sosialismenya, maka seharusnya kita memahami bahwa dunia Islam hanya akan maju dengan menjadikan Islam sebagai ideologi pembangunan.

Mungkin, inilah sebab sehingga setelah hampir 69 tahun Indonesia merdeka, kita masih sulit untuk bangkit. Dengan memahami universalitas ajaran Islam, kita akan bisa simpulkan bahwa, jauhnya Indonesia dari kebangkitan bisa disebut efek dari sistem dan konsep pembangunan yang diterapkan di negeri ini, yaitu sekulerisme-liberalisme. Sistem ini tidak cocok dengan Indonesia yang mayoritas Muslim.

Secara tidak langsung, sistem sekuler-liberal ini telah membuka “kran” bagi berjalannya agenda kekuatan kapitalis-korporasi global sehingga umat Islam terus terjajah dalam berbagai bidang kehidupan, politik, social, budaya dan sebagainya. Yang sangat ironis, sistem ini juga sangat berperan dalam menjauhkan umat dari agamanya (Islam) sehingga manusia kehilangan moral, korupsi terus merajalela, pendidikan terpuruk, pengelolaan negara yang jauh dari nilai agama, pelayanan publik yang koruptif, persatuan yang tercabik-cabik, dimana ini disebabkan oleh perilaku Muslim sendiri yang telah jauh atau dijauhkan dari agama. Para pengusung mazhab ideologi sekuler-liberal telah berperan penting dalam menjauhkan Islam dari negara.

Di era imperialisme Barat, sistem sekuler-liberal ini merupakan mazhab warisan negara-negara kapitalisme yang ditinggalkan di negara-negara bekas jajahan mereka.

Tujuannya, agar meskipun mereka tidak lagi menjajah negara-negara Islam secara militer, tapi penjajahan non militer akan bisa terus mereka lanjutkan. Lihat saja contohnya, saat ekonomi kita dijajah oleh korporasi asing, para penganut mazhab sekuler-liberal-lah yang menjadi kaki tangan kepentingan asing/kapitalisme.

Harus kita aku secara jujur, banyaknya alumnus Barat yang pulang ke Indonesia justru dengan membawa sistem ekonomi liberal dan pasar bebas.

Alih-alih memakmurkan Indonesia, justru sekarang yang terjadi adalah ekonomi Indonesia “dikangkangi” oleh korporat asing yang menikmati “kebebasan” ekonomi yang dibawa oleh para sarjana kita. Alhasil, Indonesia pun terus menerus menjadi “sapi perah” yang hasil alamnya terus dikuras oleh kekuatan asing kapitalisme.

Begitu juga, saat budaya dan pendidikan kita kembali dijajah oleh negara-negara kapitalis, para penganut ideologi sekuler-liberal itulah yang tampil sebagai “pahlawan” atas kepentingan negara-negara kapitalisme. Saat Lady Gaga (penari setan) dan Irshad Manji (lesbian) datang ke Indonesia mempopulerkan budaya mereka yang rusak, penganut ideologi sekuler-liberal tampil sebagai pembela, meskipun umat Islam telah menunjukkan sikap resistensi mereka.

Secara historistis, kita tahu bahwa sistem ini lahir di masa Renesainse saat Eropa berjuang untuk keluar dari abad kegelapan. Mereka menemukan paham sekulerisme-liberalisme saat sedang berjuang keluar dari abad kegelapan yang disebabkan oleh dominannya kekuasaan gereja yang ditandai dengan pengekangan terhadap kebebasan berfikir, penindasan hingga tragedi inkuisisi. Akhirnya, paham sekulerisme-liberalisme dianggap cocok bagi bangsa Eropa karena agama mereka dalam sejarahnya telah begitu mengekang kebebasan berfikir.

Menuju kebangkitan Indonesia

Sementara itu, Islam justru menjadi mercusuar dalam lapangan ilmu dan peradaban saat ajaran Islam diterapkan secara kaffah, tidak sekuler.

Dalam sejarah Islam tidak dijumpai tragedi pengekangan kebebasan berfikir. Bahkan Islam justru menekan umatnya untuk berfikir yang dibuktikan dengan banyaknya ayat-ayat yang meminta umat Islam untuk berfikir. Namun demikian, Islam mengarahkan kita, agar kemajuan yang akan (seharusnya) dicapai umat Islam tetap dalam koridor perintah langit, bisa menyeimbangkan dunia dan akhirat, maka tekanan Islam kepada umat Islam berfikir disempurnakan dengan metode yang integratif sehingga umat Islam bisa maju secara duniawi dan tetap selamat dalam pandangan ukhrawi. Kita misalnya diminta untuk berfikir dan menggunakan rasionalitas lewat ayat-ayat misalnya “apakah kalian tidak berfikir?” dan ayat-ayat lain yang secara tersurat dan tersirat menekankan kita untuk berfikir.

Sementara itu, kita juga diminta untuk tetap berpedoman pada teks suci seperti ditegaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi Wassallam: “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya maka kalian tidak akan sesat selama-lamanya, keduanya itu yaitu Al-Quran dan Hadist”. Dan pada saat yang sama, begitu banyak perintah dalam Al-Quran maupun Hadist yang meminta kita untuk menjadi zuhud, qana’ah, rendah hati dan sabar.

Kita diminta untuk menggunakan rasionalitas secara sempurna agar mampu mengelola dunia secara baik sebagai realisasi atas fungsi kekhalifahan kita di dunia. Dan pada saat yang bersamaan, agar kita tidak menjadi bablas dan peragu, kita juga diminta untuk tidak menyepelekan teks-teks suci karena memang teks suci diturunkan untuk membimbing kita.

Bahkan  agar kita terhindar dari terlalu cinta pada kemewahan duniawi, kita pun bisa mengamalkan ajaran tasawuf yang benar, sebagaimana ditekankan oleh Imam Al-Ghazali.  Dalam konteks kekinian, amalan tasawuf boleh jadi solusi membentengi arus budaya korupsi yang menghancurkan Indonesia.

Begitu banyak ayat-ayat yang mengarahkan kita untuk mengintegrasikan ketiga metodologi ini dalam rangka kita menuju kebangkitan. Integrasi ketiga metode ini yang telah membawa kejayaan Islam dalam sejarah emasnya seperti di era Abbasiah, Turki Usmani, Andalusia dan seterusnya dimana saat itu dunia Islam menjadi kiblat ilmu pengetahuan bagi bangsa Barat. Islam adalah sistem yang sempurna, solusi menuju kebangkitan Indonesia. Maka tidak heran ketika Allah Shallallahu ‘alaihi Wassallam berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 3, “Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu, dan telah kucukupkan nikmatku bagimu, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu”. Wallahu a’lam bishshawab.*

Tim Peneliti pada Litbang Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA). Alumnus Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Kisah Gerakan Liberalisme Denny JA dan “Yahudi Tengik”

Kisah Gerakan Liberalisme Denny JA dan “Yahudi Tengik”

Catatan Kritis untuk Buku 40 Masalah Syi’ah (1)

Catatan Kritis untuk Buku 40 Masalah Syi’ah (1)

Puasa Ramadhan Saat Pandemi atau Di Luar Ramadhan yang Bebas Pendemi?

Puasa Ramadhan Saat Pandemi atau Di Luar Ramadhan yang Bebas Pendemi?

Mengapa Konsepsi Ketuhanan secara Kebudayaan dan Ekasila harus Ditolak?

Mengapa Konsepsi Ketuhanan secara Kebudayaan dan Ekasila harus Ditolak?

Diabolisme Intelektual

Diabolisme Intelektual

Baca Juga

Berita Lainnya