Senin, 29 November 2021 / 23 Rabiul Akhir 1443 H

Opini

Membaca Niat Tersembunyi Rezim China di Afghanistan

China afghanistan
Bagikan:

Oleh: Pizzaro Gozali Idrus

 

Hidayatullah.com | DELEGASI  Taliban melakukan kunjungan ke China pada 28 Juli lalu dalam rangka melakukan perbincangan mengenai situasi di Afghanistan. Dalam kesempatan itu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan Taliban memiliki peran penting dalam proses perdamaian, rekonsiliasi, dan rekonstruksi Afghanistan.

Wang juga menyerang AS dengan menyebut penarikan pasukan AS dan NATO dari Afghanistan menunjukkan kegagalan kebijakan AS terhadap Afghanistan. Banyak warga Afganistan optimistis bahwa meningkatnya hubungan diplomatik dan ekonomi dengan China akan membawa perdamaian di negara yang dikoyak perang itu.

Taliban pun tahu bahwa ini murni sebagai pendekatan strategis untuk mendapatkan dukungan dari global power untuk merintangi kekuasaan AS. Pertemuan intens Taliban-China ini bisa dikatakan menjadi sejarah bagi diplomasi negara Tirai Bambu.

Meskipun China berbagi perbatasan sepanjang 76 km dengan Afghanistan, hubungan dengan Kabul tidak pernah setinggi ini sampai AS membentuk kehadiran militer di sana setelah serangan 11 September 2001. Bahkan setelah itu, China terus menghindari keterlibatan besar dalam urusan Afghanistan untuk waktu yang lama.

Namun, ketika mantan Presiden AS Barack Obama memutuskan untuk menarik pasukan dari Afghanistan pada tahun 2011, Beijing mulai meningkatkan keterlibatannya dengan Kabul. Setelah itu, China mulai memfasilitasi rekonsiliasi antara pemerintah Afghanistan dan Taliban. China juga menjadi tuan rumah Proses Istanbul di Beijing pada Oktober 2014.

Memastikan Proyek Ekonomi

Di balik “permukaan”, kepentingan China untuk terlibat dalam upaya resolusi konflik ini adalah ekonomi. Afghanistan memiliki cadangan sumber daya alam terbesar di dunia yang belum dieksploitasi seperti tembaga, batu bara, kobalt, merkuri, emas, dan lithium, senilai lebih dari 1 Triliun USD.

China saat ini juga merupakan investor asing terbesar di negara tersebut bersaing dengan India. Oleh karena itu, stabilitas Afganistan adalah kunci keberhasilan proyek-proyek utama China di Asia Selatan dan Tengah.

Koridor Ekonomi China-Pakistan adalah proyek unggulan China di kawasan itu dan kedua negara ingin melibatkan Afghanistan melalui jalur jalan raya dan kereta api. Oleh karena itu, China bersama Pakistan menekan koridor ekonomi (CPEC) yang merupakan bagian dari Belt Road Iniative (BRI). Inisiatif ini dibentuk sejak tahun 2013.

CPEC tidak hanya akan menguntungkan China dan Pakistan tetapi akan berdampak positif juga bagi Afghanistan, dan kawasan. China juga berkepentingan menggandeng Pakistan minimal pada dua hal: merintangi manuver ekonomi India di kawasan dan memastikan Taliban Pakistan tidak menyerang proyek CPEC.

Pakistan adalah sekutu China yang paling kuat dan China akan sangat bergantung pada Pakistan untuk memastikan proyek-proyeknya di Afghanistan dan secara regional aman. Itu sebabnya China telah menekan Pakistan untuk meyakinkan Taliban untuk lebih fleksibel, seperti yang dimanifestasikan oleh saran Wang bahwa “China dan Pakistan harus terus memperkuat strategi koordinasi untuk memberikan pengaruh yang lebih positif pada proses perdamaian di Afghanistan.”

Mengunci India

Deal yang disepakati China dan Pakistan bernilai 46 miliar USD (Rp662 triliun) atau setara dengan 20 persen dari PDB Pakistan. Oleh karena itu, alih-alih menjadi konflik antara Taliban dan Afghanistan an sich, situasi di negara Asia Tengah itu telah berubah menjadi pertarungan kawasan dengan melibatkan aliansi Rusia-China dan AS-India.

Kepentingan geopolitik inilah yang menjadi faktor kedua masuknya China ke Afghanistan. Jika Afghanistan tidak stabil, kondisi ini berimbas kepada koridor Belt Road Iniative yang membuka peluang bagi India untuk menguasai kawasan. Dengan demikian, ikhtiar minimal China adalah jangan sampai instabilitas Afghanistan membuka celah masuknya pesaing utama di kawasan.

Sejak invasi AS pada 2001, India mencoba menanamkan pengaruh di Afghanistan. Sejauh ini New Delhi sudah mengucurkan dana bantuan rekonstruksi senilai  3 miliar USD atau setara Rp43,1 triliun yang merupakan terbesar di kawasan.  Pada November 2020, India mengumumkan 150 proyek baru senilai 80 juta USD di Afghanistan.

Bahkan sebelum berkuasa, para penguasa saat ini dan para penguasa di Kabul memiliki hubungan kuat dengan India. Baik itu Presiden Ashraf Ghani, mantan kepala eksekutif Abdullah Abdullah, atau mantan presiden Hamid Karzai, semua telah tinggal di India selama bertahun-tahun di beberapa titik dalam kehidupan mereka.

Di sinilah kemudian, India masuk untuk turut melakukan negosiasi dengan berbagai pihak, termasuk Taliban. Dengan militer AS dan NATO dalam tahap akhir menarik pasukannya pada 11 September, India bersiap untuk masa-masa yang penuh gejolak.

Ongkos mahal yang sudah dikeluarkan India tidak akan mereka biarkan begitu saja untuk membiarkan aliansi China-Pakistan menguasai Afghanistan.

Mengelola Keamanan Perbatasan

Faktor ketiga adalah mengelola keamanan di kawasan. Bagi China, Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM), yang didirikan di Pakistan tahun 1997, merupakan ancaman bagi negaranya dan telah ditetapkan China sebagai kelompok “teroris”. Hal inilah yang membuat Beijing sangat murka saat Washington menghapus ETIM dari daftar kelompok teror.

Sebaliknya, penghapusan ETIM dari daftar teroris oleh disambut duka cita oleh komunitas Uyghur. Mereka mengatakan langkah yang diambil pemerintah Amerika pada November lalu itu membantu kelompok minoritas agama untuk dapat memperjuangkan hak-hak secara lebih efektif.

Menurut laporan Dewan Keamanan PBB baru-baru ini, ETIM memiliki sekitar 500 pejuang di Afghanistan utara, sebagian besar terletak di provinsi Badakhshan, yang berbatasan dengan Xinjiang di China melalui Koridor Wakhan. Sebagian besar Badakhshan sekarang berada di bawah kendali Taliban.

Taliban secara tradisional memiliki hubungan dekat dengan ETIM dan tidak mengizinkan kelompok manapun menjadikan Afghanistan untuk menyerang negara lain. “Ini adalah komitmen kami di bawah perjanjian Doha. Kami mematuhi kesepakatan itu,” kata jubir Taliban Suhael Saheen.

Terlepas dari pembahasan di atas, situasi di Afghanistan sangat kompleks. Perubahan eskalasi politik bisa sangat berpengaruh terhadap situasi di lapangan.

Sebagaimana dikatakan juru bicara Taliban Mohammad Naeem kepada Anadolu Agency terkait perjanjian dengan AS: “Jika salah satu pihak tidak mematuhi kewajibannya, itu berarti melanggar perjanjian itu sendiri, dan begitulah syaratnya.”

Pesan tersebut juga dapat berlaku kepada China.*

Penulis wartawan Anadolu Agency 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Suu Kyi Bukan Pahlawan Rohingya [1]

Suu Kyi Bukan Pahlawan Rohingya [1]

Sampai Kapan Sang Penista Bebas?

Sampai Kapan Sang Penista Bebas?

Miss World, Kemuliaan Wanita dan Brain Wash

Miss World, Kemuliaan Wanita dan Brain Wash

Amerika dan Pampasan Perang

Amerika dan Pampasan Perang

Membaca Arah Koalisi PKS

Membaca Arah Koalisi PKS

Baca Juga

Berita Lainnya