Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tsaqafah

Syariat Islam di tengah Kedengkian Propaganda Barat

Ilustrasi
Bagikan:

Oleh: Abdul Hamid M Jamil

WACANA penerapan syariat Islam masih menjadi isu sensitive di Indonesia. Sebagaikan kalangan penolak syariat atau hokum Islam menganggap (bahkan mendengar istilahnya saja) sebagai sesuatu yang “menakutkan”.

Ada baiknya  kita melihat beberapa kitab karya ulama Islam; Syari’ah Wal Hayah karya Imam Yusuf al-Qarzawi, Tarikh Tasyrik Islami karya Dr Risyad Hasan Khalil dan lain-lain. Dalam kitab tersebut dijelaskan proses penerapan hukum dalam Islam dilakukan dengan cara tadarruj (elastis) bukan dengan kekerasan (anarkis).

Di antara hukum yang diterapkan Islam dengan  cara tadarruj adalah proses pengharaman khamr, diwajibkan zakat, difardukan shalat dan lain sebagainya. Lalu kenapa hukum tersebut bisa kokoh, padahal diaplikasikan dengan cara lemah lembut. Ini bukan satu hal yang aneh, karena  asas (undang-undang) agama Islam sangat lembut, yaitu Ria’yah Mashalihun Nas Jamian (menjamin kemaslahatan bagi seluruh umat manusia) dan Adamul Haraj Waqillatut Takalif (tidak keras dan sangat sedikit hukum yang dibebankan).

Dalam kontek Riayah Maslahah (tujuan hukum) ini Islam tidak hanya menjamin kemaslahatan ummat Islam semata, tapi orang kafir yang berdomisili di negeri Muslim pun dijamin kemaslahatannya.

Seperti kafir zimmi, mereka tetap hidup dengan aman dan diberikan hak-haknya menurut perspektif Islam.  Kemudian dalam Islam dianjurkan untuk saling tolong-menolong dalam hal kebaikan dan mencegah dalam keburukan. Hal seperti ini juga dianjurkan bagi Muslim dan kafir.

Begitu juga dengan asas yang kedua Adamul Haraj Waqillatut Takalif, agama Islam tidak pernah memaksa penganutnya untuk mengerjakan hal-hal di luar batas kemampuannya. Hal ini sangat konsisten dengan firman Allah surat (al-Baqarah ayat :286).

Hatta dalam Islam dibolehkan qasar dan jamak shalat bagi musafir, boleh duduk dalam mendirikan shalat bagi orang yang lemah, boleh tayamum ketika tidak diperdapatkan air ataupun saat berada di negeri yang dingin. Ini adalah satu lambang keluarnya Islam dalam kontek anarkis dalam menerap asa-asasnya.

Hukum yang dibebankan kepada penganutnya pun sangat sedikit. Islam mewajibkan shalat kepada pemeluknya hanya lima jam dalam sehari, diwajibkan zakat hanya sedikit dari harta yang harus dikeluarkan. Diwajibkan puasa itu pun sebulan dalam setahun, di wajibkan haji itu pun sekali seumur hidup dan bagi orang yang mampu, dan lain sebagianya.

Jadi, di mana tuduhan orang non-Muslim yang mengatakan Islam itu anarkis? Apa buktinya Islam menerapkan hukum dengan kekerasan? Semua itu adalah propoganda mereka semata untuk membuat nilai estetika Islam runtuh, membuat Islam malu di mata dunia.

Hegemoni dan Propaganda Barat

Dalam surat al-Baqarah ayat :120 merupakan bukti besar kedengkian orang non-Muslim terhadap Islam. Sehingga rasa dengki ini sudah dijadikan harta warisan bagi anak cucu mereka. Sejak kecil anak-anak mereka sudah dididik tata cara membenci Islam.

Maka tak heran bila hari-hari mereka banyak dihabiskan  membuat Islam malu dan terluka. Karena intinya mereka tidak pernah rela sebelum ummat Islam mentolerir jejak mereka. Lalu mereka menciptakan berbagai macam tuduhan propaganda untuk membuat Islam terbelakang di mata dunia.

Seperti tuduhan Teroris, istilah ini muncul pasca meletusnya gedung WTC pada tanggal 11 september 2001. Dimana Islam identik dengan sebutan pengacau (teroris). Padahal dilihat dari kenyataannya mereka sepatutnya yang lebih utama disebut dengan pengacau. Kenapa tidak, sebagian besar kejadian dan kerusakan di atas bumi terindikasi dari tangan orang non-Muslim.

Peristiwa yang sedang terjadi di Gaza juga bisa dijadikan sebagai bukti besar bahwa mereka bersikap anarkis. Di mana mereka mencuri bumi Palestina dengan alasan Quil Sulaiman dekat Masjid al-Aqsa milik Nabi mereka. Lalu mereka mendirikan negaranya di atas bumi warisan Islam di Palestina. Tidak hanya di tempat sini, mereka juga membunuh jutaan warga Palestina yang kebayakannya anak-anak. Membuat warga Palestin merana dan menderita berkepanjangan.

Tidakkah ini bertentangan dengan HAM yang ditetapkan PBB dari hasil suntikan orang non-Muslim juga. Mengapa jika orang Islam menginginkan hokum Islam selalu diarahkan pelanggaran HAM. Sementara ketika mereka menghilangkan nyawa warga Muslim Palestina tidak ada yang menganggap sebagai pelanggaran HAM? Apakah istilah HAM hanya khusus untuk orang Islam saja?

Inilah sebuah propaganda. Kaum Barat mempropagandakan nilai-nilai buruk terhadap Islam melalui banyak cara, termasuk peluncuran film. Sebut film “Innoncence of Muslim”, “Actvalor72.Ganool” dan film-film lainnya. Dalam film Innoncence of Muslim mereka menggambarkan sosok Muhammad itu seorang yang haus seks, pemabuk, dan pemborontak (teroris). Tuduhan ini sangat kontradiksi dengan apa yang tertuang di dalam kitab “Tsirah an Nabawiyah”, yang menggambarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam sosok leluhur pemaaf, lembut, dan tidak kejam seperti tuduhan mereka.

Bahkan Michael Hart menempatkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam pada barisan nomor satu sebagai orang berpengaruh di dunia.

Oleh karena itu, sungguh tidak adil cara Barat mengarahkan Islam selalu pada sebutan dan istilah kejam lainnya. Karena pada dasarnya Islam telah menciptakan kehidupan baru yang lebih bermartabat bagi ummat manusia. Di mana bangsa Arab yang dahulu dikenal dengan jahiliah’, hidup bagaikan binatang yang ada di hutan belantara, membunuh wanita, saling menindas, dan tidak punya undang-undang kehidupan sudah berubah menjadi umat yang mulia dengan kedatangan Islam.

Saya himbaukan kepada orang kalangan non-Muslim kalau tidak bisa membalas jasa orang Islam, setidaknya berterimaksih buat Islam, tidak perlu mencari sensasi apalagi membuat konfrontasi.

Ukhuwah dan persatuan

Di sisi lain, di saat umat Islam masih terus menjadi obyek Barat, sebaiknya kalangan Muslim juga diasarankan tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu, fitnah, apalagi fitnah bernama media. Karena hal inilah yang sering membuat kita menjadi bodoh dan innoncence di mana ini bisa menjadi pintu masuknya orang lain mengkerdilkan agama kita.

Bagi pemerintah (penguasa, khususnya), kita harapkan bisa meningkatkan rasa pedulinya terhadap remaja, pemuda dalam upaya mercerdaskan mereka di bidang agama. Karena masa depan Islam tergantung pada modal mereka hari ini.

Begitu juga bagi orangtua, ajarkan nilai-nilai Islam kepada anak-anaknya. Tidak cukup dengan bermodalkan si anak bisa baca al-Quran saja, tapi perkenalkan Islam lebih dalam kepada mereka. Ajarkan anak-anak kita cara memilih informasi dan wawadan bermedia. Setidaknya pilihkan media-media yang islami, yang menyebarkan nilai-nilai Islam baik lewat jejaring Facebook, Twinter dan lain-lain. Jangan sampai mereka mengunakan media dalam murka Allah Subhanahu Wata’ala. Semoga kita semakin menjadi umat yang dewasa, kuat dan tidak musah diadu-domba media dan pihak-pihak yang selalu ingin melemahkan Islam.*/Abdul Hamid M Jamil, mahasiswa Universitas al-Azhar-Kairo, alumni Dayah Salafiah Ummul Ayman Samalanga-Aceh

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Menag Minta Masalah Gereja Bekasi Diselesaikan Tanpa Kekerasan

Menag Minta Masalah Gereja Bekasi Diselesaikan Tanpa Kekerasan

Pendidikan Karakter Menurut Kitab Ta’lim al-Muta’allim

Pendidikan Karakter Menurut Kitab Ta’lim al-Muta’allim

Penanggalan Hijriyah dan Identitas Ummat

Penanggalan Hijriyah dan Identitas Ummat

Kedudukan Ilmu Dalam Islam

Kedudukan Ilmu Dalam Islam

Dinamika Studi Islam di Indonesia

Dinamika Studi Islam di Indonesia

Baca Juga

Berita Lainnya