Selasa, 19 Oktober 2021 / 12 Rabiul Awwal 1443 H

Opini

Antara Mural dan Moral

mural
Bagikan:

Demo di jalanan terancam ditangkap karena bisa dianggap melanggar PPKM, kritik lewat mural pun kini dibayangi ancaman diciduk aparat

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

Hidayatullah.com | MURAL berasal dari kata “murus”, kata dari bahasa Latin yang berarti dinding. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mural berarti lukisan pada dinding. Mengutip Wikipedia, mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya.

Menurut imural.id, jika ditilik dari sejarah, mural telah ada sejak 31.500 tahun yang lalu tepatnya pada masa prasejarah. Pada masa itu terdapat sebuah lukisan yang menggambarkan sebuah gua di Lascaux yaitu daerah di Selatan Prancis. (Buku Diksi Rupa. Susanto, Mikke, 2002).

Itulah sekelumit sejarah mengenai mural, sebuah frasa kata yang sedang hangat dibahas publik negeri ini pasca viralnya penghapusan mural yang dilukis di Bangil dan Tangerang.   Kehebohan ini bahkan sempat menjadi perbincangan teratas (trending) di sosial media Twitter karena penghapusan mural berisi kritik tersebut dinilai berlebihan.

Setidaknya ada tiga kalimat pesan yang membuat panas telinga penguasa dalam mural-mural yang dihapus tersebut. Yakni, “Tuhan Aku Lapar”, “404 Not Found”, dan “Dipaksa Sehat Di Negeri Yang Sakit”.

Jika dikupas lebih dalam sebenarnya tiga kalimat itu memang mewakili perasaan mayoritas rakyat Indonesia saat ini. “Tuhan Aku Lapar” adalah bentuk ekspresi rakyat yang mulai kelaparan akibat pandemi yang tidak kunjung usai ini.

Lalu 404 Not Found, menurut news.com.au, 404 dalam dunia internet merupakan kode HTTP yang artinya laman tidak ditemukan alias kosong. Itu adalah cara internet untuk mengatakan bahwa anda telah mencapai jalan buntu.

Sang pelukis mural hendak memberi pesan berupa kritik bahwa tokoh yang wajahnya digambar dalam mural tersebut tidak ditemukan atau seandainya ia ada maka seolah-olah dia tidak ada. Penulis tidak mau berspekulasi mengenai siapa tokoh yang dimaksud si pelukis mural tersebut, biarlah publik meraba-rabanya sendiri.

Lalu yang ada di Bangil, bisa jadi kalimat “Dipaksa Sehat di Negeri yang Sakit” adalah sindiran si pelukis mengenai program vaksinasi yang digalakkan di tengah kesimpangsiuran informasi di ranah publik mengenai dampak yang ditimbulkannya. Atau bisa juga sarkasme itu ditujukan secara umum untuk menggambarkan keadaan masyarakat di tengah pandemi ini yang dipaksa harus selalu sehat di tengah kebijakan-kebijakan penguasa yang terkadang malah membuat rakyat “sakit”.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kini hati rakyat kian disakiti saat melihat ratusan TKA masuk ke Indonesia sedangkan pribumi disuruh diam di rumah tidak bisa kerja, bansos Covid-19 yang jadi hak rakyat malah dikorupsi, dan ada pula ketidakpekaan elite yang menghamburkan uang untuk berlomba memasang baliho meski pilpres masih tiga tahun lagi serta dihamburkannya uang rakyat senilai dua milyar hanya untuk mengecat peﷺat presiden, padahal dana tersebut bisa lebih bermanfaat jika dibelokkan pengalokasiannya untuk rakyat.

Keadaan yang carut-marut inilah yang bisa jadi melandasi mural-mural itu diciptakan.  Apakah baru kali ini saja penguasa dikritik lewat mural.

Nampaknya tidak, sebab di zaman rezim-rezim sebelumnya ternyata juga sudah ada bentuk kritik publik kepada penguasa yang disalurkan lewat seni mural namun bedanya saat itu mereka tidak diciduk aparat dan karyanya tidak dihapus. (https://bisnis.com/kabar24/read/20210814/15/1429752/kritik-presiden-lewat-mural-jalanan-dari-soeharto-gus-dur-hingga-sby).

Maka wajar saja jika publik menyayangkan sikap aparat yang merusak mural-mural itu dan bahkan memburu pembuatnya. Bukankah Indonesia selalu mengagungkan nilai demokrasi dimana kebebasan berpendapat diperbolehkan asal masih dalam batas kewajaran. Apa yang dilakukan oleh para aparat tersebut tentu mencoreng muka demokrasi Indonesia. Dan tentunya mencederai moral publik.

Sejarawan JJ. Rijal bahkan mengatakan dalam cuitannya, “Seperti halnya laskar, maka mural setelah proklamasi kemerdekaan 17.8.45 adalah penanda bahwa rakyat benci terhadap kolonialisme apa pun bentuknya. Menghadapi mural dengan cara-cara kolonial di bulan Agustus adalah seburuk-buruknya mengenang kemerdekaan 17.8.45”. (Twitter JJ Rijal, 16 Agustus 2021, pukul 07.05 AM).

Pernyataan JJ Rijal itu bisa dibuktikan saat kita melihat foto-foto jaman dulu di kota-kota besar Indonesia kala masa revolusi. Begitu banyak bertebaran mural di sudut-sudut kota. Tulisan Merdeka atau mati, Indonesia merdeka dll yang merupakan bentuk ekspresi rakyat dalam menentang kesewenang-wenangan kolonial tentu merupakan pemandangan biasa di tiap sudut kota saat itu.

Hari ini rakyat hanya ingin mengungkapkan aspirasinya lewat cara yang mereka bisa. Sebab kepanjangan telinga mereka (wakil rakyat) dirasa sudah mulai mengalami ketulian atau setidaknya sudah memakai sumbatan telinga permanen. Hendak bersuara di media sosial rakyat takut kena UU ITE dan gonggongan BuzzeRp.

Demo di jalanan terancam ditangkap karena bisa dianggap melanggar PPKM, kritik lewat mural pun kini dibayangi ancaman diciduk aparat. Padahal kritik mereka juga tidak keluar dari batasan yang melanggar moral. Malahan para elite politik lah yang lebih sering melakukan kelakuan dan kebijakan yang amoral kepada rakyat.

Konon kritik adalah suatu hal yang biasa bahkan wajib adanya dalam kehidupan di negara Demokrasi. Bahkan ada sebuah pepatah mengatakan,

النقد صابون القلوب.

“Kritik adalah sabun hati”

Adakah orang bersih dari kesalahan dan dosa di dunia ini. Tentu tidak ada. Apalagi para pemegang kebijakan negara tentu peluang mereka berbuat salah sangat besar.

Maka kritik sangat dibutuhkan agar hati mereka bersih supaya bisa mendengar suara hati rakyat. Namun jika penguasa sudah merasa paling benar dan membungkam suara yang berbeda dengan mereka, maka hanya satu jalan yang bisa kita tempuh yakni sabar dan berdoa kepada Allah.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS:  Al Baqarah: 45).

Semoga segala keluh kesah rakyat bisa disikapi dengan bijak oleh para pemegang kebijakan negara. Kritik rakyat adalah sebuah bentuk tanggung jawab moral dan kontrol sosial yang wajar belaka demi kebaikan negara ini. Dan mural adalah salah satu media penyampainya. Wallahu A’lam Bis Showab.*

Tinggal di Pasuruan

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Bagaimana Erdogan Membangun Turki dan Menumbangkan Sekulerisme? [2]

Bagaimana Erdogan Membangun Turki dan Menumbangkan Sekulerisme? [2]

Pembunuhan Pasukan Penjajah Atas Warga Sipil Afghanistan “Selalu Ditutupi”

Pembunuhan Pasukan Penjajah Atas Warga Sipil Afghanistan “Selalu Ditutupi”

Jokowi, Hebohisme dan Ironi-ironi

Jokowi, Hebohisme dan Ironi-ironi

Ètienne de Silhouette, Seolah Lahir Kembali

Ètienne de Silhouette, Seolah Lahir Kembali

Dunia Islam Sudah Berubah

Dunia Islam Sudah Berubah

Baca Juga

Berita Lainnya