Ahad, 26 September 2021 / 18 Safar 1443 H

Opini

Tujuh Rahmat Allah dalam Covid-19

Bagikan:

oleh: Muh. Zaitun Rasmin

Hidayatullah.com | Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Kalimat tersebut disampaikan secara kontinyu dalam medsos, seiring banyaknya ulama yang meninggal akibat Covid-19 pada beberapa pekan terakhir. Bagi orang beriman, pandemi covid merupakan ujian dari Allah swt. yang patut disikapi secara bijak. Meskipun diliputi kesulitan, kita wajib menjauhkan diri dari pesimisme.

Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. al-Insyirah : 5 – 6).

Allah swt. juga berfirman, “(Dia) yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia maha perkasa, maha pengampun.” (QS. al-Mulk : 2).

Berdasarkan ayat tersebut, kita dimotivasi oleh Allah swt. apapun keadaan kita, susah maupun senang, untuk tetap berbuat kebaikan, bahkan menghasilkan karya terbaik yang bermanfaat bagi umat manusia, dan tentunya karya yang tidak bertentangan dengan petunjuk-Nya.

Sebagai orang beriman, kita dituntut untuk terus optimis, husnuzan terhadap takdir-Nya, berkaitan dengan munculnya pandemi covid. Karena dengan optimisme, kita akan dirahmati Allah swt.

Rasulullah ﷺ. bersabda “(Pandemi) thaun adalah azab yang dikirim Allah bagi siapa pun yang Dia kehendaki, dan Allah menetapkan (thaun) sebagai rahmat bagi orang beriman.” (HR. Bukhari No. 3474).

Ada banyak rahmat dari Allah swt. yang dapat dirasakan oleh kita sebagai orang beriman di masa pandemi covid. Namun dalam tulisan ini hanya disebutkan tujuh saja:

Pertama, mendapatkan pahala mati syahid. Munculnya pandemi covid merupakan rahmat Allah swt. yang dapat dimanfaatkan agar kita memperoleh pahala syahid. Tentu saja kita tidak harus mati terkena covid agar bisa diberi pahala syahid oleh Allah swt. Kita bisa mendapatkan pahala syahid meskipun ditakdirkan selamat dari pandemi tersebut. Asalkan petunjuk dari Allah swt. dan rasul-Nya dipedomani dalam menghadapi pandemi. (al-Asqalani).

Rasulullah ﷺ. bersabda, “Barangsiapa yang ketika thaun menjangkiti, lantas ia tetap berada di negerinya dengan sabar dan ridha, juga tahu (yakin) bahwa tidak ada (apapun) yang (dapat) menimpanya kecuali (apa yang telah) ditetapkan Allah baginya, (maka) baginya seperti pahala syahid.” (HR. Bukhari No. 3474).

Kedua, meningkatkan keharmonisan rumah tangga. Munculnya pandemi covid di satu sisi merupakan rahmat yang diberikan Allah swt. kepada kita, agar bisa memiliki waktu luang bagi keluarga. Mengapa demikian?

Sejak covid melanda negara ini, pemerintah sering memberlakukan lockdown (kini namanya PPKM) yang relatif lama, agar pandemi dapat dikendalikan, bahkan diminimalisir. Saat-saat lockdown itulah, kita bisa melakukan WFH (work from home) sambil menemani, mengasuh, dan mendidik anak-anak kita, yang juga bersekolah di rumah secara daring.

Selain itu, lockdown juga dapat dimanfaatkan untuk lebih banyak mengisi waktu bersama istri kita. Sehingga keharmonisan rumah tangga dapat lebih ditingkatkan. Hak-hak lahir dan batin keluarga sesuai petunjuk Allah swt dan rasul-Nya bisa diberikan secara lebih maksimal ketika lockdown.

Dalam sebuah Hadits, Rasulullah ﷺ. membenarkan Salman al-Farisi ra. yang berkata, “Sesungguhnya bagi Rabb-mu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.” (HR. Bukhari No, 1968).

Ketiga, memaksimalkan teknologi informasi. Setelah pandemi covid melanda, kita menjadi sadar tentang kedahsyatan teknologi informasi yang dapat dimanfaatkan untuk mempermudah berbagai aktivitas, tugas, pekerjaan, maupun urusan kita. Contohnya adalah aplikasi yang kini banyak dipakai orang dari seluruh dunia, Zoom.

Dalam dunia dakwah, Zoom telah memudahkan mereka untuk dapat bersilaturahim secara daring, sambil musyawarah membahas masalah-masalah keumatan maupun kebangsaan, meskipun tidak didukung anggaran yang besar, sebagaimana yang berlaku pada pertemuan offline. Apalagi Zoom dianggap telah memenuhi dua kriteria umum silaturahim, yaitu saling melihat wajah serta saling mengatakan dan mendengarkan antar pelaku komunikasi.

Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. al-Insyirah : 5 – 6).

Keempat, mendekatkan diri kepada Allah swt. Selama 1,5 tahun terakhir ini, sudah banyak orang yang diserang covid, dan tidak sedikit di antara mereka meninggal. Orang beriman menjadi sadar, dan segera mendekatkan diri kepada Allah swt. agar diselamatkan dari akhir su’ul khatimah. Mereka ber-muhasabah untuk segera kembali mendekat kepada Allah swt. dengan cara menghentikan maksiat, memperbanyak ibadah, serta beramal mulia lainnya yang diridhai-Nya. Dengan demikian, pandemi covid dapat menjadi wasilah turunnya rahmat yang patut disyukuri. Karena kebahagiaan hakiki bagi orang beriman adalah bisa bertaubat dan mensucikan diri, untuk mendekat kepada-Nya.

Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. al-Baqarah : 222).

Kelima, mendapatkan ampunan Allah swt. Tidak bisa dipungkiri, munculnya pandemi telah melahirkan berbagai kesusahan dan kesedihan di tengah masyarakat. Seperti pekerja sektor informal yang kesulitan mencari nafkah di luar rumah karena lockdown, karyawan yang di-PHK karena perusahaan bangkrut di masa pandemi, hingga warga yang keluarganya diserang covid hingga sakit kritis, bahkan meninggal dunia.

Bagi orang beriman, semua kesusahan dan kesedihan itu hendaknya dihadapi dengan ikhlas. Sebab Allah swt. menjanjikan ampunan-Nya bagi mereka yang dilanda musibah.

Rasulullah ﷺ. bersabda, “Tidaklah menimpa seorang mukmin (beriman) rasa sakit yang terus-menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari No. 5641)

Keenam, memperkuat persaudaraan dan persatuan. Harus diakui, selama beberapa lama ini banyak terjadi clash antar kelompok di masyarakat karena perbedaan latar belakang. Namun setelah dilanda pandemi covid, kita merasakan hubungan mereka menjadi fluid, untuk bahu-membahu menghadapi dan menanggulangi pandemi tersebut.

Mereka saling bekerjasama menolong orang-orang yang diserang covid, ataupun saling membantu secara materi bagi orang-orang yang terkena dampak sampingan dari adanya pandemi, seperti  karyawan yang di-PHK, serta pengusaha yang pailit. Fenomena ini akhirnya dapat memperkuat persaudaraan dan persatuan, yang patut disyukuri. Karena jika sebelumnya antar kelompok masyarakat sempat ‘dihantui’ ketidakharmonisan, maka rahmat Allah swt. melalui covid membuat masyarakat memiliki kasih sayang dan terjalin persaudaraan.

Rasulullah ﷺ. bersabda, “Para pengasih dan penyayang dikasihi dan disayang oleh Al-Rahman, rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yang ada di langit (Allah).” (HR. Abu Dawud No. 4941).

Ketujuh, meningkatkan kesabaran. Rahmat Allah swt. akan diberikan kepada orang beriman yang sabar, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar lah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. al-Zumar : 10).

Kesabaran direalisasikan orang beriman dalam wujud ikhlas, ikhtiar, dan tawakkal. Ikhlas artinya rela, tidak berkeluh-kesah, serta tidak emosional ketika diberi ujian oleh Allah swt. Ikhtiar artinya tidak menyerah dan berusaha bersungguh-sungguh melakukan tindakan-tindakan yang menjadi penyebab diberikannya jalan keluar oleh Allah swt. Dan tawakkal artinya menyerahkan sepenuhnya hasil dari ikhlas dan ikhtiar yang telah dilakukan kepada Allah swt.

Dalam melakukan ikhtiar, hendaknya kita mengikuti petunjuk dari pihak-pihak yang kredibilitas, kapasitas, serta kapabilitasnya diakui secara mutawatir. Dalam menghadapi ujian pandemi covid ini, pihak yang memiliki ketiga hal tersebut secara mutawatir adalah pemerintah.

Ketika pemerintah meminta kita melakukan prokes, menjaga asupan gizi, serta tindakan-tindakan lainnya yang secara mutawatir fakta maupun bahasan ilmiahnya telah dibuktikan mampu dalam pengendalian covid, maka permintaan tersebut wajib ditaati. Sebab dengan ikhtiar yang sesuai petunjuk tersebut, mudah-mudahan menjadi wasilah datangnya takdir yang baik dari Allah swt. sehingga pandemi covid dapat segera ditanggulangi dengan baik. Wallahua’lam.*

Penulis adalah Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Pusat. Tulisan ini diadaptasi dari materi taushiyah penulis pada acara doa umat untuk bangsa, yang diselenggarakan secara daring oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, pada Jumat, 16 Juli 2021

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Ambigu BNPT di Tengah Desakan Pembubarkan Densus

Ambigu BNPT di Tengah Desakan Pembubarkan Densus

Kenapa Tidak Sekalian Saja 4 Periode

Kenapa Tidak Sekalian Saja 4 Periode

Antisipasi: Mencegah ‘Makar PKI’

Antisipasi: Mencegah ‘Makar PKI’

Empat Hal Yang Bisa Dilakukan untuk Rohingnya

Empat Hal Yang Bisa Dilakukan untuk Rohingnya

Konsep Pendidikan Islam; Karakter Saja Tak Cukup

Konsep Pendidikan Islam; Karakter Saja Tak Cukup

Baca Juga

Berita Lainnya