Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Pustaka

“Kicauan” Terbaru Salim A Fillah

Buku Karya Salim A Fillah
Bagikan:

SALIM A Fillah meluncurkan buku barunya, “Menyimak Kicau Merajut Makna”. Buku ini merupakan kumpulan “kicauan” penulis muda berbakat itu di Twitter. Bukan sekedar kicauan tentunya, melainkan kicauan yang sarat dengan makna. Coba simak salah satu “kicauannya”:

Jawaban terindah pada pemfitnah: “Jika kau benar, semoga Allah mengampuniku. Jika kau keliru, semogga Allah mengampunimu.”

Jawaban terbaik pada penghina dan pencela kehormatan: “Yang kaukatakan tadi sebenarnya adalah pujian; sebab aslinya diriku lebih mengerikan.”

Jawaban teragung pada caci maki dan kebusukan: “Bahkan walau ingin membalas, aku tak kuasa. Sebab aku tak punya kata-kata keji dan nista.”

Terjawablah pujian: “Moga Allah ampuni aib yang tak kautahu; tak menghukumku sebab sanjungmu; dan jadikanku lebih baik dari semua itu.”

Contoh ‘kicauan’ yang lain, “Aku takut atas amanah ini!” ujar Abdul Aziz setelah diangkat menjadi khalifah (presiden). “Yang kami takutkan justru kalau kamu tidak takut!” sahut Imam Asy Sya’bi.

Ada ratusan “kicauan” serupa. Bila kita sabar menyimaknya, akan menyegarkan jiwa yang dahaga.

Menurut Fanni Rahman, dari penerbit Pro U, Salim termasuk punulis yang punya karakter. Dia punya kemampuan menulis sama baiknya dengan bercerita. “Membaca tulisannya dia seperti mendengar orang bercerita,” katanya.

Di samping itu, masih kata Fanni, Salim kaya dengan kazanah ilmu keislamanan. Sehingga rujukan-rujukannya kuat.

Buku ini merupakan karya ke delapan dari penulis kelahiran Kulonprogo, Yogyakarta ini. Karyanya yang lain, di antaranya adalah Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan; Agar Bidadari Cemburu Padamu; Bahagianya Merayakan Cinta, Jalan Cinta Para Pejuang dan Dalam Dekapan Ukhuwah.

Bukunya Salim, kata Fanni yang selama ini menerbitkan karya-karyanya Salim, hampir semuanya best seller. Bahkan buku pertamanya, Nikmatnya Pacaran
Setelah Pernikahan, hingga kini naik cetak 18 kali.

Seraya bersyukur, Salim sendiri tetap rendah hati. Itu tercermin dari kata pengantar yang ia tulis pada buku Menyimak Kicau Merajut Makna. “Renungan (dalam buku) ini,” katanya, “lebih tepat ditelunjukkan pada diri (saya).” */Bambang S

Rep: Cholis Akbar
Editor: arief

Bagikan:

Berita Terkait

Menyerap Energi Shalat untuk Melahirkan Kekuatan Dahsyat

Menyerap Energi Shalat untuk Melahirkan Kekuatan Dahsyat

Pertarungan Sekularisme dan Iman

Pertarungan Sekularisme dan Iman

Gagasan Menjadikan Ka’bah sebagai Pengukur Waktu

Gagasan Menjadikan Ka’bah sebagai Pengukur Waktu

Politisasi Karbala?

Politisasi Karbala?

Menata Ulang Format Pendidikan Islam

Menata Ulang Format Pendidikan Islam

Baca Juga

Berita Lainnya