Tafsir Misoginis dan Keotentikan Hadits Tafsir Perempuan

Dari segi sanad, Hadits tentang penciptaan perempuan dari tulang rusuk laki-laki itu itu bernilai shahihOleh: Kharis Nugroho*

Terkait

Salah satu konsep dalam Islam yang sering dipermasalahkan oleh kaum feminis adalah konsep penciptaan manusia. Mereka tidak setuju dengan hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa kaum Hawa tercipta dari tulang rusuk kaum Adam. Kaum feminis menilai bahwa Hadits ini mengandung unsur misoginik yang bisa mendiskreditkan kaum wanita. Hadits yang dimaksud adalah riwayat dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Nasihatilah perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk paling bengkok adalah bagian paling atas. Jika kau luruskan dengan paksa, ia akan patah. Dan jika kau biarkan, ia akan tetap bengkok. Karenanya, nasihatilah perempuan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Riffat Hasan, salah seorang tokoh feminis asal Pakistan, menyatakan bahwa Hadits yang secara eksplisit menyebutkan perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bernilai dhaif dari segi sanad karena dalam hadits tersebut terdapat empat perawi yang tidak dapat dipercaya. Empat perawi tersebut adalah Maisarah al-Asyja’i, Haramalah Ibn Yahya, Zaidah, dan Abu Zinad. Riffat mendasarkan penilaiannya itu kepada adz-Dzahabi dalam kitabnya Mizan al-I’tidal Fi Naqd ar-Rijal.

Dari segi matan, Riffat juga menyatakan bahwa Hadits ini tidak shahih karena bertentangan dengan ayat Al-Qur’an. Ia menilai Hadits tentang tulang rusuk ini bertentangan dengan konsep Al-Qur’an mengenai penciptaan manusia dalam bentuk terbaik (fi ahsani taqwim). Tetapi Riffat tidak menjelaskan secara detail tentang penafsiran fi ahsani taqwin sebagaimana ia gunakan dalil ini untuk melemahkan matan Hadits tentang tulang rusuk.

Sebelum menanggapi pernyataan Riffat Hasan ini, penulis ingin sedikit menjelaskan tentang bagaimana para ulama memandang akan hal ini. Di dalam Islam, para ulama sepakat bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam. az-Zamakhsyari, al-Alusi, dan Sa’id Hawa sepakat menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan nafs wahidah dalam surat an-Nisa ayat 1 adalah Adam, dan zaujaha adalah istrinya (Hawa). Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam yang sebelah kiri.

Argumen yang mereka kemukakan berdasarkan; pertama, lafadz min yang terdapat pada kalimat wakhalaqominha zaujaha adalah min tab’idhiyah, yang dengan demikian berarti Hawa diciptakan dari sebagian Adam. Kedua, berdasarkan Hadits Rasulullah SAW riwayat Bukhari Muslim yang menyebutkan secara eksplisit penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam. Para imam Hadits dan ahlinya dari dulu sampai sekarang juga sepakat akan keshahihan dan kedudukannya sebagai hujjah.

Menanggapi tentang pernyataan Riffat, menarik sekali apa yang ditulis oleh Prof. Dr. Yunahar Ilyas dalam tesis masternya yang meneliti tentang isu-isu feminisme dalam tinjauan tafsir Al-Qur’an, yang mana di dalamnya beliau meneliti secara detail tentang pernyataan Riffat Hasan terhadap Hadits tulang rusuk tersebut. Beliau menyatakan bahwa Riffat tidak teliti dalam merujuk kitab tersebut. Apabila ada nama perawi yang sama, seorang peneliti harus meneliti perawi mana yang dimaksud. Bisa dengan meneliti nama orang tuanya, nama keluarga, atau melihat siapa murid dan guru-gurunya. Sangat gegabah kalau hanya melihat nama yang sama lalu diputuskan dialah orang yang dimaksud. Sama, keempat perawi Bukhari dan Muslim tersebut tidak pernah didhaifkan oleh adz-Dzahabi, bahkan sebaliknya.

Maisarah yang didhaifkan oleh adz-Dzahabi adalah Maisaroh ibn Abd Rabbih al-Farisi, seorang pemalsu Hadits. Sedangkan Maisarohnya Bukhari dan Muslim adalah Maisarah ibn ‘Imarah al-Asyja’i al-Kufi, bukan yang didhaifkan oleh adz-Dzahabi. Begitu juga tentang Haramalah ibn Yahya oleh adz-Dzahabi sendiri sebelum namanya diberi kode ?? yang menurut muhaqqiq-nya kode itu menunjukkan bahwa nama yang berada di depan kode ini termasuk perawi yang tsiqqah. adz-Dzahabi sendiri menilainya sebagai salah seorang imam yang dipercaya.

Zaidah yang didhaifkan oleh Dzahabi adalah: 1. Zaidah ibn Salim yang meriwayatkan dari Imran ibn Umair, 2. Zaidah ibn ar-Riqad yang meriwayatkan dari Ziyad an-Numairi, dan 3. Zaidah lain yang meriwayatkan dari Sa’ad. Zaidah yang terakhir ini didhaifkan oleh Bukhari sendiri. Kalau Bukhari sudah mendhaifkan, mustahil dia akan tetap memakainya. Zaidahnya Bukhari dan Muslim adalah Zaidah ibn Qudamah ats-Tsaqafi, yang tidak didhaifkan oleh adz-Dzahabi. Sedangkan Abu Zinad perawi Bukhari dan Muslim adalah Abdullah ibn Zakwan yang oleh adz-Dzahabi sendiri dinilai Tsiqah Syahir. Padahal dalam al-jarh wa ta’dil ungkapan Tsiqah Syahir ini termasuk kepercayaan yang tinggi.

Dengan demikian dari segi sanad, Hadits tentang penciptaan perempuan dari tulang rusuk itu bernilai shahih. Lalu bagaimana tentang pernyataan Riffat bahwa matan Hadits ini bertentangan dengan Al-Qur’an terutama dengan ayat fi ahsani taqwim?

Maurice Bucaille dalam bukunya Asal Usul Manusia Menurut Bible, Al-Qur’an dan Sains mengartikan taqwim dengan mengorganisasikan sesuatu dengan cara terencana. Dengan pengertian seperti itu, ayat ini menjelaskan bahwa manusia telah diberi bentuk yang sedemikian terorganisasikan oleh kehendak Tuhan. Bentuk yg terorganisasi oleh kehendak Tuhan itu sangat selaras melalui adanya keseimbangan dan kompleksitas struktur. Oleh Bucaille, ayat ini dikaitkan dengan Surat al-Infithar ayat 7-8, yang artinya, Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.

Dari Uraian Bucaille di atas dapat disimpulkan bahwa penciptaan kaum Hawa dari tulang rusuk kaum Adam tidak bertentangan dengan konsep fi ahsani taqwim, karena konsep ini merujuk kepada bentuk tubuh manusia yang selaras setelah diciptakannya, bukan merujuk kepada dari apa dan bagaimana proses penciptaan itu terjadi. Oleh karena itu dari segi matan, Hadits tentang penciptaan perempuan dari tulang rusuk bernilai shahih dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an.

Dalam buku Sunnah di Bawah Ancaman karangan Dr. Daud Rasyid, masalah ini juga telah dibahas panjang lebar. Bahkan disebutkan di situ bahwa selain mengkritik sanad dan matan, Riffat juga menganggap Hadits kisah penciptaan perempuan dari tulang rusuk adalah dongeng. Tuduhan Riffat bahwa Hadits ini adalah dongeng, bukan saja tidak benar, melainkan juga telah menodai kesucian Hadits Nabi SAW. Selain itu Riffat juga melontarkan tuduhan terhadap Sahabat yang meriwayatkan Hadits ini dengan menyatakan bahwa Abu Hurairah dianggap sebagai Sahabat Nabi yang kontroversial oleh banyak ilmuwan Islam pada masanya, termasuk oleh Imam Abu Hanifah.

Ini adalah kebohongan dan penghinaan terhadap Sahabat Nabi dan sangat mirip dengan apa yang dilakukan tokoh inkarussunnah asal Mesir, yaitu Abu Rayyah dalam bukunya Al-Adhwa ‘ala as-Sunnah al-Muhammadiyah. Dari sinilah tampak bahwa kritik yang dilakukan Riffat berlatarbelakang atas kebencian yang mendalam dan emosi yang meluap-luap hingga mengatakan pernyataan sesuka hati tanpa didasari argumen yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dr. Daud Rasyid mengatakan juga dalam bukunya bahwa kritik Hadits yang dilakukan oleh Riffat ini lebih keras dari pada serangan yang dilancarkan oleh kaum orientalis. Dilatarbelakangi oleh kritik terhadap Hadits ini, sebuah lembaga sekuler Indonesia mengundangnya sebagai pembicara sebuah seminar dengan dukungan publikasi media yang gencar. Dari sinilah tampak ada sebuah konspirasi trans-nasional dalam menyebarkan virus-virus pemikiran di tubuh umat Islam. Hal ini tampak jelas ketika Riffat menutup makalahnya dengan menuliskan sebagai berikut:

“Melihat betapa pentingnya masalah ini, maka sangat perlu bagi setiap aktivis hak asasi perempuan Islam untuk mengetahui keterangan dalam Al-Qur’an bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan sama, telah diubah oleh Hadits. Dengan demikian, satu-satunya cara agar anak cucu perempuan (Hawa) dapat mengakhiri sejarah penindasan yang dilakukan oleh anak cucu Adam ini adalah dengan cara kembali ke titik mula dan mempertanyakan keshahihan Hadits yang menjadikan perempuan hanya makhluk kedua dalam ciptaan, tetapi pertama dalam kesalahan, dosa, cacat moral dan mental. Mereka harus mempertanyakan sumber-sumber yang menganggap mereka bukan sebagai dirinya sebagaimana seharusnya mereka ada, tetapi hanya alat untuk kepentingan dan kesenangan laki-laki…” (Ulumul Qur’an, no. 4, tahun 1990, hlm. 55)

Islam memandang perempuan tidak seperti apa yang digambarkan oleh Riffat dalam Hadits ini yang menurutnya bersifat misoginik. Kalau kita melihat bagaimana posisi perempuan pra-Islam, kita akan tahu bahwa Islam sangat memuliakan perempuan dan mengangkat kedudukannya dari kehinaan dan perbudakan yang tak terbayangkan pada masa umat-umat sebelumnya.

Dr. Abu Sarie Muhammad Abdul Hadi, dalam bukunya Wa ‘Asyiruhunna bil Ma’ruf menyatakan bahwa orang Arab pra-Islam bersedih dengan kelahiran anak perempuan, karena merupakan bencana dan aib bagi ayah dan keluarganya, sehingga mereka membunuhnya, tanpa undang-undang dan tradisi yang melindunginya.

Al-Qur’an juga telah mencatat sikap jahiliyah mereka terhadap perempuan dalam Surat An-Nahl ayat 58-59 yang artinya, “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” Demikianlah posisi perempuan dalam masyarakat sebelum Islam.

Ketika datang, Islam memuliakan, menjaga, dan memberi perempuan hak-hak yang tidak dinikmati sebelumnya. Allah mengakui hak sosial dan ekonomi perempuan serta memerintahkan mereka untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar seperti halnya laki-laki. Allah berfirman dalam Surat at-Taubah ayat 71 (yang artinya); “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar.”

Adapun pesan utama Hadits tentang tulang rusuk menurut hemat penulis adalah bagaimana seharusnya dan sebaiknya para suami memperlakukan istrinya, terutama metode memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan oleh istri. Apabila ingin meluruskan kesalahan-kesalahan, luruskanlah dengan bijaksana, jangan dengan kasar dan keras sehingga mengakibatkan perceraian, atau jangan pula dibiarkan saja isteri bersalah. Kemudian Rasulullah memanfaatkan penciptaan perempuan (Hawa) dari tulang rusuk yang bengkok untuk menjelaskan bahwa betapa laki-laki (suami) harus hati-hati dan bijaksana meluruskan kesalahan-kesalahan perempuan. Karena meluruskan kesalahan perempuan ibarat meluruskan tulang yang bengkok, kalau tidak hati-hati dan bijaksana bisa menyebabkan tulang itu patah.

Menurut Ibnu Hajar, mulut perempuan ibarat bagian atas tulang rusuk yang paling bengkok. Kalau suami tidak pandai-pandai menghadapi mulut isteri, tentu bisa menyebabkan perceraian. Dalam Fathul Bari juga ada riwayat lain yang secara eksplisit menyatakan bahwa yang dimaksud dengan patahnya tulang itu adalah perceraian. Jadi Hadits tentang perempuan diciptakan dari tulang rusuk sama sekali tidak mengandung unsur misoginik, sekalipun diciptakan secara berbeda, tetapi esensi kemanusiaan masing-masing tidak berbeda.[www.hidayatullah.com]

*)Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Isy Karima Karanganyar, Jawa Tengah

NB: foto ilustrasi diambil dari mymediajournal

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !