Jum'at, 26 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Tsaqafah

Untuk HAM, Menghujat Islam! (1)

Bagikan:

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

SAYA tidak mengira bahwa artikel “Ahmadiyah Dibela, Islam Dihujat” di www.hidayatullah.com, 21 Perbruari 2011, mendapat tanggalan serius dari Saudara Saipul Mujani, lewat tulisannya “Ahmadi Juga Manusia” di Koran Tempo, 24 Pebruari 2011.

Dalam tulisannya tersebut, ada satu poin penting yang perlu dicatat, yaitu: Saipul mengakui bahwa Ahmadiyah “sesat”. Satu pengakuan yang gentle, lebih maju, dan biasanya jarang ini dilakukan seorang Muslim-Pluralis-Relativis di Indonesia.

Namun demikian, ada satu hal penting yang harus diluruskan dari tulisan Mujani di atas, yaitu: masalah HAM. Lewat pintu HAM ini dia mencoba mengungkapkan “keberatannya” atas kekerasan – jika ini valid dan benar terjadi – atas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Pandeglang beberapa waktu silam.

Untuk itu, dalam masalah ini, penulis perlu memberi tanggapan. Agar tidak memberatkan, tulisan dibagi menjadi dua. Bisa dibaca di tulisan PERTAMA dan KEDUA. Berikut tanggapan saya:

Pertama, seputar ketakutan dan kekhawatiran Saipul Mujani mengenai Ahmadiyah. Hal ini dapat dipahahmi lewat pengalihan wacana yang digulirkannya. Di mana dia sangat “tidak setuju” dengan aksi pembunuhan yang menimpa JAI. Padahal, siapapun akan sepakat dengan pandangan Mujani ini. Siapapun orang, dari agama apapun, pasti tak menyetujui pembunuhan tanpa alasan. Selain bukan pendapat “baru”, juga merupakan satu hal yang mendasar dalam Islam. Karena Islam “mengharamkan” membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah – untuk dibunuh – kecuali dengan cara yang baik (la taqtulu al-nafsa’l-lati harrama Allahu illa bi’l-haqq, Qs. 17: 33).

Bukan hanya itu, Allah pun menjelaskan bagaimana berharganya “jiwa manusia” itu – terlepas apa agama, bangsa, etnis, suku, maupun warna kulitnya. Dalam hal ini, Allah menyatakan dengan sangat tegas:

“Oleh karena itu, kami tegaskan kepada Bani Israel bahwa ‘siapa saja yang membunuh satu jiwa’, seolah-olah telah membunuh manusia seluruhnya. Dan, siapa saja yang ‘memberi hidup’ kepada seorang jiwa manusia, seakan-akan telah memberi hidup kepada seluruh manusia.” (Qs. 17: 32). Bahkan dalam Islam – seperti dalam buku-buku Ushul al-Fiqh – salah satu yang menjadi dasar al-kulliyyat al-khams dalam Maqashid al-Syari`ah adalah: hifzh al-nafs (menjaga/memelihara jiwa). Intinya, pandangan Mujani ini bukan hal baru dalam Islam.

Namun yang menjadi problem dalam pandangan Mujani adalah: dia tidak menelisik lebih jauh dan mendalam tentang preseden terjadinya pembunuhan terhadap Ahmadiyah. Untuk itu, perlu dijawab beberapa pertanyaan ini: Apakah benar JAI menjadi sasaran serangan orang-orang Islam di Cikeusik, Pandeglang, Banten? Atau kah biang keladi dari kerusuhan tersebut justru JAI sendiri? Ini yang tidak terjawab dalam tulisan Saipul Mujani.

Padahal, faktanya, Ahmadiyah lah yang memulai ‘bermain api’ dalam kejadian di Banten itu.
Oleh karena itu, pembunuhan terhadap anggota JAI tidak bisa dinisbatkan kepada kaum Muslimin secara sembrono. Karena logikanya bisa dibalik begini: “Bagaimana sekiranya dalam insiden Cikeusik itu yang terbunuh adalah dari kalangan umat Islam?’ Apa kata media? Apa kata HAM-Barat? Apa kata para pembela Ahmadiyah? Pertanyaan-pertanyaan ini sejatinya harus dijawab dengan hikmah, jujur dan adil oleh siapapun yang sungguh-sungguh mencari kebenaran, termasuk pada Mujani.

Kedua, seputar penghargaan terhadap manusia. Menurut Mujani, ini relatif baru, baik dalam sejarah umat Islam maupun Barat. Seolah-olah konsep penghargaan terhadap manusia ini tidak inheren dalam ajaran Islam. Karena dia menyelisik lewat sejarah umat Islam, yang menurutnya tidak lepas dari aksi berdarah-darah. Apakah aksi berdarah-darah dalam sejarah umat manusia berhubungan dengan keyakinin (agama) atau politik? Ini yang tidak ditelaah lebih jauh oleh Mujani dalam tulisannya. Padahal, semua aksi pembunuhan yang ada dalam Islam tidak bisa dikaitkan dengan agama Islam (al-din al-islami), melainkan oleh para penguasa akibat tidak mengaitkan politik dengan agama. Sehingga, ruh manusiawi dari politik itu hilang. Dalam ayat yang penulis kemukakan di atas sangat jelas sikap Islam Bahkan, Allah tidak pernah membeda-bedakan agama, etnik, bangsa, dll, dalam memuliakan manusia. (Qs. 17: 70).

Ketiga, seputar perbedaan aqidah. Berkaitan dengan ini, Mujani menulis sebagai berikut:
“Tidak jadi persoalan bagi saya kalau Qosim berkeyakinan bahwa akidah atau paham Islamnya paling benar dan yang selain itu sesat, sejauh keyakinan itu tidak dipaksakan kepada orang lain lewat negara sedemikian rupa, sehingga paham yang selainnya harus dimusnahkan dari negeri ini seperti yang dialami Ahmadiyah yang tak boleh mendakwahkan keyakinannya. Seperti halnya paham Mu’tazilah tentang barunya al-Quran, dan sebaliknya paham Asy’ariah tentang qadim-nya al-Quran, tidak menjadi masalah kalau saja Mu’tazilah tidak memaksakan pahamnya lewat kekuasaan khalifah Al-Makmun–sehingga muncul kebijakan negara yang mengkafirkan dan melarang mereka yang menolak paham tersebut. Dan sebaliknya, ketika khalifah Mutawakil berkuasa dan menganut paham Asy’ariah, paham Mu’tazilah juga dilarang.”

Masalahnya bukan menganggap Islam kita atau orang lain paling benar atau tidak. Tapi masalahnya adalah: apa benar Ahmadiyah itu ajarannya sesuai dengan Islam atau tidak? Jika tidak, berarti dia di luar Islam.TITIK.

Apakah ada ajaran bahwa yang berbeda harus dimusnahkan? saya kira ini masalah yang harus diselesaikan. Bukankah umat Islam hanya menuntut satu dari dua kemungkinan yang bisa diambil oleh JAI: mereka menjadi agama baru – dan itu bukan Islam – atau dibubarkan – jika masih menganggap agama mereka Islam. Karena selama JAI menganggap agamanya “Islam”, selama itu pula umat Islam tidak akan pernah ridha dengan penodaan ini. Di situ pasti akan terjadi gesekan.

Masalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah dan al-Mu`tazilah mengenai khalq al-Qur’an, saya sudah membahasnya panjang lebar dalam tulisan saya terdahulu – Saudara Saipul Mujani bisa menelaah kembali. Intinya: argumentasi apapun yang menyatakan bahwa masalah khalq al-Qur’an masalah aqidah biasa, adalah “keliru”. Karena dasarnya bukan dari Islam, melainkan pengaruh Yahudi dan Kristen. Bagaimana mungkin unsur asing (dakhil) dalam aqidah agama lain bisa mengacak-ngacak keyakinan kita sebagai Muslim? Apakah ini tidak keblinger?

Selain itu, argumentasi kaum al-Mu`tazilah pun dalam masalah khalq al-Qur’an tidak-lah kuat, bahkan cenderung keluar dari teks al-Qur’an yang qat’i ketika menjelaskan bahwa al-Qur’an itu “makhluq”, bukan “qadim”. (Lebih detil, lihat Dr. `Awwad ibn `Abd Allah al-Mu`tiq, al-Mu`tazilah wa Ushuluhum al-Khamsah wa Mawqif Ahl al-Sunnah Minha (Riyad: Maktabah al-Rasyid, 1421 H/2001 M, hlm. 116-126).*/bersambung pada tulisan KEDUA

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Buya Hamka

Hamka Ditanya Makna Esa dan Orang Komunis Rajin Shalat, Ini Jawabanya

Masih Perlukah Sekolah?

Masih Perlukah Sekolah?

Pengalaman Ketertindasan dan Anopsia Nalar Gender

Pengalaman Ketertindasan dan Anopsia Nalar Gender

Kritik terhadap Metode Studi Al-Qur’an Liberal

Kritik terhadap Metode Studi Al-Qur’an Liberal

FPI Renovasi Rumah Janda Non-Muslim di Sumut

FPI Renovasi Rumah Janda Non-Muslim di Sumut

Baca Juga

Berita Lainnya