Senin, 27 September 2021 / 20 Safar 1443 H

Opini

Euro 2020, dan Kelompok Pelangi yang Mewarnai

Bagikan:

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | PESTA  akbar sepak bola Eropa, tidak saja disambut meriah bergema hanya di Eropa saja, tapi juga menghipnotis warga belahan dunia lain termasuk di +62. Bersamaan dengan itu pesta sepak bola Amerika Latin, Copa America 2021, pun sedang berlangsung. Memang gemanya tidak segemerlap Euro 2020, tapi dua raksasa sepak bola dunia memang dikuasi dua benua itu, Eropa dan Amerika belahan Selatan (Latin).

Pesta akbar Euro 2020 itu dilaksanakan di tengah dunia sedang “berperang” melawan pandemi Covid-19. Meski di beberapa negara Eropa yang ketempatan sebagai pelaksana adalah negara yang dianggap berhasil menekan penyebaran virus itu. Tentu itu tetap punya risiko penularan cukup besar. Tapi tidak menyurutkan penggemar untuk hadir menyaksikan langsung negaranya bertanding, meski itu diselenggarakan di negara lain.

Tidaklah perlu mengulas hasil pertandingan dan lalu memprediksi siapa yang akan bertemu di final, dan lalu keluar sebagai juara. Bola bundar, dan karenanya prediksi sering tidak tepat, sehingga hasil pertandingan jauh dari perkiraan. Ditambah tidak punya kemampuan menganalisa kesebelasan setiap negara yang bertanding. Serahkan semua pada ahlinya, jika ingin mendapatkan hasil sesuai, meski dalam sepak bola hasil prediksi tidak selalu tepat.

Perang antar negara yang bertanding di Euro 2020 ini, bukan saja “perang” dalam pertandingan sepak bola, tapi juga perang antarnegara yang pro dan anti pelangi. Tentu bukan pelangi pelangi alangkah indahmu… lagu anak-anak yang bisa dihafal di luar kepala. Tapi pelangi sebagai simbol kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender).

Eropa terpecah pada dua perlakuan yang tidak sama terhadap kelompok pelangi ini. Sebagian besar memberi tempat tumbuh subur pada kaum pelangi, bahkan dikuatkan oleh kebijakan negara yang melegalkannya. Dan itu lebih pada negara-negara Eropa blok Barat, itu jika mengacu perang dingin Eropa yang terbagi dua blok, Barat dan Timur. Dikenal Eropa Barat dan Eropa Timur.

Dua blok ini menginduk atau dalam kendali Amerika Serikat (AS), itu untuk Eropa Barat. Sedang Eropa Timur menginduk pada Uni Soviet  (sebelum berubah menjadi Rusia). Perang dingin ini lumat saat Uni Soviet dipimpin Presiden Mikhail Gorbachev (1990-1991), yang terkenal dengan Glasnost (keterbukaan) dan Perestroika (restrukturisasi). Politik keterbukaan dan restrukturisasi Uni Soviet itu meruntuhkan dominasinya, yang kemudian beberapa negara yang ada dalam “pelukannya” memisahkan diri. Begitu pula negara-negara blok Eropa Timur pun memisahkan diri dari Soviet dan berjalan sendiri-sendiri.

Manuel Neuer, kapten kesebelasan Jerman di Euro 2020, dengan ban kapten pelangi di lengannya

Seiring itu bisa dilihat, bahwa orientasi seksual negara-negara eks blok Eropa Timur, lebih bersikap konservatif dalam menjaga tradisi, budaya dan sentuhan (bisa jadi) agama, sehingga orientasi seks itu dipegang dengan sewajarnya. Sedang pada negara-negara blok Eropa Barat, orientasi seks lebih longgar bahkan liar layaknya binatang. Maka kelompok LGBT mendapat tempat dan menjadi subur, seolah orientasi seks yang tidak sewajarnya itu dianggap hal biasa, negara hadir melegalkan.

Dukungan Pengusaha Yahudi

Hungaria pada babak penyisihan dijamu Jerman di Munich. Saat pertandingan akan berlangsung ada permintaan dari Dewan Kota Munich pada UEFA, akan menerangi lapangan sebelum pertandingan dengan sinar warna pelangi. Permintaan itu ditolak, karena berbau politik.

Hungaria adalah negara di Eropa yang paling keras tidak memberi tempat pada LGBT, yang dianggap sebagai orientasi seks menyimpang. Itu dikuatkan dengan Undang-undang, yang melarang di sekolah-sekolah dasar dan menengah pelajaran berkenaan dengan orientasi seks tidak sewajarnya.

Langkah Hungaria ini digugat oleh negara-negara Eropa lainnya, dianggap negara yang tidak menghormati hak asasi pilihan orientasi seks warganya. Dan keberadaan Hungaria sebagai bagian dari Uni Eropa dipermasalhkan. Beberapa negara pendukung LGBT di Eropa, yang paling keras menyerang Hungaria adalah Belanda.

Maka perang pernyataan antara Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, dengan Perdana Menteri Hungaria, Victor Orban, tidak bisa dihindari. Mark Rutte, mengatakan bahwa kebijakan itu, kebijakan melarang pendidikan LGBT diberikan pada siswa, tidak sejalan dengan semangat dan nilai keberagaman Uni Eropa.

Victor Orban lalu menanggapinya dengan pernyataan tegas, “Belanda bersikap sok kuat soal isu tersebut, itu dipengaruhi latar belakang kolonialisme negeri itu.” Hantaman telak Orban itu, adalah sikap negerinya yang tidak bisa ditakut-takuti dengan perangai kolonialis.

Langkah Hungaria itu dudukung Polandia dan juga Republik Ceko, yang berpandangan sama tentang orientasi seks menyimpang. Bahkan Presiden Ceko, Milòs Zeman menyebut laku LGBT itu menjijikkan. Perang antarnegara kelompok pendukung dan kontra LGBT entah sampai kapan berlangsung, dan siapa pemenangnya itu yang patut diprediksi.

Siapa pemenang dari dua kubu antara yang pro dan kontra LGBT itu nantinya, tampaknya lebih mudah untuk diprediksi. Ketimbang memprediksi siapa pemenang pertandingan sepak bola antarsatu negara dengan negara lain di Euro 2020 ini.

Sebagian besar negara Eropa saat ini memberikan tempat tumbuh subur pada LGBT. Ditambah kecenderungan kekuatan politik besar memaksa negara lain yang masih kekeh menolaknya dengan ancaman dan tekanan ekonomi. Kelompok LGBT yang kekuatannya telah mencengkeram sebagian besar negara Eropa ini akan memaksakan agar kelompoknya bisa diterima diseluruh negara Eropa, itu akan terus diupayakan dengan segala cara.

Sampai kapan Hungaria mampu bertahan menolak LGBT, tentunya dari gempuran kelompok pelangi yang menyebarkan ideologi sesatnya ini secara massif. Ideologi yang didalangi pengusaha besar atau konglomerat yahudi, khususnya yahudi Amerika. Dan itu lewat donasi yang tidak kecil dalam pengembangan keberadaan LGBT Internasional.

Sturbuck saja tiap tahun memberikan donasi milyaran dollar untuk LGBT. Dan di stadion tertentu tampak iklan Volkswagen (VW) di pinggir lapangan dengan warna dasar pelangi, menunjukkan dukungan perusahaan itu pada LGBT. Belum dari berratus perusahaan multinasional lainnya milik yahudi yang menggelontorkan sekian persen dari devidennya untuk kelompok dengan orientasi seks menyimpang.

Maka dengan kekuatan finansial yang besar, mereka bisa mengatur kebijakan suatu negara yang tabu dengan LGBT. Lobi-lobi pada pengambil kebijakan di suatu negara anti LGBT itu akan terus diupayakan dengan sungguh-sungguh. Akhirnya uanglah yang akan berbicara dan menyumpal otak politisi kotor untuk tujuan menggoalkan kebijakan yang pro pada LGBT. Dan, ini tidak mustahil akan sampai ke negara kita.

Dan itu jika masih ada muslim yang menolak demokrasi yang dianut di negeri ini, dan lalu tidak mengambil hak suaranya untuk memilih wakil rakyat di parlemen. Maka sejatinya ia bagian dari kelompok yang memberi jalan munculnya kebijakan-kebijakan busuk dari partai yang diisi politisi kotor, meski itu sebenarnya hal yang tidak disadarinya.

Kelompok Pelangi yang mewarnai Euro 2020 ini, tidak akan berhenti di sana. Gerakan kelompok ini akan terus bergerak memasuki semua ranah, dan dengan dalih persamaan hak atas orientasi seks individu yang mesti dilindungi negara. Tidak mustahil dalam satu atau dua dekade yang akan datang, parlemen kita bisa jadi akan mengesahkan kebijakan melegalkan LGBT. Tidak ada yang tidak mungkin. Itu jika umat tidak mempersiapkan diri mampu untuk menolaknya, dan penguasaan parlemen dan memilih Presiden yang punya visi agama yang baik, setidaknya itu salah satu cara menangkal kelompok pelangi yang keberadaannya dikutuk dalam berbagai Kitab Suci… Wallahu a’lam. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca: artikel lain Ady Amar

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Agama

Agama

Umat Islam jangan Latah Mengeluarkan Sebutan “Teroris”

Umat Islam jangan Latah Mengeluarkan Sebutan “Teroris”

Tak ada Lagi Alasan Terima Acara Miss World

Tak ada Lagi Alasan Terima Acara Miss World

Ètienne de Silhouette, Seolah Lahir Kembali

Ètienne de Silhouette, Seolah Lahir Kembali

Merefleksikan Kembali Sila Pertama Pancasila di Masa Pandemi Covid-19

Merefleksikan Kembali Sila Pertama Pancasila di Masa Pandemi Covid-19

Baca Juga

Berita Lainnya