Antara “Dialog Antaragama” dan Dakwah Islam

“Dialog Antaragama” adalah sebuah sajian intelektual yang nampaknya terasa lezat namun menyesatkan tanpa sadarOleh: Ahmad Dimyati*

Terkait

www.hidayatullah.com–Dialog Antaragama sudah menjadi tren masa kini. Tren ini membawa problem serius di tengah-tengah umat, tidak saja pada dataran praktisnya, tapi juga membawa problem-problem teologis. Akan tetapi sayangnya, yang tampak indah dan menggiurkan itu ternyata telah prioritas lebih bagi banyak kalangan untuk menggalakkannya, bukan hanya karena ia ber-funding besar tapi juga karena keeolokan wacana yang membangunnya. Akhirnya yang tertangkap dalam kognisi umat bukan lagi agenda-agenda yang sejak berpuluh tahun dirancang oleh Vatikan itu, tapi lebih merupakan keelokannya sehingga tampak positifnya saja dan cenderung menafikan negatifnya.

Tulisan ini tidak akan membahas ‘Kuda Troy’ untuk yang kedua kalinya –karena sudah dibahas sebelumnya pada diskusi INSISTS Malaysia, 8 November 2009 lalu. Namun demikan, tulisan ini akan mengintip sekali lagi kata dialogue itu sendiri dan apa bedanya dengan ketika ia menjadi frase, Interfaith atau Interreligious Dialogue beserta implikasi-implikasinya secara singkat. Dan apabila suatu tren yang tengah berlaku ini sudah melibatkan sayap-sayap umat Islam di dunia, bagaimana posisi seorang Muslim dan bagaimana ia bersikap menghadapi tren ini? Pertanyaan kedua ini akan sedikit memberi bedahan pada bagian akhir dari tulisan ini.

Dialog, kristenisasi, dan deislamsasi

Jika kata dialog hanya merupakan kosakata biasa, belum menjadi frase, maka maknanya dalam beberapa kamus kurang lebihnya adalah, “a formal discussion between two groups or countries, especially when they are trying to solve a problem, end a dispute”. Ia merupakan kata dari Yunani dialogos, dari dialegesthai yang bermakna ‘berlawanan dengan’ (converse with). Makna ini bisa dimaklumi bahwa ketika ingin berdialog atau mengkomunikasikan sesuatu mestilah ada obyek sebagai lawan dari subyek, mesti juga ada bahan yang akan disampaikan yang kerapkali memang berupa hal yang tidak disepakati oleh penerima. Dan harapannya, sebagai penerima akan menerima dengan sepenuh hati isi dari dialog, di mana di sana juga ada kesepakatan-kesepakatan bersama tentang suatu persoalan yang diputuskan, sebagaimana terdapat pada makna di atas.

Kata ini sepertinya biasa-biasa saja, karena dialog dengan makna ini bisa berlaku dalam semua aspek kehidupan dan oleh karena itu sepertinya lebih netral. Namun, akan menjadi tidak biasa lagi ketika sudah menjadi istilah baku seperti Interfaith atau Interrligiuos Dialogue, di mana dialog ini disatukan dalam frase berbau teologis, yang mendialogkan agama, ideologi, dan segala jenis keyakinan, satu ke yang lainnya. Maka tidak bisa dielakkan lagi muatan-muatan dan nilai-nilai mapan yang terkandung di dalamnya yang turut memproyeksikan agenda-agendanya. Muatan-muatan dan nilai-nilai mapan tersebut sudah didiskusikan pada diskusi INSISTS sebelumnya oleh Dr Syamsuddin Arif yang menyimpulkan bahwa itu merupakan kado Vatikan untuk umat beragama.

Walau bagaimanapun, ada saja yang mengatakan bahwa “Dialog Antaragama” itu sah-sah saja. Bahkan menurut mereka, ini ada dasarnya dalam Al-Quran dan Hadis dan dilaksanakan oleh para ulama terdahulu. Mungkin bagi mereka yang kurang paham agenda di balik Dialog Antaragama yang dicanangkan Vatikan ini akan terkesima dan berterima kasih dengan program-program yang dibuat. Sekedar memahaminya dari sisi kata dialog sebagai yang biasa-biasa saja, mungkin itu menjadikan beberapa pihak kepincut dengan dialog ini. Ajakan untuk menikmati sajian-sajian intelektual di dalamnya nampaknya terasa lezat, namun mengelirukan secara tidak sadar. Perombakan konsep-konsep yang baku dalam Islam mau tidak mau harus sedikit demi sedikit diterima. Maka tidak heran kalau dari dialog ini tidak pernah membincangkan perbedaan, tapi yang mereka cari dan mereka inginkan adalah persamaan, termasuk persamaan teologis dengan berbagai pirantinya.

Prof Dr Wan Mohd Nor Daud, dalam seminar menyongsong satu abad Muhammadiyah, di Universiti Islam Antarbangsa, Malaysia, baru-baru ini (12/12), mengingatkan organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia ini agar sebaiknya jangan bersedap rasa dengan janji-janji pemuka agama Kristen dalam Dialog Interfaith, bahwa mereka sudah tidak lagi meneruskan aksi Kristenisasi, sebagaimana hal itu diperdengarkan oleh salah satu Pengurus Pusat Muhammadiyah waktu itu, yang pernah mendapat undangan menghadiri dialog semacam interfaith ini. Prof Wan menekankan bahwa yang perlu diketahui adalah aksi ‘deislamisasi’ yang telah berlaku dan akan terus berlaku di kalangan umat ini yang merupakan tren terakhir dan terbaru yang memancarkan satu epistemic value tertentu.

Sebagai strategi, mungkin kristenisasi tidak secara terang-terangan lagi dilancarkan, walaupun hal itu akan terus berlanjut. Sebab “kristenisasi” adalah watak agama Kristen itu sendiri, yang apabila watak ini hilang, maka agama Kristen itu bukan lagi Kristen. Sebab dengan begitu sudah tidak ada kekristenan di dalamnya. Ibaratnya, walaupun macan sudah mengaku tidak lagi memakan kambing, ayam atau rusa, dll, tapi sebenarnya wataknya tetap seperti semula, tidak akan berubah. Harimau kebun binatang mungkin dia jinak karena semenjak kecil dia sudah terbiasa hidup dan diperlakukan secara baik oleh manusia. Namun bukan berarti itu akan menghilangkan sifatnya sebagai binatang buas. Suatu saat, naluri dasarnya pasti akan tetap muncul sebagai binatang buas.

Termasuklah soal Interfaith Dialogue. Meski agama-agama tertentu mengaku tidak lagi melancarkan usaha kristenisasi, namun sejatinya ia tetap akan berlaku, termasuk melancarkan deislamisasi.

Deislamisasi bermaksud merobohkan keislaman dari diri umat Islam dengan berbagai cara. Dengan deislamisasi, mereka pasti tidak secara langsung mengajak orang kepada kekristenan. Yang pasti mengajak kepada bagaimana memahami Islam tidak seperti hakekatnya Islam dipahami dalam Islam. Mereka menginginkan Islam dipahami sebagaimana yang mereka pahami. Inilah barangkali yang dirancang secara berkala oleh para penjajah Barat dahulu, yang tidak saja membawa misi 3 G; gold, glory and gosple. Tiga misi penjajahan ini sangat umum dalam sejarah nasional kita di Indonesia, tapi hanya sekedar pengetahuan tanpa dipahamkan bahwa sebenarnya ekoranya terus berlanjut hingga kini. Dari ketiga misi itu Barat menginginkan superioritas di atas lainnya dalam semua bidang, termasuk di sisi ideologi dan keyakinan.

Gospel hanya satu kata kunci yang ingin menggiring umat jajahannya mengikuti misi mereka, dengan berbagai caranya. Tidak berhasil secara langsung, maka mereka akan memaksa secara tidak langsung. Kalau bagi umat Islam, salah satu caranya dengan menjauhkan pemahaman keislaman yang hakiki dari mereka dan menggantikan yang sebaliknya.

Dalam sejarah kolonialisme dan orientalisme, ini tidaklah suatu hal yang asing. Sebab di Indonesia, para kolonial dahulu sudah mengupayakan terciptanya kelompok “pro” mereka dari kalangan umat Islam itu sendiri, dan itu dilakukan dan dirancang sesistematis mungkin. Yang pro mereka ini maksudnya adalah mereka yang berpandangan sama seperti yang mereka inginkan. Merekalah nantinya yang akan aktif membendung aspirasi Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Setelah itu terwujud, maka para kolonialis dan orientalis tidak perlu capek-capek mempropagandakan program-programnya, karena yang menjalankan sudah dari kalangan umat Islam sendiri. Itulah juga yang terjadi pada Dialog Antaragama. Yang menganjurkan dialog ini bukan lagi dari mereka, tapi dari kalangan orang Islam sendiri kini.

Dakwah Islam Anti-Dialog?

Sepertinya, mendialogkan agama yang dipancarkan dari Dialog Antaragama (Interfaith Dialogue) ini jauh berbeda dari yang dikonsepsikan Dakwah Islam. Sebab, jika Dialog Antaragama selalu sibuk mencari kesepakatan-kesepakatan antaragama, yang tidak hanya di dataran yang simple-simple seperti toleransi, hubungan baik, saling menghargai, dll., tapi hingga yang berkaitan dengan teologis, seperti cara beribadah, konsep-konsep agama yang mapan, dan lain sebagainya, yang perlu diturunkan kadarnya, bahkan diganti konsepnya. Maka dakwah Islam seharusnya menyeru kepada sebaliknya. Artinya, dakwah Islam mengajak umat manusia kepada jalan Allah, beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul dengan membenarkan segala berita yang dibawa, patuh dan tunduk dengan segala perintah Allah Swt dan meninggalkan segala larangannya, mengakui Islam sebagai agama terakhir, syumul dan lengkap, dengan pengertian yang sudah mapan.

Jelas dengan seruan dakwah seperti itu menafikan pendekonstruksian konsep-konsep keislaman, penafian pengakuan kebenaran agama di luar Islam, dan jelas pula Islam menolak mencampuradukkan keyakinan. Walaupun begitu, bukan berarti Islam antidialog, karena Islam dalam menjalankan dakwahnya memerlukan dialog dengan semua pihak. Maka di sinilah letak persoalannya. Apakah kita mau mendialogkan agama versi Dialog Antaragama atau kita mau mendakwahkan agama versi Dakwah Islam? Sayangnya, Dialog Antaragama sudah kadung berjalan dan menjalar ke mana-mana.

Wan Suhaimi Wan Abdullah, Associate Professor di Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, dalam bukunya “Konsep Asas Islam dan Hubungan Antaraagama”, menggambarkan konsep dasar Islam dan hubungannya dengan non-Muslim dalam isu Dialog Antaragama, apabila dialog versi ‘Kuda Troy’ Vatikan ini betul-betul terjadi, maka menurutnya umat Islam boleh mengambil pelajaran sekurang-kurangnya dari tiga ayat yang ia ambil sebagai asas kepada menyikapi isu ini. Yakni surat al-Baqarah, 2: 256, surat Ali Imran, 3: 19, dan surat al-Nahl, 16: 125. Dari tiga ayat itu, berdasarkan pandangan mufassir mu’tabar seperti Ibn Kathir, al-Qurthubi, Jalalain, yang dia ulas, maka Wan Suhaimi membentangkan beberapa hasil analisisnya seperti di bawah ini.

Pertama, tidak ada paksaan untuk memeluk Islam. Sebab paksaan itu bertentangan dengan sifat dan tabiat Islam yang menuntut umatnya menganuti dan menghayati Islam berdasarkan kefahaman dan keyakinan. Iman yang tidak didasarkan pada keyakinan yang mantap akan dipertanyakan kualitasnya, bahkan lebih dari itu, jika taklid semata-mata, maka akan dipersoalkan kesahihannya. Di samping itu, Islam itu sudah jelas kebenarannya. Hanya orang yang jahil saja yang tidak mengerti dan tidak menangkapnya. Tiada agama atau ideologi yang mempunyai suatu sistem yang lengkap dalam berbagai aspek kehidupan selain agama Islam. Oleh karena itu, tugas umat Islam sebagai rijal al-da’wah adalah menyampaikan kebenaran itu. Persoalan orang lain mau beriman atau tidak adalah persoalan hidayat, yang mana ketentuannya bukan di tangan manusia, melainkan di tangan Allah Swt.

Kedua, kehidupan manusia pada umumnya bisa dikaitkan dengan dua pilihan; memilih jalan yang sesat dan merugikan (taghut) atau jalan iman yang penuh keselamatan (Islam), dan tidak ada yang ketiga. Dalam masa yang bersamaan, apabila ingin selamat, maka dua hal, yakni mengingkari taghut sekaligus menerima tauhid, yang harus dilakukan seseorang untuk memperoleh nikmat dengan sebutan berpegang pada tali yang teguh (al-`urwah al-wuthqa), [al-Baqarah, 2: 256].

Ketiga, Islam adalah satu-satunya agama yang diterima oleh Allah Swt. Iman yang benar adalah iman yang menegaskan bahwa hanya Islam yang diterima oleh Allah Swt, (Ali Imran, 3: 85). Islam yang merangkumi I’tiqad dan amalan adalah satu-satunya ‘urwat al-wuthqa yang menyelamatkan. Konsep teologis yang dipancarkan tauhid adalah sebaik-baik konsep. Ia tidak sama dengan konsep agama, ideologi, dan cara pandang manapun di luar Islam.

Keempat, sikap manusia-lah sebenarnya faktor perselisihan di antara mereka. Kebenaran Islam sudah ditegaskan dengan jelas; jelas akidahnya, lengkap syariatnya, dengan sistem nilai dan sejarahnya yang berwibawa. Fakta berkaitan dengan Islam, ajaran dan kebenarannya bisa didapatkan dari berbagai sumber di mana pun dan dalam bahasa apapun dengan mudah.

Kelima, dakwah atau “dialog” yang berwibawa itu adalah berusaha menyampaikan kebenaran Islam sesuai dengan kondisi obyek dakwahnya. Oleh karenanya, hikmah, mau`izah hasanah ataupun jadal yang baik perlu dilakukan sebagai pendekatan yang relevan untuk diterapkan. Sekiranya mereka ikhlas untuk faham dan jika mendapat hidayat, mereka pasti akan beriman. Namun jika mereka hanya sekadar faham, tetapi tidak mendapat hidayat, mereka sekurang-kurangnya mampu untuk hidup bersama umat Islam secara harmoni. Oleh karena itu, usaha menyampaikan Islam ini bukan suatu yang mudah dilaksanakan. Pengetahuan keislaman yang dimiliki oleh seseorang penyampai dan cara pendekatan penyampaiannya sangat penting demi menyukseskan dakwahnya.

Kemudian, dari hasil analisis tafsir itu disimpulkan bahwa bagi umat Islam harus yakin, Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan satu-satunya agama yang diterima berdasarkan ketetapan Al-Quran. Namun demikian, ‘tidak ada paksaan dalam agama’ dengan maksud bahwa umat Islam tidak boleh memaksa orang lain menerima Islam. Islam hanya perlu disampaikan dan diajarkan, bukan untuk dipaksakan penerimaannya. Oleh karenanya, menyeru kepada Islam hendaknya dilakukan dengan pendekatan hikmah, mau`izah hasanah dan jadal yang baik. Ini menggambarkan bahwa kewajiban ‘menyampaikan’ dibarengi dengan upaya dan memastikan pemahaman, hakikat, imej dan pelaksanaan Islam yang dapat ditampilkan dalam bentuk yang terbaik, sebagai contoh kepada umat yang lain, sebab itulah sebenarnya yang dituntut oleh ajaran asas Islam yang dipahami dari tiga ayat di atas.

Dari itu, bagi non-Islam, apabila mereka merasa Islam tidak benar, sehingga perlu mendakwai umat Islam dengan ajaran mereka, maka mereka perlu buktikan apa yang tidak benar dari Islam ini. Apabila gagal, maka sebaiknya mereka perlu menghormati walaupun tidak mau menganutinya. Karena Islam tidak memperbolehkan umatnya memaksa pemahaman kepada orang lain, maka janganlah mereka juga memaksa umat Islam dengan merendahkan kedudukan, menurunkan kadar agama, dan praktik ibadah mereka, walaupun atas nama pluralisme, liberalisme, kesatuan agama atau sebagainya. Mereka juga hendaklah membedakan di antara “Islam” dan “umat Islam”. Islam merupakan agama yang sudah final dan sempurna. Apabila ada pemeluk Islam yang berbuat kejahatan, amoral, ekstremis, dan lain sebagainya, maka itu adalah perbuatan umatnya yang bukan berarti mengurangi kesempurnaan Islam itu sendiri.

Bagi kedua-dua pihak (Islam dan non-Islam), bahwa hendaknya berbincang secara aman, adil, objektif dan beretika serta menghargai faham masing-masing tentang agama; tentang Tuhan, praktik keagamaan, kehidupan dan pengalaman keagamaan; menerima dan menghargai hujah yang dicapai; masing-masing melihat sesama umatnya atau umat yang lain sebagai ‘pencari kebenaran’ yang perlukan bimbingan apabila salah, tentunya dengan cara yang bijak.

Dari uraian singkat di atas bisa ditegaskan bahwa sepertinya memang Dialog Antaragama tidak perlu diambil penting oleh orang Islam, sebab dialog itu kebanyakannya merugikan umat Islam. Sementara itu, apabila orang Islam yang sengaja atau tidak sengaja hadir dalam acara ini hendaknya memantapkan jati dairinya, izzah Islam, tidak bisa begitu saja ditukarkan atau disamakan dengan yang lain. Karena izzahnya itu, maka ia juga seharusnya mempunyai jati diri itu, sebagai posisi mantap dan berwibawa di depan umat manusia untuk selalu mendakawahkan agamanya, menyeru kepada jalan Allah Swt. Jadi, posisinya tetap sebagai seorang da’i yang menganjur dakwah Islam, bukan penganjur Dialog Antaragama.

Oleh karena itu, dengan posisi ini, umat Islam tidak perlu menurunkan atau merendahkan kewibawaan Islam, walaupun hanya diminta menyederhanakan terminologi-terminologi yang dianggap menyerang non-Islam seperti istilah kafir, musyrik, munafik, dan lain sebagainya, walaupun dengan dalih pluralisme, liberalisme, multikulturalisme, dan lain sebagainya. Yang hak dan batil tetaplah seperti apa yang disampaikan Al-Quran dan Sunnah, tak pernah berubah. Yang berbeda hanya penyampaiannya yang disesuaikan obyek dakwahnya, baik hikmah, maidzah hasanah, atau mujadalah yang lebih baik. [www.hidayatullah.com]

Penulis adalah peneliti INSISTS Malaysia

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !